ArtikelOpiniRekomendasi

Kiai Kampung Vs Ustaz Karbitan

Oleh Muhammad Ulfi Fadli

Kiai adalah seorang tokoh agama sekaligus tokoh masyarakat yang sangat dihormati di kampung. Dengan keserhanaan yang dimulai dari cara berpakaian hingga bahasa menggambarkan sifat mulia dan rendah hatinya. Penghormatan tersebut didapat karena jasanya yang semata-mata untuk kepentingan masyarakat dan sebagai penyeimbang dalam kehidupan.

Dalam masyarakat, kiai selalu dibutuhkan dalam dan mengisi di berbagai lini. Seperti halnya imam salat, hajatan nikah, sunat, yasinan, bahkan orang yang mempunyai masalah dengan keluargapun membutuhkan kiai. Termasuk juga orang sakit karena dipandang memiliki segala ilmu. Oleh karenanya, masyarakat membutuhkan berkah dari kiai.

Maka tidak heran jika sosok kiai disegani karena benar-benar membimbing akhlak dalam masyarakat. Selain itu jasa kiai jugalah kelestarian berbagai tradisi yang sudah ada sejak dahulu, seperti sadranan, kupatan, manisan, dan lain-lain masih terus dilaksanakan dalam rangka sebagai tanda syukur, menghormati bulan-bulan mulia, dan tidak lupa dengan tokoh-tokoh pembawa Islam di Nusantara yaitu Walisongo.

Dewasa ini, hal-hal tersebut diatas sudah mulai terkikis oleh seiring berkembangnya zaman, dengan kemudahan teknologi, khususnya HP, atau kita lebih suka menyebutnya “setan gepeng”. Masyarakat lebih cenderung untuk menggunakan teknologi tersebut sebagai sumber informasi, karena memang sangat mudah sekali penggunaannya. Padahal kita tahu, dalam HP atau internet banyak sekali informasi yang tidak jelas sumbernya atau informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, termasuk informasi atau ilmu agama yang hanya bagus bungkusnya tapi isinya ngawur.

Hal tersebut membuat doktrin baru bagi konsumsinya menjadi awut-awutan. Jadi tidak heran jika masyarakat sekarang dari berbagai profesi over membahas agama padahal bukan bidangnya, sehingga semakin kesini semakin muncul orang yang berani menyalahkan kiai. Karena masyarakat lebih tertarik terhadap informan yang enak didengar dan gampang untuk dicerna walaupun tidak tau siapa yang menyampaikan, dari golongan apa orang tersebut, dan tujuanya apa orang tersebut.

Kiai Kampung Vs Ustaz Karbitan
Kiai kampung yang dulu nya ketika pengajian selalu dihadiri banyak jemaah dan fatwa-fatwanya diikuti, tampaknya kini mulai terkikis oleh ustaz-ustaz karbitan dan kiai-kiai musiman. Padahal kita tahu, sanad dari ustaz-ustaz yang muncul dan viral akhir-akhir ini belum jelas. Mereka hanya pintar berbicara tapi tidak untuk berbicara pintar dan mempunyai “kepedean” yang tinggi. Padahal sebetulnya ilmunya belum ada apa-apanya dibanding kiai kampung yang sudah memakan pesantren bertahun-tahun.

Perlu kita sadari, kita bisa belajar tentang ilmu dasar agama dari siapa? Dari kiai kampung. Kita bisa membaca Alquran atas jasa siapa? Kiai kampung. Kita bisa semangat beribadah karena siapa? Kiai kampung juga yang dalam setiap fatwa nya selalu menyampaikan fadhilah-fadhilah amal. Tapi kini sudah terbodohi oleh mereka-mereka yang pandai dalam berbicara saja tanpa ilmu yang terbukti kebenaranya. Kita sebetulnya sudah zalim karena sering meneyepelekan kiai kampung. Jasa-jasa beliau kepada kita seakan-akan tidak dianggap. Sikap hormat dan ketawadhu kepada kiai mulai hilang.

Kita sering mengonsumsi ceramah dari ustaz-ustaz karbitan yang sebetulnya menambah masalah dalam hidup, karena banyak sekali yang memang bertentangan dengan kultur dalam masyarakat. Seperti halnya tahlilan dibidahkan, ziarah kubur dimusyrikkan dan sebagianya. Padahal ibadah tersebut jelas ada dasarnya. Maka mengonsumsi ceramah tersebut ibaratnya menantang arus. Dan bodohnya, ketika bertentangan malah ikut yang mereka, bukan kiai kampung kita yang sangat tidak diragukan lagi ilmunya.

Pentingnya Sanad Keilmuan
Fenomena maraknya ceramah-ceramah ustaz-ustaz media sosial mengingatkan kita pada zaman awal mempelajari ilmu dasar-dasar agama, yaitu kitab Safinatun Najah karangan Syeikh al Fadhil Salim bin Sumair al Hadromi yang salah satu isinya menjelaskan tentang bab salat. Dalam pembahasan tersebut kita betul-betul diajarkan tentang rukun, syarat, batal, sampai pada praktik salat langsung. Ketika tidak bisa maka ada sanksi yang harus didapat. Sehingga harus betul-betul faham tentang bab tersebut.

Kiai dalam menjelasakan dan mengajarkan praktik salat tentu bukan hanya karang-mengarang seenaknya sendiri. Akan tetapi bersifat turun-temurun dengan kata lain ilmunya dari kiainya terdahulu dan terus-menerus sehingga sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Hal inilah yang disebut dengan sanad. Sehingga apa yang kita praktikkan dalam agama benar-benar ada runtutannya.

Berbeda dengan ustaz karbitan yang baru tahu satu atau dua dalil saja sudah berani ceramah di mana-mana. Bab salat saja kita tidak tahu referensinya dari mana, apakah hanya dari mendengar-mendengar saja? Terjemah-terjemah? Mungkin. Ustaz karbitan ini merasa “PD” karena memang mampu dalam menggiring opini dengan bahasa yang terkesan meyakinkan. Sehingga tak jarang jika ustaz karbitan biasa dengan mengafirkan seseorang. Lebih parahnya banyak pendengar yang ikut terbawa arus.

Hal di atas baru berbicara masalah fikih dasar. Belum berbicara masalah tajwid atau yang lebih kita kenal dengan tata cara membaca Alquran. Lagi-lagi, karena sanad keilmuanya belum jelas, sering terjadi kekeliruan entah dari menulis atau membacanya. Akibatnya berdampak pada makna ayat yang dibaca tersebut berbeda.

Maka dari itu mari kita kembalikan lagi rasa hormat dan ketawaduan kepada kiai-kiai kita. Kiai-kiai yang jasanya besar, rasa di mana kita mendapat kenyamanan yang sebenarnya dalam hidup, tetap ikuti fatwa-fatwanya, dan berpikir bahwa kiai-kiai lah yang membuat kita kenal agama.

Tanpa kiai apalah kita. Salah satu cara yang paling mudah untuk mencegah informasi agama yang belum bisa dipertanggugjawabkan adalah jangan terbiasa mengkonsumsi ceramah dari ustaz-ustaz yang belum jelas sanad daan ilmunya.

-Penulis adalah Mahasiswa Prodi PAI STAINU Temanggung

Tinggalkan Balasan