Oleh: Fathma Anggraita
Inilah zaman yang paling aneh dalam sejarah umat. Dahulu orang bertanya kepada kiai sebelum mengambil keputusan. Kini, cukup membuka media sosial. Dahulu seseorang malu berbicara tanpa ilmu. Sekarang, semakin sedikit ilmunya, sering kali semakin percaya diri membuat ceramah berdurasi satu menit.
Dan anehnya, jutaan orang menyimak dengan khusyuk, seolah algoritma telah naik pangkat menjadi mufti baru dunia digital. Media sosial memang berhasil menciptakan demokrasi informasi.
Sayangnya, ia juga melahirkan demokrasi kebingungan. Semua orang bebas berbicara, bebas menghakimi, bebas memotong ayat, bebas menyimpulkan hukum, bahkan bebas mengkafirkan orang lain, selama koneksi internet masih menyala.
Ukuran kebenaran pun perlahan bergeser. Yang benar bukan lagi yang paling kuat dalilnya, melainkan yang paling banyak ditonton, dibagikan, dan diberi tanda suka. Padahal, algoritma tidak pernah belajar fikih.
Ia tidak mengenal usul fikih, maqashid syariah, apalagi adab ikhtilaf. Yang ia pahami hanya satu bahasa: perhatian. Semakin gaduh sebuah konten, semakin ia disebarkan. Semakin marah penggunanya, semakin tinggi nilainya di mata mesin.
Maka jangan heran jika kemarahan kini menjadi komoditas paling laris di ruang digital. Indonesia pun menikmati pesta besar itu. Pada 2026, lebih dari 235 juta penduduk telah terkoneksi dengan internet.
Media sosial menjadi ruang hidup kedua setelah dunia nyata. Setiap hari jutaan video diproduksi, jutaan komentar ditulis, dan entah berapa juta vonis agama dijatuhkan oleh orang-orang yang bahkan belum selesai membaca satu kitab secara utuh.
Kita memasuki era ketika keberanian berbicara tumbuh jauh lebih cepat daripada kerendahan hati untuk belajar. Ironinya, Islam sejak awal justru membangun peradaban di atas ilmu. Wahyu pertama bukanlah ‘berdebatlah’, melainkan Iqra’. Bacalah. Pelajarilah. Pahamilah.
Al-Qur’an bahkan melarang manusia mengikuti sesuatu yang tidak diketahui ilmunya (QS. Al-Isra’: 36). Namun di media sosial, membaca sering dianggap aktivitas yang terlalu melelahkan.
Judul sudah cukup. Potongan video sudah memadai. Cuplikan sepuluh detik terasa lebih meyakinkan daripada kajian dua jam. Akibatnya, tabayyun berubah menjadi barang mewah. Orang lebih senang menjadi yang pertama membagikan kabar daripada menjadi yang pertama memastikan kebenarannya.
Padahal Al-Qur’an sudah memberi peringatan tegas melalui QS. Al-Hujurat ayat 6 agar setiap berita diperiksa terlebih dahulu. Rupanya ayat itu kalah cepat dibanding tombol ‘bagikan’.
Di sinilah nilai-nilai Aswaja terasa seperti tamu yang mulai jarang diundang. Prinsip tawasuth dianggap kurang menarik karena tidak menghasilkan sensasi. Tasamuh kalah populer dibanding pertengkaran. Tawazun sulit bersaing dengan polarisasi. Sementara i’tidal terdengar membosankan di tengah pasar digital yang menjual kemarahan sebagai hiburan.
Imam Al-Ghazali (1091) pernah mengingatkan bahwa ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kerusakan. Rasanya beliau tidak sedang membahas media sosial, tetapi kalimat itu terdengar seperti ditulis kemarin sore.
Hari ini orang bukan kekurangan informasi. Yang langka justru rasa malu ketika berbicara tanpa pengetahuan. Ibnu Khaldun (1377) menjelaskan bahwa peradaban runtuh bukan semata karena serangan dari luar, melainkan ketika kualitas moral dan intelektual masyarakatnya melemah.
Jika hari ini umat Islam mudah dipecah oleh potongan video, judul provokatif, dan potongan ceramah yang kehilangan konteks, mungkin masalahnya bukan terletak pada algoritma.
Mesin hanya bekerja sesuai desainnya. Manusialah yang menyerahkan akalnya secara sukarela. Yang lebih menggelikan, sebagian orang begitu takut terhadap kecerdasan buatan, tetapi sama sekali tidak khawatir kehilangan kecerdasan berpikir.
Mereka sibuk memperdebatkan apakah AI akan menggantikan manusia, padahal dalam banyak percakapan digital, fungsi berpikir kritis sudah lebih dahulu mengundurkan diri. Syekh Yusuf Al-Qaradawi (1994) mengajarkan bahwa wasathiyah adalah karakter utama Islam.
Jalan tengah bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan iman. Sayangnya, media sosial tidak memberi hadiah kepada sikap yang tenang. Yang memperoleh panggung justru mereka yang paling keras berteriak.
Akibatnya, banyak orang lebih sibuk memenangkan perdebatan daripada memperbaiki keadaan. M. Quraish Shihab (1996) berkali-kali mengingatkan bahwa agama harus dipahami secara utuh, bukan sepotong-sepotong.
Namun budaya digital justru menyukai potongan. Potongan ayat. Potongan hadis. Potongan ceramah. Potongan konteks. Setelah itu lahirlah kesimpulan utuh yang biasanya juga keliru secara utuh.
Karena itu, membangun generasi Aswaja hari ini bukan berarti menjauhkan anak muda dari teknologi. Itu mustahil. Yang perlu dilakukan adalah mengajarkan mereka agar tidak menyerahkan nurani kepada algoritma.
Gawai boleh berada di tangan, tetapi akal jangan berpindah ke mesin. Media sosial boleh menjadi ruang dakwah, tetapi jangan sampai berubah menjadi arena mempertontonkan kesalehan yang kehilangan akhlak.
Pada akhirnya, algoritma hanyalah barisan kode yang bekerja tanpa dosa dan tanpa pahala. Ia tidak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Yang akan dimintai pertanggungjawaban adalah manusia yang memilih percaya tanpa memeriksa, membagikan tanpa berpikir, dan berbicara tanpa ilmu.
Di situlah ironi terbesar zaman ini: kita begitu khawatir mesin menjadi semakin pintar, tetapi terlalu santai ketika manusia semakin malas menggunakan akalnya. Mungkin inilah bentuk penjajahan paling halus abad digital, bukan ketika teknologi menguasai manusia, melainkan ketika manusia dengan sukarela menyerahkan kebebasan berpikirnya kepada algoritma, lalu mengira itu adalah kebebasan.
*) Fathma Anggraita adalah new civitas PGSD-2026 FIP Universitas Negeri Padang (UNP); anggota Griya Riset Plikon (GRiP) Magelang.
Padang, 10 Juli 2026,
Fathma Anggraita
New civitas Prodi PGSD-2026 FIP Universitas Negeri Padang (UNP) Sumbar. Anggota Griya Riset Plikon (GRiP) Magelang, Jateng. Ketua Pondok Literasinesia (PL) Padang. Pemerhati masalah pendidikan, sosial, budaya, dan keagamaan. Sering menjuarai lomba menulis artikel opini/esai dan puisi. Sering menulis artikel opini/esai di berbagai media massa cetak (koran harian) dan media massa online. Sudah menerbitkan 4 buah buku (sebagai kontributor penulis dalam buku/book chapter) berjudul: (1) ‘Antologi Cerpen: 50 Cerpen Terbaik’, penerbit Purata Publishing, Padang, November 2025, QRCBN: 62-1646-6518-695; (2) ‘Rangkaian Kisah dalam Satu Napas: Cerpen Lingkungan’, penerbit Fosfourious, SMA Negeri 5 Padang, Desember 2025, juga bertindak sebagai Editor; (3) ‘Pemikiran Gen Z dari Kota Padang: Dari Isu Rumah Tangga, Hingga Persoalan Dunia (Kumpulan Esai Siswa/i SMAN 5 Padang)’, penerbit Pustaka Artaz (anggota IKAPI 038/SB/2023), Padang Pariaman, Sumbar, Maret 2026; (4) ‘Suara Hati dari SMANLI (Kumpulan Puisi Siswa/i SMAN 5 Padang)’, penerbit Pustaka Artaz (anggota IKAPI 038/SB/2023), Padang Pariaman, Sumbar, Maret 2026.