Merawat Kemanusiaan Pendidikan di Tengah Ledakan AI

Oleh: Dr Hendrizal SIP MPd
Dosen Prodi S2 Pendas-PGSD UBH; Penasihat Pondok Sinau Plikon (PSP) Magelang



Setiap lompatan peradaban selalu membawa harapan sekaligus kegelisahan. Hari ini, dunia memasuki babak baru ketika kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) hadir hampir di setiap ruang kehidupan. Mesin mampu menulis, menerjemahkan, menganalisis data, bahkan membantu guru menyusun pembelajaran dalam hitungan detik.

Kemajuan itu patut disyukuri sebagai buah ikhtiar manusia mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun, di balik percepatan tersebut tersimpan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah pendidikan masih mampu menumbuhkan manusia yang utuh, atau justru perlahan berubah menjadi proses menghasilkan manusia yang sekadar cakap menggunakan teknologi?

Pertanyaan itu penting karena hakikat pendidikan tidak pernah berhenti pada penguasaan pengetahuan. Pendidikan adalah ikhtiar membentuk pribadi yang mampu menggunakan ilmu untuk menghadirkan kemaslahatan. Dalam tradisi Pendidikan Ma’arif NU, ilmu selalu dipertemukan dengan adab, akal berjalan bersama akhlak, dan kemajuan dipandu oleh kebijaksanaan. Karena itu, ledakan AI semestinya tidak dipandang sebagai ancaman yang harus ditolak, tapi juga tidak boleh diterima tanpa sikap kritis. Teknologi perlu ditempatkan sebagai sarana, bukan sebagai pusat orientasi pendidikan.

Perubahan itu kini berlangsung sangat cepat. Sepanjang 2026, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan AI oleh guru Indonesia meningkat secara signifikan. AI digunakan untuk menyusun perangkat ajar, membuat materi pembelajaran, merancang evaluasi, hingga membantu pekerjaan administratif. Penelitian terhadap 349 guru juga menunjukkan bahwa adopsi teknologi ini terus berkembang, tapi masih menghadapi tantangan berupa literasi AI, kesiapan pedagogis, kualitas hasil yang dihasilkan mesin, dan kesenjangan akses digital. Fakta ini mengingatkan bahwa transformasi pendidikan tidak cukup hanya menghadirkan teknologi, melainkan juga membutuhkan kesiapan manusia yang menggunakannya.

Dalam perspektif pendidikan humanistik, manusia tidak pernah dipandang sebagai sekadar penerima informasi. Carl Rogers (1969) menegaskan, tujuan pendidikan adalah membantu setiap individu bertumbuh menjadi pribadi yang utuh, mampu mengenali potensi dirinya, sekaligus bertanggung jawab terhadap orang lain. Belajar bukan hanya proses memperoleh pengetahuan, tapi juga proses menemukan makna hidup. Di tengah era AI, pemikiran Rogers menjadi makin relevan. Sekolah tidak cukup menghasilkan peserta didik yang cerdas secara kognitif, tapi juga harus menumbuhkan empati, kejujuran, kepedulian, dan kemampuan mengambil keputusan secara etis.

Kenyataannya, budaya digital sering bergerak ke arah yang berbeda. Kecepatan lebih dihargai daripada kedalaman. Efisiensi lebih dipuji daripada proses. Jawaban instan lebih menarik daripada pencarian yang panjang. Akibatnya, peserta didik makin mudah memperoleh informasi, tapi belum tentu makin mampu memaknainya. Mereka dapat menyusun tugas dengan bantuan AI, tapi tidak otomatis memahami nilai kejujuran akademik. Mereka makin akrab dengan layar, tapi tidak selalu makin dekat dengan sesama manusia.

Paulo Freire (1970) mengingatkan, pendidikan seharusnya membebaskan manusia melalui kesadaran kritis, bukan sekadar menjadikannya penghafal informasi. Gagasan tersebut memberi pesan penting bahwa teknologi tidak boleh menggantikan proses dialog antara guru dan peserta didik. Sebaliknya, AI semestinya menjadi alat yang memperkaya ruang belajar sehingga peserta didik memiliki lebih banyak kesempatan untuk berpikir, berdiskusi, dan merefleksikan persoalan kehidupan. Pendidikan kehilangan maknanya ketika teknologi hanya digunakan untuk mempercepat penyelesaian tugas tanpa memperdalam pemahaman.

Di sinilah Pendidikan Ma’arif NU memiliki kekuatan yang tidak mudah digantikan oleh mesin. Tradisi tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal merupakan fondasi etis yang menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kematangan moral. Nilai-nilai itu mengajarkan bahwa ilmu tidak pernah berdiri sendiri. Ia harus melahirkan kebijaksanaan, menghadirkan kemanfaatan, dan memperkuat tanggung jawab sosial. Dalam dunia yang makin dipenuhi algoritma, nilai-nilai seperti ini justru menjadi kebutuhan yang makin mendesak.

Pendidikan humanistik juga mengingatkan bahwa setiap peserta didik adalah pribadi yang unik. Abraham Maslow (1970) menjelaskan, manusia hanya dapat mencapai aktualisasi diri apabila kebutuhan-kebutuhan dasarnya, termasuk rasa aman, penghargaan, dan makna hidup, terpenuhi. AI mungkin mampu membantu proses belajar menjadi lebih efektif, tapi ia tidak dapat menggantikan perhatian seorang guru yang memahami kegelisahan muridnya, tidak dapat menghadirkan keteladanan, dan tidak mampu membangun hubungan emosional yang menjadi inti pendidikan.

Penelitian mutakhir mengenai integrasi AI dalam pendidikan memperlihatkan bahwa keberhasilan transformasi digital lebih banyak ditentukan oleh kompetensi guru, kepemimpinan sekolah, dan budaya belajar yang sehat daripada oleh kecanggihan teknologi itu sendiri. Temuan ini mengandung pelajaran penting bahwa investasi terbesar pendidikan tetap harus diarahkan kepada manusia. Guru perlu terus meningkatkan literasi digitalnya, tapi pada saat yang sama juga memperkuat kapasitasnya sebagai pendidik yang membimbing karakter, menghidupkan dialog, dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan.

Karena itu, masa depan Pendidikan Ma’arif NU tidak cukup dibangun melalui pengadaan perangkat digital atau penerapan AI di ruang kelas. Yang lebih mendasar adalah memperkuat filsafat pendidikannya. Literasi digital harus berjalan beriringan dengan literasi etika. Penguasaan teknologi harus disertai tanggung jawab moral. Kemampuan menggunakan AI perlu diimbangi dengan kemampuan membedakan yang benar dan yang salah, yang bermanfaat dan yang merusak, yang cepat dan yang bermakna. Pendidikan yang hanya melahirkan manusia cerdas tanpa karakter akan kehilangan arah pengabdiannya kepada kemanusiaan.

Akhirnya, perlu disadari, masa depan pendidikan tidak akan ditentukan oleh seberapa canggih mesin yang dimiliki sekolah, melainkan oleh seberapa kuat sekolah menjaga martabat manusia. Pendidikan Ma’arif NU memiliki peluang besar untuk menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak harus mengikis nilai-nilai kemanusiaan. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi wasilah untuk memperluas manfaat ilmu apabila dipandu oleh akhlak, kebijaksanaan, dan tanggung jawab.

Ketika kecerdasan buatan terus berkembang melampaui batas-batas imajinasi, Pendidikan Ma’arif NU justru ditantang untuk melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas berpikir, tapi juga lembut hati, kokoh integritasnya, serta mampu menghadirkan ilmu sebagai jalan ibadah dan kemaslahatan bagi sesama. Di situlah pendidikan menemukan kembali makna terdalamnya: memanusiakan manusia sekaligus mendekatkannya kepada nilai-nilai yang memuliakan kehidupan. Wallahu a’lam bishawab.

*) Dr. Hendrizal, S.IP., M.Pd. adalah dosen Prodi S2 Pendas-PGSD Universitas Bung Hatta; penasihat Pondok Sinau Plikon (PSP) Magelang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top