Oleh : Yuditeha
Hujan turun. Tipis, lambat, tapi lama. Di stasiun kecil yang nyaris ditelan semak-semak, Rafi turun dari kereta dengan koper lusuh dan mata yang tampak layu. Ia tidak disambut siapa pun. Tidak ada tumpangan, tidak ada pelukan, tidak ada senyum basa-basi yang biasanya diobral saat orang pulang kampung. Hanya ada tukang ojek dengan wajah kesal karena terpaksa bekerja saat langit malas bersahabat.
“Pulang, Mas?” tanya si tukang ojek, lebih sebagai formalitas daripada keingintahuan.
Rafi mengangguk. Ia tidak tanya tarif, tidak menawar, langsung naik. Jalur menuju desanya bukan lagi aspal, tapi semacam kenangan. Sawah-sawah berubah jadi petak tanah tak terurus. Rumah-rumah yang dulu berdiri dengan dada dibusungkan kini bagai pesakitan yang menunggu mati.
- Iklan -
Desanya bernama Ledok, letaknya tak ada dalam peta Google, tapi dulu, baginya, Ledok adalah pusat semesta. Tempat ibu menjemur cabai dan anak-anak mencuri ketupat saat Lebaran. Tempat bapak mengumpat sambil memperbaiki radio tua. Tempat ia pertama kali mencium Lela di belakang musala, dan tempat terakhir ia membanting pintu lalu bersumpah tak akan pernah kembali.
Rumah itu masih berdiri. Atau lebih tepatnya belum roboh. Genteng-genteng mencuat. Dindingnya basah oleh lumut, dan halaman penuh daun mangga yang tak sempat disapu. Pintu tidak terkunci, gemboknya sudah karatan. Rafi mengetuk pintu bukan karena berharap dibukakan, tapi lebih untuk menghormati arwah masa lalu yang mungkin masih berada di situ.
Tentu saja tidak ada jawaban. Ia mendorong daun pintu, dan suara engselnya mirip rintihan seseorang yang terlalu lama menahan nyeri. Di dalam, menguar aroma kampung bercampur dengan bau apak dari perabot kayu yang mulai membusuk. Di meja masih ada toples kosong dan taplak sobek, seakan waktu di rumah itu bukan berhenti, tapi memilih diam.
Ia meletakkan koper, duduk di kursi reyot, dan mengusap wajahnya. Rafi bukan sedang pulang. Ia hanya kehabisan tempat lain untuk pergi.
Warga desa tidak lagi ingat namanya. Atau pura-pura tidak ingat. Satu dua ibu-ibu menyapanya saat berpapasan di warung, tapi lebih karena ingin tahu apakah ia pulang untuk menjual rumah atau mencari harta warisan. Yang lain hanya melirik dari balik pintu.
“Anaknya Bu Murni, ya?” tanya seorang lelaki setengah botak, yang belakangan Rafi tahu bernama Pak Gito.
“Iya, Pak.”
“Ibumu sudah meninggal tiga bulan lalu. Nggak ada yang ngasih tahu?”
Rafi menggeleng, tapi ia tahu dari sepupu jauhnya yang mengirim pesan singkat tiga minggu setelah pemakaman. Ia tidak langsung pulang. Bukan cuma karena gengsi, tapi karena tak sanggup melihat makam yang dianggap dibuat dari uang hasil penipuan, uang yang pernah ia kirim sambil berbohong bahwa ia sudah menjadi orang penting.
“Waktu sakit, katanya pengin kamu pulang. Tapi ya sudahlah,” tambah Pak Gito sambil menyalakan rokok dan menatap awan.
Rafi menatap langit-langit kamar yang sama saat ia kabur bertahun-tahun lalu. Ia tidak tidur. Di bawah bantal, ada dokumen fotokopi, surat tuduhan penggelapan dana lembaga tempat ia dulu bekerja. Nama Rafi tak pernah disebut dalam berita, tapi cukup jadi rumor di kota. Setelah jadi bulan-bulanan media, fotonya terpampang di portal berita selama berhari-hari, dan namanya dijadikan contoh pengkhianatan, ia kehilangan pekerjaan, kontrakan, dan teman. Ia mencoba hidup dari satu tempat ke tempat lain.
Dan sekarang, ia di sini. Bukan karena rindu. Tapi karena satu-satunya tempat yang belum mengusirnya adalah rumah yang dulu ia tinggalkan karena malu pada ibunya sendiri. Paginya, ia membuka lemari tua yang penuh sarang laba-laba dan menemukan sebuah kotak kecil. Di dalamnya ada surat-surat lama yang tak pernah sampai ke tangannya. Surat dari Ibu. Tulisan tangannya masih rapi, sama dengan dulu saat menulis daftar belanja.
Rafi membaca satu per satu. Isinya sederhana. Tentang hasil panen, tentang harga beras, tentang ayam tetangga yang suka bertelur di kebun. Tapi makin ke belakang, surat-surat itu berubah. Ada kalimat-kalimat sepi yang diselipkan di antara cerita-cerita yang disampaikan.
Kalau kamu pulang, ibu ingin masak sayur asem seperti dulu. Tapi kamu pasti sudah lupa rasanya.
Atau: Kalau kamu menikah, kabari ya. Ibu pengin tahu kamu bahagia. Tapi kamu jarang cerita.
Atau: Ibu mimpi kamu datang. Tapi kamu cuma berdiri di depan pagar, lalu pergi lagi.”
Rafi menutup kotak itu. Ia tidak menangis. Ia hanya merasa lapar. Hari itu perutnya belum sempat diisi. Hari-hari berikutnya ia bersih-bersih rumah. Bukan karena ingin menetap, tapi karena ia tak tahu harus berbuat apa. Sampai suatu hari, ia dikunjungi dua orang asing berpakaian semi-formal. Mereka memperkenalkan diri sebagai orang dari lembaga lama tempat Rafi bekerja. Satu dari mereka menyebut soal uang, satu lagi menyebut soal rekonsiliasi.
“Kami dengar Anda tinggal di sini sekarang. Ini alamat terakhir yang bisa kami lacak.”
“Saya tidak tinggal. Saya hanya mampir,” jawab Rafi. “Atau menunggu mati. Boleh pilih mana.”
Mereka menyerahkan satu amplop. Isinya surat permohonan klarifikasi. Rafi tidak membacanya. Ia menaruhnya di atas tumpukan surat-surat ibu, lalu menyuguhkan air putih dari kendi tua.
Beberapa hari setelahnya, Lela datang. Ia masih tinggal di desa, menikah dengan lelaki yang dulu pernah jadi musuh Rafi di kelas 2 SMP. Ia menggendong anak, dan wajahnya tetap cantik, meski sudah dilapisi kantung mata dan lelah.
“Kamu masih ingat aku?” tanyanya, setengah bercanda.
“Aku ingat bau rambutmu,” jawab Rafi. Dan mereka tertawa, sedikit canggung, ibarat orang yang saling memaafkan dosa kecil yang pernah diperbuatnya.
“Ibu kamu sering cerita. Katanya, kamu pergi karena malu.”
“Aku pergi karena ingin jadi orang lain. Tapi malah jadi orang yang nggak dikenal siapa-siapa.”
“Rumah ini lebih sedih dari yang aku bayangkan,” gumam Lela sambil menatap ke dalam.
“Aku juga. Tapi sekarang sudah nggak penting lagi.”
Mereka diam cukup lama. Lalu Lela pamit. Sebelum pulang, ia berkata pelan: “Kalau kamu butuh tempat singgah, rumahku cuma dua gang dari sini. Tapi kalau kamu mau kabur lagi, ya aku anggap kamu nggak pernah pulang.”
Rafi tidak menjawab.
Malam itu, ia tidak tidur. Ia menyalakan kompor, memasak nasi, menggoreng ikan asin, dan merebus sayur asem. Ia makan sendirian, dengan suara TV yang hanya menampilkan semut-semut digital. Di luar hujan turun. Ia menulis sesuatu di kertas bekas: Saya tidak bersalah. Tapi juga tidak suci. Masalahnya mungkin dunia tetap tidak pernah mau menyediakan ruang bagi orang-orang setengah seperti dirinya.
Ia menulis itu berulang-ulang, seolah sedang menghafalkan pembelaan untuk pengadilan yang tak pernah datang. Lalu ia menaruhnya di dekat bantal. Di samping surat dari dua tamu tak diundang itu.
Keesokan harinya, rumah itu kosong. Bukan karena ditinggal. Di tengah ruang tamu, Rafi masih ada. Ia sedang duduk. Matanya terbuka. Tapi ia tak menjawab ketika dipanggil.
Dokumen-dokumen basah oleh air bocor dari genteng. Surat pengaduan, surat dari ibu, dan secarik pengakuan. Orang-orang mulai berdatangan, dan bertanya. Sejak saat itu memang tidak ada gosip lagi karena tempat itu telah benar-benar menjadi rumah terakhirnya. Satu-satunya tempat yang ia merasa tetap bisa diterima dengan utuh.***
Yuditeha, Penulis yang tinggal di Karanganyar. Cerpennya berjudul Biografi Luka menjadi salah satu cerpen terbaik pilihan Kompas, 2023. IG: @yuditeha2




