Oleh : Irsyad Rasyid Muhammad
Ramadhan tidak pernah datang dengan suara yang keras. Ia lebih suka mengetuk pelan, seperti seseorang yang ragu-ragu mengganggu tidur rumah yang lama ditinggalkan penghuninya. Ia datang seperti langkah seseorang yang berjalan di atas tanah basah setelah hujan- pelan, halus, nyaris tak terdengar, tetapi terasa mak nyes di hati. Di kampungku, di salah satu desa di Kota Kudus, Ramadhan tidak diumumkan oleh baliho atau lampu warna-warni. Ia diumumkan oleh bedug tua di Masjid, oleh suara ibu yang mulai menanak lebih banyak nasi dari biasanya, oleh anak-anak yang berlarian sambil membawa petasan kecil yang meletup sambil membawa tawa yang terlalu riang untuk disembunyikan.
Dan oleh waktu yang tiba-tiba terasa berbeda.
Aku baru benar-benar memahami hal itu ketika aku dewasa.
- Iklan -
Saat kecil dulu, Ramadhan bagiku terasa panjang seperti jalan desa yang belum diaspal. Kami bangun sahur dengan mata setengah tertutup, makan dengan sendok yang kadang jatuh karena mengantuk, lalu menunggu azan magrib dengan kesabaran yang sering kalah oleh sepotong gorengan yang sudah lebih dulu hilang dari piring. Waktu berjalan lambat seperti siput yang sedang merajuk.
Namun sekarang, ketika aku kembali ke kampung setelah bertahun-tahun kuliah di Kota Yogyakarta, aku merasakan sesuatu yang lain, Ramadhan justru terasa sangat cepat berlalu. Seolah-olah hari-hari di bulan itu tidak berjalan, melainkan terbang. Serupa melayang, lalu hilang tanpa jejak di udara
Aku tiba di rumah pada sore hari di awal dari bulan Ramadhan. Langit berwarna jingga lembut seperti kain yang baru dicelup matahari. Dari dapur, tercium aroma bawang goreng dan daun seledri yang bercampur dengan wangi kolak pisang. Panci di atas kompor mengeluarkan uap yang naik perlahan, seolah sedang menulis doa kecil ke langit-langitnya. Ibu sedang mengaduk panci dengan sendok kayu yang sudah mulai menghitam di ujungnya.
“Sudah sampai?” katanya tanpa menoleh.
“Iya, Bu.”
Ia tersenyum kecil.
Senyum yang sama yang selalu kulihat sejak kecil. Senyum yang membuat rumah terasa tetap utuh walaupun usia terus menggerogotinya sedikit demi sedikit. Senyum yang entah bagaimana selalu mampu menahan rumah ini agar tidak runtuh oleh terpaan nasib yang sering tidak baik.
“Ramadhan sudah hari kelima,” katanya sambil menuangkan kolak ke mangkuk.
Aku terdiam.
Hari kelima? Baru kemarin rasanya aku mendengar pengumuman sidang isbat di televisi. Waktu di bulan ini rupanya berjalan seperti air sungai setelah hujan: deras tanpa terasa.
Malam itu, saat langit tampak luas dan gelap seperti lautan tanpa batas, aku pergi ke Musholla Al Fata depan rumah. Bangunannya masih sama seperti dulu. Dindingnya berwarna putih pucat yang mulai terkelupas di beberapa bagian, dan karpetnya sudah tipis seperti ingatan lama yang sering diinjak tetapi tidak pernah benar-benar hilang. Namun suara di dalamnya membuat tempat itu terasa hidup. Suara orang membaca Al-Qur’an, suara anak kecil yang mengeja dengan pelan. seolah setiap huruf adalah pintu yang harus diketuk pelan. Suara kipas angin tua yang berputar dengan bunyi seperti napas orang yang ngik ngik.
Aku duduk di sudut ruangan, memperhatikan orang-orang yang datang satu per satu. Pak Toyo dengan sarung garis-garisnya, Mbah Jaelan dengan tongkat kayunya yang mengetuk lantai dan beberapa anak kecil yang wajahnya belum pernah kulihat sebelumnya. Ramadhan rupanya tidak hanya membawa ibadah. Ia juga membawa waktu yang mempersatukan orang-orang yang biasanya sibuk dengan dunia masing-masing.
***
Setelah tarawih, kami duduk di serambi Musholla. Di bawah lampu yang sinarnya masih kalah terang dengan bulan di atas sana. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma tanah dan daun mangga yang jatuh di halaman. Pak Toyo tiba-tiba berkata,
“Aneh ya. Ramadhan itu rasanya baru datang, tapi tahu-tahu sudah hampir setengah”
Aku tertawa kecil.
“Iya, Pak. cepat sekali.”
Ia mengangguk pelan.
“Rasulullah pernah mengingatkan tentang waktu. Kalau manusia tidak menjaganya, waktu akan hilang begitu saja.”
Aku tersenyum ringan, sambil memandangi halaman Musholla yang remang-remang. Tiba-tiba aku teringat sebuah hadits yang pernah kudengar bertahun-tahun lalu, tetapi baru sekarang terasa maknanya.
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang
Waktu.
Betapa sering kita mengira ia selalu ada. Padahal ia seperti pasir yang jatuh dari sela-sela jari: tidak pernah kembali ke tempat semula.
***
Hari-hari Ramadhan terus berjalan, atau mungkin lebih tepat disebut berlari. Baru kemarin rasanya aku membantu ibu menyiapkan kolak pertama Ramadhan, sekarang sudah malam ke dua puluh tujuh. Di luar, angin malam berhembus seperti bisikan yang panjang Lampu-lampu di Musholla Al-Fata mulai dinyalakan lebih lama dan beberapa orang mulai membicarakan malam Lailatul Qadar dengan suara yang penuh harap. Orang-orang membaca Al-Qur’an dengan suara yang lebih khusyuk dari biasanya. Beberapa memilih beritikaf, membentangkan sajadah tipis di sudut ruangan.
Mbah Jaelan membuka mushaf dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah ia sedang membuka jendela menuju masa lalu. Bibirnya bergerak pelan, membaca ayat demi ayat seperti seseorang yang sedang merapikan sesuatu. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat udara di musholla terasa lebih hangat. Kadang ia berhenti sejenak, menatap halaman yang sama cukup lama, seperti seseorang yang tidak ingin segera berpisah dengan kalimat yang baru saja ia temui. Tirai kecil di pintu musholla bergerak pelan, seakan ikut mengangguk-angguk mendengar ayat-ayat yang dilantunkan. Bahkan lampu-lampu neon di langit-langit tampak lebih sabar dari biasanya, menyinari wajah-wajah yang tenggelam dalam doa
Aku duduk di sana, memandangi jam di dinding. Jarumnya bergerak pelan. Namun entah mengapa aku merasa waktu berjalan lebih cepat dari yang terlihat. Seperti burung yang terbang di langit malam, tidak terlihat, tetapi pasti sedang bergerak menjauh. Ramadhan terasa seperti sahabat yang datang membawa banyak cerita, lalu diam-diam bersiap pergi sebelum kita sempat mengucapkan sepatah kata.
***
Sore yang sayu, sambil menunggu maghrib menjelang, aku duduk di beranda. Langit mulai gelap, sementara sejauh mata memandang, di kejauhan, lampu-lampu rumah masih menyala seperti bintang kecil yang jatuh ke bumi. Aku tiba-tiba menyadari sesuatu yang sederhana tetapi menohok, bahwa Ramadhan tidak pernah benar-benar singkat. Yang singkat adalah kesempatan kita di dalamnya.
Hari-harinya tetap dua puluh empat jam seperti biasa. Tetapi manusia sering datang ke bulan ini dengan hati yang setengah hadir, lalu menyesal ketika ia pergi. Seperti tamu yang datang membawa hadiah besar, tetapi kita terlalu sibuk untuk membukanya. Semuanya terasa begitu dekat. Namun juga terasa sudah jauh. Seperti mimpi yang baru saja selesai.
Beberapa saat kemudian, ibu menghampiri duduk di sampingku. Dia berkata sesuatu .
“Ramadhan tinggal sebentar lagi.”
Aku menatapnya.
Ada nada yang berbeda dalam suaranya, bukan sedih, tetapi seperti seseorang yang tahu bahwa tamu yang sangat dicintai akan segera pulang.
“Aneh ya, Bu,” kataku.
“Apa?”
“Setiap tahun kita menunggu Ramadhan lama sekali. Tapi ketika ia datang, ia pergi begitu cepat.”
Ibu tersenyum sambil menuangkan teh hangat.
“Itulah sebabnya orang bijak selalu menjaga waktunya di bulan ini.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatapku.
“Karena Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah.”
“Lalu?” tanyaku
“Ia adalah pengingat bahwa hidup juga berjalan cepat seperti itu.”
Aku terdiam.
Di luar rumah, azan magrib mulai berkumandang. Suaranya mengalun lembut seperti pelukan yang menenangkan. Tiba-tiba aku mengerti sesuatu yang membuat dadaku terasa sunyi.
Irsyad Rasyid Muhammad, adalah nama pena dari seorang pengajar sains bernama Moch. Dwi Irsyad. Lahir di Kudus, 14 Oktober 1991. Aktif mengajar di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus. Kumpulan karya puisinya termuat dalam buku Rahasia-rahasia Lakon Kahyangan (2024). Bisa dihubungi pada Instagram irsyad_amanda.




