Oleh Fajrul Alam
Beberapa waktu lalu aku sempat menghadiri acara bincang karya JS. Khairen di Purwokerto. Aku yang mengenal dia melalui buku “30 Paspor di Kelas Sang Profesor” kemudian “Melangkah” dan “Kado Terbaik” menghasrati untuk mengikuti acaranya. Sore kepalang hujan, hati sedikit banyak seumpama ingus dalam lubang hidung yang keluar masuk dengan artian berangkat atau tidak. Namun, pada akhirnya berangkatlah aku dengan berselimut mantel plastik berwarna kuning yang sedikit sobek di bagian selangkangan.
Acara berlangsung ramah meski hujan juga cukup meriah. Kudapati sepucuk pesan dari JS. Khairen yang kurang lebih berbunyi, “Bacalah dua buku dalam sebulan; satu fiksi, satu non fiksi. Fiksi untuk hati. Non fiksi untuk kepala. Ayo kita lahirkan satu perpustakan kecil untuk satu keluarga di Indonesia. Semoga ada seratus juta keluarga yang punya perpustakaan kecil.” Mendengar pesan tersebut aku turut mengimani dan mengamini-nya.
Selepas acara usai, kubeli karya beliau berjudul “Dompet Ayah Sepatu Ibu”. Novel yang banyak orang perbincangkan dan bahkan ada yang sampai bilang mengubah hidup seseorang. Sampai bulan September 2025, novel ini sudah mengalami cetak ulang yang ke-34 sejak cetakan pertamanya di bulan Agustus 2023. Hal ini aku ketahui dari buku yang aku beli. Terpampang di cover-nya semacam logo berwarna emas bertuliskan “Mega Best Seller”. Bikin aku penasaran saja dengan buku satu ini, garapan eks asisten Prof. Rhenald Kasali, Ph.D, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI).
- Iklan -
Novel “Dompet Ayah Sepatu Ibu” berisikan 26 episode, dilengkapi dengan epilog dan episode bonus yang bisa diakses melalui barcode yang terlampir sesaat sebelum buku ini berakhir. Berjumlah 216 halaman dengan ukuran 13.5 x 20 cm, buku ini bisa kalian santap dalam beberapa jam saja sebenarnya. Itu jika kalian sedang benar-benar santai dan nganggur, sebagaimana temanku yang mampu melahapnya dalam kurun waktu dua jam saja. Singkat sekali bukan? Lebih singkat dari jam tidur yang kuatur, meski seringnya tidak teratur.
Buku “Dompet Ayah Sepatu Ibu” bermula dengan adegan perjuangan seorang Zenna dan Asrul yang pada kisah nyatanya adalah orang tua JS. Khairen itu sendiri. Mereka berdua adalah penghuni pinggang Gunung Singgalang dan Gunung Marapi. Keduanya sejak kecil sudah akrab berkawan dengan yang namanya keringat dan air mata. Zenna, anak keenam dari sebelas bersaudara – anak tengah yang acap tak dianggap keberadaanya – dijanjikan sepatu baru oleh ayahnya, namun saat di tengah-tengah ujian berlangsung di sekolah ia dijemput kakaknya karena ayahnya meninggal dunia (Hlm 1-4). Sementara Asrul, anak pertama yang pernah dipukuli oleh ayahnya karena tak naik kelas. Sedang saat itu juga ayahnya meninggalkan ibu Asrul – sewaktu mengandung anak ketiganya – kepelukan istri keduanya (Hlm 5-6).
Aku menganggap kepiawaian JS. Khairen dalam bercerita serta merangkainya dalam bentuk tulisan tak serta merta berkat kerja-kerja dia sewaktu ngangsu kaweruh di Rumah Perubahan Prof. Rhenald Kasali. Karena di saat kuliah pun, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI ini sudah menulis karya berjudul “Karnoe” yang kemudian dikasih lecutan semangat oleh Prof. Rhenald. Sebelum itu, dia juga pernah dipanas-panasin oleh Tereliye, “Lo harus rasakan itu, nganterin naskah, kena tolak, revisi bolak-balik. Itu justru jadi cerita yang lebih manis” (Episode bonus Dompet Ayah Sepatu Ibu). Tak hanya itu, barangkali JS. Khairen punya bakat bercerita ini juga ada gen bawaan dari umi-nya Asrul yang dalam hal ini adalah neneknya JS. Khairen dari jalur ayah. Hal ini bisa dilihat saat Umi Asrul bercerita tentang Uwais Al-Qarni kepada Asrul dan adeknya (Hlm 7-10).
Membaca “Dompet Ayah Sepatu Ibu” seperti sedang membaca tutorial berbakti kepada orang tua dan tentang cara orang tua memperlakukan anaknya. Setidaknya buku ini mampu memberikan pandangan – terhadap ayah dan ibu – dengan beragam redaksi yang dekat atau setidaknya mudah untuk dicerna oleh banyak kalangan, dari anak-anak, remaja, dewasa, dan emak-emak. Jadi tak heran jika buku ini banyak dibaca oleh orang tua dan anak-anak sekalipun. Di sisi lain, JS. Khairen di setiap episodenya dibubuhkan semacam kata-kata singkat mudah diingat dan dibaca dalam satu tarikan napas. Hal ini yang biasanya oleh para book lovers dijadikan postingan di sosial media mereka. Entah mereka benar-benar membaca seutuhnya bukunya atau hanya comot saja, itu sudah hal lain.
Sebagai contoh, dalam episode 16 berbunyi, “Ada alasan kenapa manusia tak punya ingatan sejak lahir. Agar kau tak melihat ibumu kesakitan.” (Hlm 117). Kata-kata demikian semacam jadi mantra yang mudah diingat dan dibagikan. Ada juga dalam episode 17 disebutkan, “Selalu cium tangan ayah dan ibumu ketika berangkat dan pulang. Tak peduli berapa usiamu, tak peduli sehebat apa dirimu.” (Hlm 126).
Pendapatku pribadi, novel ini merupakan manifestasi dari bakti seorang anak terhadap orang tuanya. Seorang anak yang membuktikan kepada orang tuanya bahwa tidak ada hal yang perlu disia-siakan setelah menyekolahkan tinggi-tinggi anaknya. Tak ada yang sia-sia dari perjuangan orang tua yang dalam novel ini oleh JS. Khairen dipakaikan Dompet dan Sepatu sebagai lambang yang mewakili jerih payah dan simbol perjuangan orang tuanya. Kita bisa belajar banyak dari novel ini, tentang orang tua, anak, keluarga, dan perjuangan.
Fajrul Alam, lahir di Kebumen, Februari 2001. Kecanduan kopi dan gorengan. Saat ini menjadi tukang nginput di bilfest.id. Berangkat dari SKSP (Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban) Purwokerto, karyanya terbit di beraneka ragam koran, buku antologi puisi, majalah, dan media online. Buku antologi puisi pribadinya berjudul Resep Bahagia (Jejak Pustaka, 2025).



