Menggali Hikmah Surat Al-Waqi‘ah: Ketika Rezeki Mengantar Kita Mengingat Akhirat

Oleh Fatimatuzzahro Laeliyah

Manusia sering kali sibuk memikirkan rezeki, tetapi lupa kepada siapa rezeki itu harus dipertanggungjawabkan. Setiap pagi kita berangkat bekerja. Ada yang pergi ke kantor, membuka toko, mengajar di sekolah, mengelola usaha, pergi ke sawah, atau menjalankan berbagai profesi lainnya. Semuanya dilakukan demi satu hal yaitu memenuhi kebutuhan hidup. Tidak ada yang salah dengan mencari rezeki. Agama Islam mengajarkan umatnya untuk berikhtiar dan bekerja.

Di tengah kesibukan mengejar kehidupan dunia, ada pertanyaan yang sering terlupakan, untuk apa semua rezeki yang kita cari dan kumpulkan itu?. Pertanyaan ini menjadi menarik jika dikaitkan dengan Surat Al-Waqi’ah. Banyak umat Islam membacanya secara rutin, terutama pada pagi atau sore hari. Tidak sedikit pula yang mengenalnya sebagai surat ayang berkaitan dengan rezeki. Namun, jika kita membaca Surat Al-Waqi‘ah secara utuh, kita akan menemukan pesan yang lebih luas. Surat ini tidak hanya berbicara tentang rezeki, tetapi juga tentang kepastian hari kiamat, pembagian manusia di akhirat, kedudukan orang-orang yang berlomba dalam kebaikan, kenikmatan surga, azab neraka, penciptaan manusia, tumbuh-tumbuhan, air, api, hingga kematian. Al-Waqi‘ah bukan sekadar mengajarkan manusia tentang rezeki, tetapi juga mengajarkan tentang siapa pemilik rezeki dan ke mana manusia akan Kembali setelah kehidupan dunia berakhir.

Ketika Dunia yang kita Kejar Pasti Berakhir

Allah membuka Surat Al-Waqi‘ah dengan sebuah gambaran yang mengguncang kesadaran manusia tentang kepastian hari akhir. Allah berfirman:

اِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُۙ ١ لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ ۘ ٢

Artinya: Apabila terjadi hari kiamat, terjadinya tidak dapat didustakan (QS. Al-Waqi’ah: 1-2).

Al-Waqi‘ah merupakan salah satu nama hari kiamat. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa nama tersebut menggambarkan sebuah peristiwa yang pasti terjadi. Kiamat bukan sekadar kemungkinan yang mungkin terjadi dan mungkin tidak terjadi. Ia merupakan janji Allah yang pasti akan datang. Menariknya, Surat Al-Waqi‘ah tidak dimulai dengan pembicaraan tentang kekayaan, pekerjaan, perdagangan, atau kelapangan rezeki. Surat ini justru dimulai dengan hari kiamat. Seolah-olah manusia diajak melihat kehidupannya dari ujung perjalanan. Kita boleh memiliki cita-cita dunia. Kita boleh ingin hidup berkecukupan. Kita boleh bekerja keras untuk keluarga. Namun, Surat Al-Waqi‘ah mengingatkan bahwa semua itu bukan akhir dari perjalanan.

Tiga Golongan Manusia di Akhirat

Setelah menggambarkan kepastian hari kiamat, Allah menjelaskan bahwa manusia akan terbagi menjadi tiga golongan. Allah berfirman:

وَّكُنْتُمْ اَزْوَاجًا ثَلٰثَةً ۗ ٧

Artinya: Kamu menjadi tiga golongan, (QS. Al-Waqi’ah: 7).

Tiga golongan tersebut adalah Ashabul Yamin, Ashabus Syimal, dan As-Sabiqun. Pembagian ini mengingatkan bahwa pada akhirnya manusia tidak dinilai berdasarkan ukuran dunia semata. Kekayaan, jabatan, ketenaran, dan kedudukan sosial tidak menjadi jaminan keselamatan di akhirat. Allah SWT. kemudian menyebutkan golongan yang memiliki keddudukan istimewa, yang tertulis dalam QS. Al-Waqi’ah ayat 10-11 yaitu “Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang didekatkan kepada Allah”.

Ibnu Katsir menjelaskan berbagai pendapat ulama salaf mengenai As-Sabiqun. Di antaranya adalah mereka yang bersegera dalam melakukan kebaikan. Makna ini mengandung pelajaran yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Sering kali manusia sebenarnya mengetahui kebaikan, tetapi terlalu suka menundanya. “Nanti kalau sudah punya waktu.” “Nanti kalau sudah punya uang.” “Nanti kalau sudah tua.” “Nanti kalau pekerjaan sudah selesai.” Masalahnya, kita tidak pernah tahu apakah kesempatan “nanti” itu benar-benar akan datang. Karena itu, menjadi bagian dari As-Sabiqun bukan hanya tentang mengetahui kebaikan, tetapi tentang kesediaan untuk segera mengerjakannya. Ketika ada kesempatan bersedekah, lakukan. Ketika mampu membantu orang lain, bantulah. Ketika menyadari kesalahan, segera bertaubat. Ketika mendapat kesempatan belajar agama, manfaatkan.

Di tengah kehidupan modern, manusia sering berlomba mengejar dunia. Kita berlomba memperoleh pekerjaan yang lebih baik, penghasilan yang lebih besar, rumah yang lebih bagus, dan kehidupan yang lebih nyaman. Semua itu tidak dilarang. Namun, Al-Qur’an mengajarkan bentuk perlombaan yang lebih tinggi, yaitu berlomba dalam kebaikan. Sebab ketika manusia berlomba mengejar dunia, garis akhirnya selalu bergeser. Ketika mendapatkan satu hal, muncul keinginan berikutnya. Ketika sudah memiliki sesuatu, kita melihat orang lain memiliki sesuatu yang lebih besar. Tetapi ketika yang dikejar adalah kebaikan, setiap amal menjadi bekal.

Jangan Sibuk Mencari Rezeki hingga Lupa kepada Pemberi Rezeki

Inilah salah satu renungan penting dari Surat Al-Waqi‘ah. Manusia boleh mengejar rezeki, tetapi jangan sampai rezeki membuatnya lupa kepada Allah. Harta bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Harta dapat menjadi sarana kebaikan. Dengan harta, seseorang dapat memenuhi kebutuhan keluarganya, membantu orang miskin, mendukung pendidikan, bersedekah, dan melakukan berbagai amal. Namun, harta menjadi berbahaya ketika ia tidak lagi berada di tangan, tetapi sudah menguasai hati.

Seseorang dapat memiliki banyak uang tetapi tidak pernah merasa cukup. Penghasilan bertambah, kebutuhan ikut bertambah. Rumah membesar, keinginan juga membesar. Kendaraan berganti, standar kehidupan meningkat. Akhirnya, manusia dapat menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam keadaan terus mengejar. Padahal Islam tidak hanya bertanya berapa banyak harta yang kita miliki. Islam juga mengajarkan agar kita memperhatikan bagaimana harta itu diperoleh dan digunakan. Rezeki yang berkah bukan semata-mata rezeki yang banyak. Rezeki yang berkah adalah rezeki yang membawa kebaikan, ketenangan, dan mendekatkan seseorang kepada Allah. Karena itu, ketika Allah memberikan rezeki lebih, semestinya rasa syukur juga bertambah. Semakin besar nikmat, semakin besar pula kesempatan untuk berbagi.

Jabatan pun demikian. Jabatan adalah amanah. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar tanggung jawab yang menyertainya. Begitu pula ilmu. Ilmu adalah rezeki, tetapi ilmu seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin sombong. Semua yang Allah berikan pada akhirnya akan ditanya, bagaimana kita menggunakannya?

Surat yang Mengingatkan tentang Beratnya Hari Akhir

Ada riwayat yang dinukil dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq melihat rambut Rasulullah mulai beruban, ia bertanya tentang sebabnya. Rasulullah menyebut sejumlah surat yang membuat beliau beruban, di antaranya Surat Hud, Al-Waqi‘ah, Al-Mursalat, An-Naba’, dan At-Takwir. Al-Waqi‘ah bukan hanya berbicara tentang kenikmatan. Ia juga berbicara tentang hari kiamat, manusia yang terbagi menjadi beberapa golongan, balasan bagi orang beriman dan orang yang ingkar, nikmat Allah, serta kematian. Dengan begitu, ketika membaca Al-Waqi‘ah semestinya tidak hanya menumbuhkan harapan memperoleh kelapangan rezeki. Ia juga harus menumbuhkan rasa takut kepada Allah, harapan kepada rahmat-Nya, dan kesadaran untuk mempersiapkan kehidupan akhirat.

Al-Qur’an mendidik manusia agar memiliki keseimbangan antara raja’ dan khauf, antara harapan dan rasa takut. Kita berharap kepada rahmat Allah, tetapi tidak boleh merasa aman dari pertanggungjawaban. Kita takut terhadap dosa, tetapi tidak boleh berputus asa dari ampunan Allah.

Dari Rezeki Menuju Syukur, dari Dunia Menuju Akhirat

Surat Al-Waqi‘ah mengajarkan bahwa rezeki harus disyukuri, usaha harus dilakukan, hasilnya diserahkan kepada Allah dengan tawakal, dan kehidupan dunia harus diarahkan menuju kehidupan akhirat. Dunia bukan musuh, dunia adalah tempat beramal. Harta bukan musuh, harta adalah Amanah. Kekayaan bukan otomatis tanda kemuliaan, sebagaimana kesederhanaan bukan otomatis tanda kehinaan. Yang menentukan kemuliaan seseorang adalah bagaimana ia menggunakan apa yang Allah titipkan kepadanya. Orang yang diberi harta dapat menjadi mulia jika hartanya digunakan untuk kebaikan. Orang yang diberi ilmu dapat menjadi mulia jika ilmunya bermanfaat. Orang yang diberi jabatan dapat menjadi mulia jika jabatannya digunakan untuk keadilan. Orang yang diberi kesehatan dapat menjadi mulia jika kesehatannya digunakan untuk beribadah dan membantu sesama.

Karena itu, jangan hanya melihat rezeki dari jumlahnya. Lihatlah dari keberkahannya. Sebab pada akhirnya, seluruh yang kita kejar di dunia akan kita tinggalkan yang tersisa ada;ah amal. Maka mari membaca Surat Al-Waqi‘ah bukan sekadar sebagai rutinitas, tetapi sebagai perjalanan kesadaran: dari rezeki menuju syukur, dari usaha menuju tawakal, dari kehidupan menuju kematian, dan dari dunia menuju akhirat.

Semoga rezeki yang Allah titipkan kepada kita menjadi jalan untuk semakin dekat kepada-Nya. Semoga pekerjaan menjadi ibadah, harta menjadi sarana kebaikan, ilmu menjadi manfaat, waktu menjadi amal, dan kehidupan menjadi persiapan menuju akhirat. Sebab pada akhirnya, yang paling kita perlukan bukanlah sebanyak apa yang berhasil kita kumpulkan, melainkan keridaan Allah Yang Maha Agung.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Perkenalkan nama saya Fatimatuzzahro Laeliyah, akrab dipanggil zahro. Saya alumni Pascasarjana UIN Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto tahun 2026. Menulis menjadi hobi kedua saya setelah jalan-jalan. Menulis bagi saya kegiatan mengungkapkan pikiran, mengekspresikan diri dengan cara lebih elegan. Semoga sedikit banyak dari tulisan saya bisa menambah bacaan dan bermanfaat bagi saya dan orang lain, aamiin.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top