Menyorot Fenomena Parodi Disabilitas di Jagat Maya

Oleh Sam Edy Yuswanto*
Sungguh sangat miris ketika (baru-baru ini) kita menyaksikan parodi disabilitas yang dilakukan oleh para konten kreator, influencer, hingga artis yang memiliki banyak followers dan penggemar fanatik. Apa yang mereka parodikan dan kemudian diunggah di akun media sosial seperti TikTok jelas-jelas sangat tidak pantas, mencederai kemanusiaan, dan sangat nir empati. Parahnya lagi ketika para fans berat atau pemujanya membenarkan dan membela aksi-aksi konyol tersebut.
Sungguh, tak bisa dibayangkan, betapa sedih dan kecewanya para penyandang disabilitas ketika mereka menyadari bahwa keterbatasan yang ada pada dirinya diparodikan sedemikian rupa. Dijadikan bahan olok-olok agar orang-orang menertawakannya. Padahal, segala keterbatasan yang ada di dalam diri penyandang disabilitas itu adalah takdir atau merupakan ujian dari Tuhan. Apakah pantas takdir Tuhan diparodikan atau dijadikan bahan olok-olok hanya demi mengejar viewer dan follower, atau untuk mengeruk keuntungan yang tak seberapa?
Saya sangat yakin, para orangtua yang memiliki putra-putri yang menyandang disabilitas juga merasa sangat sedih, kecewa, dan marah dengan perilaku para influencer, konten kreator dan sebagian selebritas yang membuat lelucon (yang sangat-sangat tidak lucu) tentang kaum disabilitas. Secara tidak langsung, jelas mereka sedang mengolok-olok ciptaan Tuhan.
Memahami Arti Disabilitas
Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan disabilitas? Disabilitas, sebagaimana dijelaskan di laman alodokter.com adalah keterbatasan fisik, intelektual, sensorik, atau mental yang menyebabkan seseorang kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari atau berinteraksi dengan lingkungan secara mandiri. Disabilitas dapat terlihat oleh mata atau bisa juga tidak kasatmata. WHO memperkirakan, lebih dari 1,3 miliar orang di seluruh dunia yang menyandang disabilitas. Meski memiliki keterbatasan, setiap penyandang disabilitas (difabel) memiliki hak sama dengan semua orang, termasuk hak untuk bebas dari diskriminasi dan memperoleh akses setara di masyarakat.
Mempelajari tentang disabilitas penting agar kita dapat memahami apa yang dialami dan dibutuhkan oleh para difabel dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pemahaman tersebut, kita akan lebih mudah memberikan dukungan yang tepat, menghargai perbedaan, dan hidup berdampingan dengan mereka (alodokter.com).
Di sinilah pentingnya setiap orang, apalagi kaum selebritas, para konten kreator dan influencer, untuk belajar tentang banyak hal, termasuk mempelajari kehidupan kaum disabilitas, agar mereka memiliki empati, kepedulian tinggi, dan rasa kemanusiaan yang tinggi terhadap mereka. Jangan sampai segala bentuk kekurangan yang melekat pada sebagian manusia dijadikan bahan guyonan atau olok-olok baik di dunia nyata maupun di jagat maya.
Sungguh sangat tidak manusiawi ketika segala keterbatasan fisik dijadikan sebagai bahan candaan. Memarodikan kaum disabilitas bahkan termasuk bagian dari body shaming yang jelas-jelas dilarang dalam ajaran agama mana pun. Body shaming, sebagaimana dijelaskan oleh Anas Malik (alhikmah.ac.id, 04/03/2023) merupakan problem sosial yang marak terjadi di Indonesia. Body Shaming adalah tindakan mengejek atau berkomentar negatif terhadap keadaan fisik atau tubuh orang lain dan termasuk bentuk perundungan secara verbal.
Menghina Tuhan
Menghina kekurangan fisik manusia sama saja dengan menghina yang menciptakannya, yakni Allah Swt. Ini tentu termasuk hal yang sangat dilarang dan harus berusaha kita hindari. Menghina atau mengolok-olok saja diarang, apalagi sampai diparodikan, dijadikan konten murahan dan diposting di berbagai akun media sosial yang ditonton oleh jutaan penduduk dunia.
Ada sebuah kisah (perihal larangan mengolok-olok keterbatasan yang dimiiki oleh orang lain) yang semoga bisa menjadi bahan renungan bersama. Dalam tulisannya, dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK (muslim.or.id, 01/12/2018) membeberkan kisah sebagian sahabat di zaman Rasulullah. Dikisahkan, Abdullah bin Mas’ud adalah sahabat yang memiliki betis kecil. Ketika ia mengambil ranting untuk dijadikan siwak, angin berembus dan menyingkap betisnya yang kecil, lalu para sahabat tertawa karena melihat betis Ibnu Mas’ud yang kecil itu.
Melihat kejadian tersebut, Nabi Muhammad lantas menegurnya. “Apa yang membuat kalian tertawa?” Mereka menjawab, “Wahai Nabi Allah, karena kedua betisnya yang kurus.” Nabi Saw. bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betis itu lebih berat di timbangan daripada gunung Uhud.” Hadis ini menunjukkan keharaman mengolok dan menghina fisik seseorang. Jangankan mengolok, menertawakannya pun termasuk hal yang dilarang.
Sementara fenomena yang terjadi saat ini, mereka, para influencer, konten kreator dan sebagian selebritas, melakukan hal yang lebih parah dari sekadar mengolok dan menertawakan. Ya, mereka malah membuat parodi orang-orang yang memiliki keterbatasan atau para penyandang disabilitas. Sebuah perilaku yang sangat tidak manusiawi yang mestinya berusaha untuk kita hindari. Semoga tulisan ini dapat menjadi renungan bersama. Wallahu a’lam bish-shawaab.
***
*Sam Edy Yuswanto, penulis lepas mukim di Kebumen.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top