Puisi-Puisi Selendang Sulaiman,penunjuk masa depan,duduk di jendela kereta, ingatan tak sederhana, memasung diri, penyair nyaris.

Pinters

PENUNJUK MASA DEPAN kuakrabi engkau penuh daya cipta lewat buku pamflet masa darurat kutiru caramu menatap dan berucap hingga orang-orang tak melihatku. bila kubuka jendela pikiran duniamu berbinar, tatapku tenggelam. kupandangi wujudmu dengan mata sajak meski aku merasa jadi orang lain. bagaimana kamu bisa lenyap dari tatapan jika lidah terlampau tajam oleh batu asahmu dan pisau […]

Puisi-Puisi Seruni Unie, Perkenalan, Kepada Seorang Artis, Kata Hati, 2025, Jalan Kaki

PERKENALAN Aku terjebak di sudut matamu Dua puisi bungkam, memporandakan dada perlahan Di rembulan mana, harus kusembunyi kang Sedang malam lebih dulu bertestimoni, mengabarkan warna mimpi Dan aku nyaris binasa Pada keinginan jiwa Sebab setelah jabat tangan itu Nadi membeku Solo, 2025     KEPADA SEORANG ARTIS   Kau tak pernah tahu, sebatang sympati kutandur […]

Puisi-Puisi Puji Pistols, Saat Pulang, Merampungkan Kaligrafi Peoni, Labu Kuning,Lotus,Pa Kua

EDISI KENANGAN DALAM KALIGRAFI BAISHI Satuan garis lengkung dimunculkan sebagai mata rantai batasan semesta dan yang ada   SAAT PULANG   Segalanya berbalik pulang kekasih yang pernah bersambang menyimpan arsip masa muda tersimpan tabik di hari tua   MERAMPUNGKAN KALIGRAFI PEONI   Hidup mengantongi apa? ia susuri sudut tersembunyi kaligrafi jadi mengerti yang silam, mengerti […]

Puisi-Puisi Joe Hasan, Di Sini Kami Dilarang Melihat Matahari , Bulan Merah, Di Pasar, Halaman Koran, Puasa 4

DI SINI KAMI DILARANG MELIHAT MATAHARI pagi itu aku tergesa-gesa menyantap sarapan sisa kemarin dari dalam kulkas, isinya harapan-harapan bapaknya bapak itu sudah berbulan-bulan ini tidak pernah berkata tidak pernah bersenyum dia enggan mempertemukan pandang setiap hari aku bermimpi bertemu matahari tapi di rumah ini kami dilarang melihat matahari angin hanya dibiarkan masuk seadanya katanya […]

Puisi-Puisi, Faris Al Faisal, Miring Ke Laut, Minggu, Dapur, Asli, Kehormatan

 MIRING KE LAUT Bahwa kita suatu hari miring ke laut, membuat rumah di atas ombak. Saling mencintai, bahkan dengan sedekat ini. Merangkai mawar laut, yang maut berpagut. Dari kejauhan, menggulung bayangan biru tua. Biru muda kita, mata air samudra raya. Tubuh kita mengapung, tulang-tulang ikan menyusur. Kembali ke tepian, pasir-pasir putih. Jiwa menyatu, begitu selalu. […]