Oleh: Jenia Ghaziah
Mahasiswa PGSD-2024 FIP Universitas Negeri Padang (UNP); Anggota Griya Riset Plikon (GRiP) Magelang
Bangsa ini tampaknya sangat mencintai moral. Buktinya jelas: hampir setiap hari ada pidato tentang akhlak, seminar tentang karakter bangsa, kajian tentang persatuan, dan ceramah tentang pentingnya menjaga nilai-nilai luhur. Pancasila disebut. Agama dikutip. Ayat dibacakan. Hadis disampaikan. Semua terdengar begitu khidmat. Masalahnya hanya satu: setelah mikrofon dimatikan, kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Di sekolah, anak-anak diajarkan kejujuran. Di luar sekolah, mereka melihat korupsi tampil lebih konsisten daripada jadwal pelajaran. Mereka diminta menghormati perbedaan, tetapi media sosial penuh orang dewasa yang saling menghina sambil merasa paling religius dan paling nasionalis sekaligus. Akhirnya, anak-anak belajar satu pelajaran penting yang tidak tertulis di kurikulum: moral memang bagus untuk pidato, tetapi belum tentu dipakai dalam praktik kehidupan.
Padahal kita ini bangsa yang luar biasa saleh secara simbolik. Rumah ibadah penuh. Kajian agama tumbuh di mana-mana. Kutipan ayat beredar lebih cepat daripada klarifikasi berita palsu. Bahkan media sosial kita tampak seperti gabungan antara ruang dakwah dan arena perang saudara digital. Ironinya, semakin ramai simbol agama dipamerkan, semakin gaduh pula ruang publik kita.
- Iklan -
Data tahun 2026 menunjukkan skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia turun menjadi 34 dengan peringkat 109 dunia. Artinya, dunia internasional masih percaya bahwa korupsi di republik religius ini tetap tumbuh sehat dan bergizi. Dan memang sulit membantahnya.
Korupsi kita tampaknya sangat spiritual. Ia tidak membeda-bedakan latar belakang ideologi, organisasi, bahkan penampilan religius. Semua bisa terlibat dengan semangat persaudaraan nasional.
Lucunya, setiap ada kasus besar terbongkar, ekspresi publik kita selalu sama: terkejut seolah baru pertama kali terjadi. Setelah itu, semua kembali normal. Seperti sinetron panjang yang alurnya sudah hafal, tetapi tetap ditonton setiap malam. Mungkin karena bangsa ini terlalu terbiasa hidup dalam kontradiksi.
Di satu sisi, kita sangat rajin bicara tentang amanah. Di sisi lain, jabatan sering diperlakukan seperti kesempatan ekonomi yang datang sekali seumur hidup. Di satu sisi, kita mengutuk kebohongan. Di sisi lain, manipulasi dianggap bagian dari strategi komunikasi.
Nurcholish Madjid (1995) pernah menyebut agama dan Pancasila sebagai fondasi moral kehidupan bersama. Masalahnya, fondasi itu sekarang lebih sering dipakai sebagai dekorasi pidato daripada pedoman perilaku.
Agama akhirnya terasa seperti seragam formal: dipakai saat acara penting, lalu dilepas ketika mulai mengganggu kepentingan praktis. Padahal Islam sejak awal berbicara sangat keras soal akhlak. Nabi Muhammad SAW bahkan menegaskan bahwa inti risalah adalah penyempurnaan moral manusia. Tetapi di republik ini, moral tampaknya lebih cocok dijadikan tema seminar daripada kebiasaan sosial.
Kita rajin mengadakan pelatihan integritas. Hasilnya, integritas makin sering dibicarakan karena makin jarang ditemukan. Anak-anak sekolah tentu makin bingung. Mereka diminta jujur saat ujian, sementara di televisi mereka melihat orang dewasa berbohong dengan ekspresi penuh percaya diri. Mereka diajarkan tentang ukhuwah, tetapi setiap musim politik mereka menyaksikan umat saling menyerang hanya karena beda pilihan.
Media sosial pun berubah menjadi ladang dakwah kemarahan. Orang saling mencaci sambil menyisipkan ayat. Saling membenci sambil mengaku membela agama. Bahkan fitnah kadang dikemas begitu religius sampai tampak seperti amal ibadah. Persaudaraan akhirnya terasa seperti menu katering acara formal: selalu ditulis di spanduk, belum tentu tersedia di meja.
Al-Ghazali (1111) pernah mengingatkan bahwa kerusakan masyarakat bermula ketika agama kehilangan dimensi moralnya. Dan tampaknya kita sedang bergerak ke arah itu: agama ramai sebagai simbol, tetapi sunyi sebagai akhlak sosial.
Yang lebih menarik, bangsa ini sebenarnya sangat gemar membahas pendidikan karakter. Setiap ada krisis moral, solusi yang muncul hampir selalu sama: tambah seminar, buat slogan baru, cetak modul kebangsaan, atau adakan webinar akhlak nasional.
Seolah-olah kerusakan moral bisa selesai dengan menambah backdrop acara. Padahal anak muda hari ini tidak kekurangan nasihat. Mereka terlalu banyak mendengar ceramah. Yang kurang hanyalah contoh nyata.
Mereka melihat terlalu banyak tokoh bicara kesederhanaan sambil hidup dalam kemewahan. Terlalu banyak elite bicara pengabdian sambil sibuk mengamankan kekuasaan. Terlalu banyak orang bicara agama sambil kehilangan belas kasih.
Akibatnya, lahirlah generasi yang pelan-pelan menganggap sinisme sebagai bentuk kewarasan. Mereka mulai percaya bahwa idealisme hanyalah materi pidato, sedangkan kehidupan nyata berjalan dengan aturan berbeda.
Dan mungkin itulah humor paling gelap dari negeri ini: kita sangat takut kehilangan simbol agama dan simbol Pancasila, tetapi tampak cukup tenang kehilangan kejujuran, rasa malu, dan keteladanan.
Padahal bangsa tidak runtuh karena kekurangan ceramah moral. Bangsa runtuh ketika masyarakat terlalu lama dipaksa percaya pada nilai yang bahkan tidak lagi dipraktikkan oleh orang-orang yang paling sering mengucapkannya.
Di republik ini, tampaknya kita memang sangat mencintai agama dan Pancasila. Saking cintanya, keduanya terus dipuji dalam pidato; agar tidak perlu terlalu sering dipakai dalam kehidupan nyata.
*) Jenia Ghaziah adalah mahasiswa Prodi PGSD-2024 FIP Universitas Negeri Padang (UNP); anggota Griya Riset Plikon (GRiP) Magelang.



