ArtikelOpini

Literasi Perpustakaan

Bagikan:

Oleh Hamidulloh Ibda

Era digital menyeret akademisi untuk mengonsumsi “buku digital” atau e-book. Selain praktis, mudah dibawa, namun e-book juga mudah disimpan di komputer. Kondisi era modern seperti ini mengharuskan kaum akademik untuk bergeser mengikuti zaman.

Buku digital memang menjadi hal praktis untuk menyimpan data dan materi kuliah. Namun, apakah kita harus meninggalkan buku dan tak berkunjung ke perpustakaan? Tentu tidak. Inilah yang harus menjadi motivasi para pustakawan untuk menggali “inovasi” dan mengemas perpustakaan agar menarik minat mahasiswa.

Pergeseran

Saat ini, banyak pergeseran akibat pengaruh globalisasi. Ironisnya, perpustakaan menjadi sepi pengunjung, baik dari warga kampus maupun masyarakat pada umumnya. Apalagi, saat ini semua serba “digital” dan “praktis”. Inilah pemicu kaum intelektual enggan berkunjung ke perpustakaan.

Selain itu, fungsi perpustakaan sebagai tempat membaca juga mengalami pergeseran. Dulunya, tempat ini menjadi surga membaca para kutu buku, mencari referensi, diskusi, bedah buku, dan sebagainya. Namun, saat ini perpustakaan justru hanya digunakan sebagai tempat nongkrong, pacaran, dan aktivitas lain. Apalagi, di perpustakaan yang tersedia hot spot area, pasti disalahgunakan mahasiswa hanya untuk internetan dan facebookan.

Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena kondisi perpustakaan itu “kurang asyik” dan “tak nyaman” bagi pengunjung. Sehingga, tujuan mereka ke tempat itu bukan untuk menambah khazanah ilmu. Akan tetapi, mereka hanya sekadar beristirahat sejenak setelah beraktifitas.

Di benak kita, perpustakaan memang tempat ilmiah, penuh dengan buku, jurnal, skripsi,  dan karya ilmiah. Sehingga, kita enggan berkunjung ke lokasi tersebut karena kondisinya terkesan “spaneng”. Hal ini juga menyebabkan mahasiswa bergeser menggunakan cara praktis. Butuh referensi, data, dan pengetahuan, mereka tinggal buka internet. Maka, terpenuhilah kebutuhan mereka, dan tak usah repot-repot datang ke perpustakaan.

Jika hal ini dibiarkan, maka perpustakaan hanya menjadi tempat “menyimpan” buku saja tanpa berfungsi sebagai gudang ilmu dan pengetahuan. Jangankan ada peminjam buku, ada pengunjung pun sudah bersyukur. Apalagi, di waktu liburan, wajah perpustakaan tak jauh beda dengan “kuburan”. Ironis sekali.

Inovasi Baru

Maka dari itu, sudah saatnya perpustakaan perlu melakukan perubahan seiring perkembangan teknologi dan zaman. Pertama, beragam fasilitas ditambah, mulai dari revitalisasi koleksi bacaan, pengemasan data digital, penambahan koneksi internet, dan tersedianya kantin.

Kedua, mengubah wajah konservatif perpustakaan agar menjadi lebih multifungsi dan lebih berwarna. Dijamin, mahasiswa tak akan merasa bosan untuk pergi ke perpustakaan. Dan kegiatan membaca, dapat menjadi gaya hidup menyenangkan.

Ketiga, perlu adanya fasilitas dan kondisi nyaman, akses mudah, pemasangan wi-fi, jurnalistik, e-jurnal, e-book, koran, majalah, tabloid, karya fiksi, infotainment, dan sebagainya. Apalagi, ditunjang dengan pustakawan berkomitmen dan kompeten, pastilah memberi kekuatan pembeda untuk menarik minat pengunjung.

Keempat, perlu penambahan buku baru. Pasalnya, selama ini masih banyak perpustakaan kampus yang bukunya terbitan lama alias “jadul”. Inilah penyebab pembaca menjadi bosan, karena tak ada referensi baru dan segar.

Kelima, perlu adanya reward sebagai “pancingan” pengunjung untuk “ketagihan” datang ke perpustakaan. Mereka akan menjadikan “membaca” sebagai “candu”. Penghargaan ini diberikan kepada pengunjung yang memiliki komitmen. Misalnya, bagi pengunjung yang tertib administrasi, sering ke perpustakaan dengan absensi terbanyak, tepat waktu mengembalikan buku, dan sebagainya. Mereka harus mendapat penghargaan dari pengelola perpustakaan, agar memancing pengunjung lain untuk lebih dekat dan “cinta” buku.

Tempat Rekreasi

Masih banyak lagi cara untuk mengemas perpustakaan menjadi menarik. Yang terpenting, ada kesungguhan pihak kampus dan pengelola untuk menyulap perpustakaan menjadi “tempat belajar dan wisata intelektual”. Yang penting, perpustakaan harus tetap menjadi gudang ilmu. Ini menjadi penting dan menarik untuk dijalankan.

Sebenarnya, fungsi rekreasi sudah diatur oleh pemerintah, tinggal bagaimana pengelola dan pihak kampus menformat perpustakaan menjadi “wahana wisata” bagi pengunjung. Namun, yang terpenting esensi keilmuwan masih terjaga dalam setiap kegiatan di lokasi tersebut. Karena perpustakaan hakikatnya bukan sekadar tempat membaca, namun tempat itu juga bisa menjadi “wisata intelektual”.

Jika hal itu terlaksana, maka perpustakaan pasti ramai dan penuh dengan wajah-wajah ilmuwan. Itu merupakan wujud pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi, selaras dengan salah satu fungsi perpustakaan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007, yaitu fungsi rekreasi.

Jadi, sudah saatnya kampus-kampus di negeri ini mengemas perpustakaan menjadi wahana wisata intelektual. Jika tak sekarang dilakukan, lalu kapan lagi?

Bagikan:

Tinggalkan Balasan