ArtikelOpini

Mengharamkan atau Merayakan Tahun Baru

Bagikan:

Oleh Ahmad Hamid

Ahli Tafsir yang sekaligus mantan menteri agama Prof. Muhammad Quraish Shihab membolehkan umat islam untuk merayakan tahun baru masehi. Meskipun, banyak ulama yang terang-terangan melarang bahkan mengharamkan umat islam ikut merayakan tahun baru masehi. Memang, tahun baru masehi diidentikkan dengan kelahiran Yesus yaitu tuhannya orang – orang Nasrani. Di dalam tahun Masehi juga identik dengan pesta kembang api yang disebut penghamburan uang untuk hal yang tidak bermanfaat dan juga meniup terompet. Kebiasaan inilah yang dicap sebagai perilaku orang- orang Yahudi. Umat islam sendiri ada yang kaku melarang membuyikan terompet karena barang siapa yang meyerupai suatu kaum maka orang tersebut termasuk golongannya.

Masalah terompet yang diidentikkan dengan kaum Yahudi. Cak Nun mempunyai penalaran yang berbeda tentang tiup- meniup terompet. Jika meniup terompet itu melanggar agama karena diserupakan dengan agama Yahudi lalu bagaimana dengan malaikat Israfil yang ditugaskan oleh Allah meniup sangkakala. Dengan demikian apakah tugas yang dilaksanakan oleh malaikat Israfil merupakan agama Yahudi? Tentu saja tidak, karena malaikat adalah makhluk yang paling taat terhadap Allah Swt. Sementara sudah terang di dalam Al qur’an bahwa agama yang diridlai Allah hanyalah agama islam.

Sudah menjadi polemik di masyarakat khususnya di negara kita, Indonesia. Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Tahun baru masehi oleh sebagian orang adalah sesuatu yang ditunggu kedatangannya. Bukan tanpa sebab, tahun baru memang moment yang sangat tepat karena bersamaan dengan hari libur sekolah atau cuti bersama. jadi banyak orang yang memanfaatkan keadaan ini untuk berlibur bersama handai taulan atau sanak saudara.

Tetapi, tidak banyak yang mengharamkan cara tersebut atau ada anggapan menyerupai dengan agama lain. ini yang jadi pertentangan dan menjadikan gaduh di dalam masyarakat. Terutama oleh kalangan remaja yang notabenenya menjadi pelaku utama untuk perayaan tahun baru.

Di samping itu, banyak juga pedangang- pedagang kecil, pedagang asongan, terompet dll. Yang mendapat durian runtuh karena adanya peringatan tahun baru masehi. ini bisa dikatakan sebagai pendongkarak ekonomi rakyat bawah.

Kita sebagai manusia yang mempunyai akal dan budi tidak boleh memandang segala macam sesuatu hanya dari satu sudut pandang. Memang ada artikel yang berjudul “Malam Tahun Baru, Malam Maksiat internasional“. Penulis tidak meyalahkan artikel tersebut, memang benar di malam tahun baru hotel-hotel, homestay, tempat wisata dan hiburan malam, bertambah pengunjungnya. bahkan ada yang sengaja mengelar konser dangdut dengan biduan yang punya goyangan hot serta pakaian setengah telanjang. Aroma minuman keraspun bertebaran di sekeliling event tersebut.

Pengaruh minukan keras inilah yang akan memunculkan keributan, perkelahian,tawuran, perampokan, pemerkosaan bahkan pembunuhan.

Di tempat lain banyak juga dari kalangan remaja yang mengelar pengajian,dzikir dan sholawat beserta Habib-habib yang sudah terkenal kesalihannya. setelah selesai mereka juga ada kegiatan santunan anak yatim. menyalakan kembang api bersama dengan anak-anak yatim.anak-anak yatim dapat tertawa, tersenyum lepas bersama dengan ledakan- ledakan kembang api di angkasa.dan inilah makna pergantian tahun baru yang sebenarnya.

Dalam lingkungan keluarga tahun baru juga disambut berbeda. Sebut saja keluarga bapak sholeh, yang ke empat anaknya berda di luar kota. Mereka berbondong -bondong pulang kampung dan menjenguk bapak dan ibunya. Tahun baru yang dirayakan satu tahun sekali menjadi hal yang sangat langka karena anak-anak dan cucu bisa berkumpul bersama. Sedangkan ketika idul Fitri belum tentu bisa berkumpul karena berbenturan dengan urusan pekerjaan.

Keluarga bapak sholeh sengaja membawa masakan atau oleh -oleh khas daerah masing- masing yang dibarengi dengan aneka masakan daging ada rendang, sate, ikan bakar dan lain-lain. Semua makanan dihidangkan di atas daun pisang dengan posisi duduk memanjang. Sebelum keluarga berkumpul acara belum dimualai. Setelah semua siap, Pak Soleh sendiri memimpin acara yang berupa tahlil dan doa. Sebagai ungkapan rasa syukur atas kenikmatan yang sudah Allah anugerahkan kepada keluarganya.

Setelah itu mereka bersantap bersama sambil dibarengi cerita-cerita atau kisah selama satu tahun. Beda lagi dengan beberapa remaja yang punya agenda naik gunung ketika malam pergantian tahun. mereka mengajak beberapa rekan-rekanya cowok dan cewek pada kegiatan tersebut. Bisa dibayangkan apa yang mereka lakukan di atas gunung ketika situasi dingin dan mereka dalam satu tenda tanpa pengawasan orang tua.inilah yang namanya malam pergantian status dari perawan menjadi yang lain.

Tidak akan ada habisnya pembahasan tentang perayaan tahun baru, ucapan selamat natal menjadi sesuatu yang setiap tahun menjadi permasalahan yang akan selalu muncul baik di televisi ataupun di sosial media. Karena memang banyaknya perbedaan dalam berpendapat dan cara pandang antara satu orang dengan orang yang lain. Berbeda itu sesuatu yang bagus yang patut kita syukuri dan sekaligus kita nikmati. Ibarat pelangi hanya satu warna mungkin tidak akan elok dilihat oleh mata namun adanya perbedaan warna itulah yang membuat pelangi menjadi terlihat indah. Begitulah seharusnya menyikapi tentang perbedaan, harus lebih dewasa dan jangan mudah terprovokasi.

Yang mau merayakan tahun baru silakan, mau di pantai, di gunung, di tempat wisata atau dimanapun tidak masalah yang penting ada manfaatnya dan tidak menambah dosa. Yang di rumah tidak mau ikut merayakan tahun baru, karena takut dosa, baik. Buat yang jomblo yang meratapi nasib dan ejek teman-teman karena tidak ada yang diajak berkencan di tahun baru tenang Allah sudah siapkan jodoh buat kamu. Selalu berfikir positif. Kalau diejek jangan ikutan mengejek berdoa saja mudah-mudah tahun depan sudah mendapat pasangan atau jodoh yanng sholeh, sholehah tanpa perantara pacaran.

Puncaknya haram atau halalnya suatu kegiatan menurut penulis tergantung dari niat dan cara merayakannya. Di tempat maksiatpun kalau niatnya baik seperti Gus Miftah yang tujuannya untuk dakwah. Al hasil banyak tunasusila yang berhenti dari pekerjaanya dan memilih untuk menjadi santri, bukanlah itu lebih baik daripada di masjid dakwah tapi tujuannya untuk menjelek-jelekkan dan mengkafirk-kafirkan orang lain yang seaqidah.

Merayakan tahun baru atau tidak, haram atau tidak, tergantung apa yang dilakukan, adakah manfaatnya dan madhorotnya. Inilah makna tahun baru yang sebenarnya berfikir tidak kaku dan hanya memandang sesuatu dari satu sudut permasalahan saja. intinya selamat tahun baru 2020 semoga di tahun ini jauh lebih baik lagi dari segi apapun dibanding tahun lalu.

-Penulis adalah Guru di SD Al Madina Wonosobo

Bagikan:

Tinggalkan Balasan