Oleh Sam Edy Yuswanto*
Hari raya Iduladha identik dengan hari raya kurban. Hal ini sebagaimana telah jamak diketahui bahwa pada hari raya tersebut, sebagian umat Islam yang memiliki kelebihan harta (atau yang memang sudah lama menabung untuk berkurban di hari raya) akan melaksanakan penyembelihan hewan kurban berupa (biasanya) seekor kambing atau seekor sapi.
Kurban termasuk ibadah sunah yang bagus dijalankan oleh setiap muslim, khususnya mereka yang memiliki harta berlimpah atau yang berkecukupan. Ibadah kurban juga menjadi salah satu pertanda atau bentuk ketaatan seorang hamba kepada Sang Maha Pencipta. Juga menyimpan pesan positif tentang pentingnya berbagi kepada sesama, khususnya pada mereka yang tidak mampu.
Tak hanya menjadi tanda ketaatan semata, ibadah kurban juga menjadi sarana bagi kita untuk berusaha menjadi hamba yang ikhlas dengan takdir atau ketentuan dari-Nya. Melansir baznas.go.id (21/10/2025) ibadah kurban merupakan salah satu bentuk ketaatan seorang muslim kepada Allah Swt. yang dilakukan setiap tanggal 10 Zulhijjah atau Hari Raya Iduladha. Melalui ibadah ini, umat Islam diajak untuk meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim dan ketaatan Nabi Ismail dalam melaksanakan perintah Allah.
- Iklan -
Hubungan Kurban dan Sedekah
Bicara tentang ibadah kurban tentu berkaitan erat dengan ibadah sedekah. Meskipun kedua jenis ibadah ini sepintas memiliki esensi yang sama, namun tetap ada perbedaannya. Alhafiz Kurniawan dalam tulisannya (NU Online, 10/6/2022) menguraikan penjelasan dari KH Afifuddin Muhajir yang pernah menyampaikan perbedaan sedekah dan ibadah kurban.
Menurut beliau, keduanya memiliki sejumlah perbedaan mendasar meski keduanya sama-sama berbagi. Sedekah lebih longgar terkait cara pelaksanaannya dan dapat dilakukan dengan apa saja dan kapan saja, bahkan meski hanya dengan seberat kurma. Adapun ibadah kurban memiliki ketentuan dan syarat yang harus dipenuhi. Kurban hanya dapat dilakukan dengan penyembelihan hewan ternak yang jenisnya telah ditentukan, yaitu unta, sapi atau kerbau, dan kambing.
Terlepas dari perbedaan-perbedaan itu, yang jelas baik ibadah kurban maupun sedekah, keduanya merupakan ibadah yang sangat baik dijalankan oleh setiap muslim. Karena selain bernilai ketaatan dan keikhlasan, di dalamnya juga terselip hikmah tentang kepedulian sosial atau pentingnya kita berbagi kepada sesama, khususnya mereka yang hidup dalam kubang kemiskinan.
Mungkin ada sebagian dari kita yang mempertanyakan: benarkah berkurban menjadi sebuah indikasi kepedulian sosial seorang muslim? Pertanyaan semacam ini tentu menarik untuk dibahas. Mengingat selama ini, banyak orang yang rajin berkurban setiap Iduladha tiba, bahkan mungkin ada yang tak melewatkan ibadah berkurban di setiap tahunnya.
Tentu saya sangat mengapresiasi sebagian umat Islam yang begitu rajin dan bersemangat berkurban setiap tahunnya. Akan tetapi, ada hal yang mengganggu pikiran saya, terutama ketika daging kurban tersebut sudah diberikan kepada orang-orang miskin, yang bisa jadi pada saat itu mereka sedang memiliki hal atau kebutuhan hidup yang lebih urgen daripada sekantong daging. Oke, bisa jadi mereka tak hanya mendapat satu kantong, tapi beberapa kantong daging dari orang (yang berkurban) berbeda, atau karena di daerahnya kebetulan sedang banyak orang yang mengeluarkan hewan kurban sehingga pembagian daging kurban menjadi lebih berlimpah.
Namun, pernahkan terpikirkan bahwa tak semua kondisi perekonomian warga sedang baik-baik saja? Bagaimana ketika di dapur mereka saat itu sedang tidak ada beras yang bisa dimasak, tak ada minyak goreng dan bumbu-bumbu, atau gas yang sedang habis sementara tak sepeser pun uang di tangan? Bisa jadi kalau diberi pilihan, mereka akan lebih memilih dikasih beberapa lembar uang daripada sekantong daging yang tentunya butuh sarana untuk memasaknya. Atau pilihan lain, menjual daging kurban tersebut kepada tetangga (tapi ini sepertinya mustahil dan terkesan tidak etis meskipun bukan hal tercela ya, hehehe).
Saya lantas berpikir, alangkah indahnya bila ibadah kurban juga disertai dengan ibadah sedekah. Jadi, sebagian orang berkurban, sebagian lagi mengamalkan ibadah sedekah. Ada baiknya bagi orang sudah pernah berkurban pada tahun sebelumnya, pada tahun ini memilih untuk tidak berkurban lagi dan lebih mengalokasikan uangnya untuk bersedekah (syukur-syukur ada kelebihan uang untuk berkurban lagi sekaligus bersedekah). Lalu, uang tersebut dibagi-bagikan (dengan niat sedekah) kepada mereka yang fakir miskin.
Perihal siapa saja yang layak dibantu, kita tentu bisa mendeteksi atau bertanya kepada orang-orang sekitar, atau bertanya kepada ketua RT setempat, siapa saja orang-orang yang saat itu sedang butuh uluran pertolongan. Jadi, saat Hari Raya Iduladha tiba, orang-orang yang kondisi perekonomiannya sedang tidak baik-baik saja, dapat tertolong dengan uang sedekah sekaligus daging kurban tersebut. Mereka bisa membeli beras dan bumbu-bumbu dapur untuk memasak daging tersebut. Wallahu a’lam bish-shawaab.
***
*Sam Edy Yuswanto, penulis lepas mukim di Kebumen.



