JURI LOMBA
dua meja dirapatkan seperti dua garis nasib
lembar-lembar penilaian terhampar
seperti halaman nasib di ambang ketuk palu
- Iklan -
di hadapannya, anak-anak berderet
merapikan kostum, mematutkan wajah di layar kecil
sementara doa-doa yang mereka erami semalaman
masih bergetar di pelupuk mata
aku duduk di antara dua penakar suara
katanya kami fasih membaca bahasa dan kehilangan
namun di meja hanya ada kolom-kolom sunyi
tempat nama akan dijatuhkan
atau dibiarkan menggantung
di luar, gerimis menulis sesuatu di kaca
perlahan ia merembes ke dadaku
menjadi kabut yang harus kutepis
saat menimbang gemetar di mata kantuk mereka
menyusunnya dalam urutan
yang tak pernah netral
rintih dan sorot mata saling bersilang
seperti layang-layang mencari angin
sementara aku terkurung di antara denting hujan
belajar memisahkan harap dari suara
dan diam-diam bertanya
doa siapa yang cukup kuat
untuk menembus angka-angka
Wonosobo, 2025
MATAHARI MEMBEKU
matahari yang kukenal dari teriknya
mendadak membeku di dataran tinggi Dieng
cahaya tergantung seperti napas yang tertahan
sementara wajah polosmu
menyingsingkan dingin di pipi pagi
betapa ingin aku menjelma pohon-pohon yang tegak itu
agar cabangku dapat mengangkat doamu
lebih dekat ke langit yang berembun
agar ranting-rantingku merapatkan resleting angin
supaya kau tak perlu membaca arah
di jejak langkahku yang berasap
esok akan kubimbing kau pulang
ke pangkuan hangat yang kau impikan semalam
sebab matahari yang membeku ini
tak pantas berdampingan
dengan embun di kelopak matamu
yang terlalu sering jatuh
Wonosobo, 2025
MANTRA
simsalabim
aroma tubuhmu sehabis mandi
menyelinap seperti Al-Fatihah
yang luput dari khusyuk sembahyangku
aku gamang, bahkan untuk sekadar membayangkan
matamu yang orang tuduh terlalu sinis
mengeja bismillah di cermin wajahku
simsalabim
mantra masa kecil yang dulu kita percaya
mampu menggiring mukjizat dari udara tipis
kini terdengar lirih
kalah khidmat oleh ayat-ayat
yang kau simpan di luar kepala
namun tak pernah kau biarkan
menetap di antara kita
lebih-kurang ketika malam menua menuju subuh
kita berpapasan dengan doa-doa asing
melintas tanpa menyapa arah pulang
kita melangkah ragu
namun tetap bersekongkol pada jalan kecil
yang semalam kita sembunyikan
tempat bisik menjelma zikir
dan hening menghafal kita
tanpa perlu suara
2023
BERBICARA NASIB BERSAMA MATAHARI
pagi ini aku berbicara dengan matahari
ia menabur hangat di bahuku
seperti jarimu yang pernah
meraba daun gugur di tubuhku
cahaya menjanjikan lingkar kelingking
sumpah kecil yang meleleh
di bibirnya sendiri
aku percaya pada kilau itu
pada cangkang kata-kata
yang retak ketika siang meninggi
barulah kutahu
punggung matahari selalu menyimpan gosong
bekas bakar dari janji
yang kupelihara terlalu dekat
hingga hangatnya berubah arang
burung-burung melintas
menarik roda peruntungan di langit tipis
hari diaduk seperti kopi pekat
dan ampasnya kita sesap perlahan
pahit yang menetap
menghitam di dasar dada
lalu nasib
menetes ke kerongkongan waktu
menjadi lapar yang berdesir lirih
merayap seperti cicak
di bilik bisu yang kita huni
2023
TELUR
aku menetaskan sebutir telur
belum genap menjadi bentuk
retaknya melahirkan denyut-denyut resah
meraba udara kamar
yang masih menyimpan sisa lagu dan rambut rontok
di tepi ranjang, usia kita terbelah dua
menunggu tidur yang tak sungguh tiba
inti yang tumbuh dari peluh dan pedih
dari dua perut
yang saling mengerami bara
hari demi hari kita jaga hangatnya
di bawah atap yang menahan gerimis kabar
tetapi musim datang dengan napas beku
mendinginkan satu per satu bakal terbangnya
2023
Efen Nurfiana. Karyanya terdokumentasi dalam kumpulan sajak Dadamu Serumpun Pohon (Wadas Kelir Publisher, 2023), Gus Mus dan Simbolisme Feminin (Wadas Kelir Publisher, 2023




