Oleh Gunoto Saparie
Ada kata-kata yang tidak sekadar menunjuk makna. Ia menunjuk cara manusia menghadapinya.
Di pesantren tradisional, kata “utawi” dan “iku” mungkin terdengar sederhana. Keduanya hanyalah penanda. Yang satu mengawali subjek, yang lain menegaskan predikat. Namun di sela dua kata itu sesungguhnya terbentang sebuah sejarah panjang tentang bagaimana sebuah peradaban memilih untuk tidak tergesa-gesa memahami dunia.
Bahasa Jawa Kitabi lahir dari kesabaran semacam itu.
Ia bukan bahasa yang digunakan orang bercakap di pasar, bukan pula bahasa yang akan kita dengar di ruang keluarga. Ia hidup di ruang yang lebih sunyi: di serambi masjid, di bilik-bilik pesantren, di bawah lampu minyak yang redup, ketika seorang santri membungkuk di hadapan kitab yang belum berharakat. Di sana, bahasa tidak sedang mencari kefasihan. Bahasa sedang mencari jalan menuju pengertian.
Barangkali di situlah letak keunikannya.
Bahasa Jawa Kitabi tidak berusaha mengalahkan bahasa Arab. Ia juga tidak berusaha menggantikan bahasa Jawa. Ia berdiri di antara keduanya, menjadi semacam jembatan yang memungkinkan dua dunia bertemu tanpa saling meniadakan.
Kita sering mengira bahwa menerjemahkan adalah memindahkan makna dari satu bahasa ke bahasa lain. Tetapi tradisi pesantren mengajarkan sesuatu yang berbeda. Menerjemahkan justru berarti menahan diri. Menunda kesimpulan. Tidak buru-buru menyederhanakan sesuatu yang rumit.
Karena itu, terjemahan harfiah menjadi pilihan.
Bagi pembaca modern, cara itu terasa ganjil. Kalimat-kalimat Arab dipertahankan urutannya. Susunan yang bagi tata bahasa Indonesia atau Jawa terdengar janggal tetap dipelihara. Kata demi kata diterjemahkan setia, seolah-olah setiap posisi mempunyai martabat yang tak boleh dipindahkan.
Di mata orang luar, cara demikian mungkin dianggap tidak efisien. Namun pesantren tidak sedang mengejar efisiensi. Ia sedang merawat hubungan. Hubungan antara teks dengan pembacanya. Antara guru dengan murid. Antara masa lalu dengan masa kini.
Sebab kitab kuning bukan hanya kumpulan kalimat. Ia adalah warisan. Dan setiap warisan mengandung kehati-hatian.
Maka lahirlah simbol-simbol kecil yang hanya dimengerti oleh mereka yang hidup dalam tradisi itu. “Utawi”. “Iku”. “Sapa”. “Ing”. Tanda-tanda yang dituliskan kecil di sela-sela halaman. Orang luar mungkin melihatnya sebagai coretan. Padahal di balik coretan itu tersembunyi sebuah tata cara membaca.
Setiap simbol adalah penunjuk arah.
Ia mengatakan kepada santri: jangan keliru memahami siapa pelaku dan siapa yang dikenai pekerjaan; jangan tertukar mana subjek dan mana predikat; jangan sampai perubahan i’rab mengubah seluruh kesimpulan hukum.
Dalam dunia yang dibangun di atas ketelitian, tanda kecil dapat menyelamatkan makna yang besar.
Di sinilah bahasa berubah menjadi disiplin.
Kita hidup pada zaman yang menyukai ringkasan. Buku dipadatkan menjadi beberapa halaman. Ceramah diringkas menjadi video satu menit. Bahkan pengetahuan kini sering diukur dari kecepatannya menyebar.
Pesantren justru bergerak ke arah sebaliknya. Ia mengajarkan kelambatan. Kelambatan yang bukan kemunduran, melainkan bentuk penghormatan terhadap ilmu.
Seorang santri bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk satu paragraf. Bukan karena ia lamban berpikir, melainkan karena ia sedang belajar bahwa setiap kata memiliki beban sejarah, setiap istilah memiliki jejak perdebatan, dan setiap kalimat mungkin menyimpan kemungkinan makna yang lebih luas daripada yang tampak.
Dalam dunia seperti itu, memahami bukanlah aktivitas yang selesai dalam sekali baca. Ia adalah perjalanan.
Tradisi sorogan memperlihatkan perjalanan itu secara nyata. Seorang santri datang membawa kitabnya. Ia membaca di hadapan kiai. Kalimat demi kalimat diperiksa. Kesalahan kecil diperbaiki. Makna yang meleset diluruskan.
Hubungan itu bukan sekadar hubungan akademik. Ada adab yang ikut dipelajari.
Ilmu tidak dipindahkan seperti file digital yang dapat dikirim dalam hitungan detik. Ilmu diwariskan melalui perjumpaan. Melalui suara. Melalui tatapan. Bahkan melalui jeda ketika seorang guru berhenti sejenak sebelum menjelaskan sebuah kalimat.
Barangkali itulah sebabnya mengapa tradisi mengabsahi kitab tetap bertahan hingga kini.
Setiap arti yang ditulis di bawah teks Arab bukan hanya catatan linguistik. Ia adalah jejak kehadiran seorang guru. Jejak waktu yang pernah dilewati seorang murid. Jejak kesungguhan yang perlahan memenuhi halaman demi halaman.
Kitab yang telah penuh makna gandul sering kali lebih berharga daripada kitab baru yang bersih. Karena yang pertama menyimpan riwayat belajar. Yang kedua baru menyimpan kemungkinan.
Menarik bahwa bahasa Jawa Kitabi juga memperlihatkan sesuatu yang sering kita lupakan: bahasa tidak pernah benar-benar murni.
Ia selalu lahir dari perjumpaan.
Bahasa Arab bertemu dengan bahasa Jawa. Tata bahasa Timur Tengah berdialog dengan rasa bahasa Nusantara. Huruf Arab dipakai untuk menuliskan bunyi-bunyi Jawa melalui aksara Pegon. Sebuah kreativitas muncul bukan dari keinginan menjadi berbeda, melainkan dari kebutuhan untuk memahami.
Barangkali semua kebudayaan besar memang lahir dari kebutuhan semacam itu. Bukan dari ambisi menaklukkan. Melainkan dari kerendahan hati untuk belajar.
Hari ini, ketika digitalisasi kitab berlangsung dan kecerdasan buatan mulai mampu menerjemahkan berbagai bahasa dalam hitungan detik, muncul pertanyaan yang diam-diam mengusik: apakah Jawa Kitabi masih diperlukan?
Jawabannya mungkin tidak terletak pada kemampuan menerjemahkan. Teknologi barangkali akan jauh lebih cepat. Namun kecepatan tidak selalu identik dengan pemahaman.
Mesin dapat menemukan padanan kata. Tetapi ia belum tentu dapat mewarisi adab membaca. Ia dapat mengenali struktur kalimat. Tetapi belum tentu memahami mengapa seorang guru memilih berhenti beberapa detik sebelum menjelaskan sebuah istilah.
Di situlah tradisi tetap mempunyai tempat. Sebab tradisi bukan sekadar metode. Ia adalah cara manusia memelihara hubungan dengan pengetahuan.
Bahasa Jawa Kitabi mungkin suatu hari tidak lagi menjadi bahasa yang dikenal luas. Bisa jadi generasi mendatang lebih akrab dengan layar dibandingkan kitab bersampul cokelat yang penuh tulisan miring di tepinya. Namun selama masih ada orang yang percaya bahwa ilmu layak didekati dengan kesabaran, selama masih ada santri yang menuliskan arti kata demi kata di bawah teks Arab dengan tangan sendiri, bahasa itu belum benar-benar hilang.
Ia hanya sedang menunggu pembacanya. Dan mungkin itulah yang ingin diajarkan oleh “utawi” dan “iku”.
Bahwa memahami selalu membutuhkan jarak. Bahwa makna tidak pernah datang sekaligus. Bahwa di antara subjek dan predikat, di antara teks dan pembaca, di antara guru dan murid, selalu ada ruang yang harus diseberangi dengan rendah hati.
Sebab ilmu, seperti juga kehidupan, tidak pernah selesai hanya karena kita telah menemukan artinya. Ia terus bergerak, berpindah dari mulut ke telinga, dari tangan ke halaman kitab, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dan di sepanjang perjalanan itu, bahasa Jawa Kitabi tetap berdiri dengan tenang; bukan sekadar sebagai alat penerjemah, melainkan sebagai pengingat bahwa memahami adalah pekerjaan yang selalu memerlukan kesabaran, ketelitian, dan kesediaan untuk terus belajar.
Semarang, 15 Juli 2026.