Puisi-Puisi Alexander Robert Nainggolan, Hampir Pagi Di Jogja, Di Heha Skyview, Karma, De Ja Vu, Disleksia Puisi

HAMPIR PAGI DI JOGJA *

 

lempuyangan, di gelap subuh

tapi kereta sudah tiba

dingin malam memeluk rel

hampir pagi di jogja

barangkali engkau terlalu lama menunggu

di pintu keluar arah utara

 

dan suara sinyal kereta

langkah orang-orang

aku menciut memasuki malioboro

ingin mengulum senyum manismu

rindu pada kancing bajumu

 

apa yang bisa kauingat bertahun tentang jogja?

warna lukisan, puisi yang abadi atau suara musik yang penuh jejak instrumen

 

tentu, setelah ini kita akan makan gudeg atau pecel

dan bermalam di angkringan

lalu rebah di salah satu kamar hotel

di sepanjang malioboro

 

menemui pagi getih lainnya

dari jogja yang membara

di matamu

 

 

2023

 

* ingatan pada lirik lagu “Sepasang Mata Bola”

 

 

DI HEHA SKYVIEW

 

kau bilang, di sini langit jogja yang sesungguhnya

biru nyalang dari ketinggian

dengan gunung kidul memecah pandangan

 

merapi nyala dalam malam

di puncaknya yang merah

kita seperti berlomba mengenang sejarah

ihwal lava

atau batu terbelah

 

di sini, hanya ada kelebat angin

menekuk liukan pijar mata yang menggambar

jogja dengan penuh warna

 

dan tataplah langit

luas jernih

di kebiruan

dalam kelengangan mata

yang diam

jogja penuh cahaya

 

 

2023

 

 

KARMA

 

engkau mungkin hanya duduk. sekadar diam. membaca peristiwa, cuaca, atau tanda-tanda yang tak pernah terjamah. lalu berdoa. dan sejumlah harapan menggeliat, menelusup ke setiap kutub silsilah. janji yang terpenggal. ingatan remang, atau kebenaran yang menjelma pesakitan. hanya ada igau, mungkin sejumlah gerutu, melengkapkan gurau. tak ada catatan terlebih baliho lebar terbentang di jalan. ungkapan protes atau gelombang kerumun orang unjuk rasa. tapi ada cercah cahaya yang mengintip, acap membuatmu tersenyum. seperti menghitung kesedihan atau kekalahanmu. dan kecurangan ini makin nyata, seperti tusukan jarum pada jangat kulit. engkau menahan sakit tanpa jerit. hanya dalam doa. hingga kau akan bahagia segalanya kelak akan berbalik. dan kau tersenyum bahagia, sebuah sudut waktu ketika engkau menyaksikan peristiwa baru. bukan yang lalu. segala penggal tak lagi mengepal. semua akan kembali semula, seperti doa di binar cahaya mata.

yang menabur akan hambur

yang tertuai akan lepai

 

2024

 

 DE JA VU

 1/

menyimpan freud di kelamin. terlempar ke luar, di sebuah tempat yang dipenuhi angin. cuaca tak terbaca. kota runtuh, terbakar bagai romawi di masalalu. tapi, seorang yang gemar pesta melangkah maju. dengan megaphone di bibirnya, “selamatkan kaum muda dari marijuana!”

aku menelusup di kerumun orang-orang yang membawa potret presiden di masalalu. hari mendadak kering. jidat mereka dipenuhi kenangan yang sehitam arang. dipenuhi kepulan asap yang pengap.

2/

suara jam welker, berdering. melebihi detak pada jantungmu. hanya ada sisa gedung terbakar, kerumun orang dengan pakaian kotor, juga tatapan nyala api di kornea. seseorang dengan tubuh tambun berseru lagi, “pilihlah saya! sebab mustahil duka bakal pergi!”

3/

di antara bau mesiu, di manakah kamu? sejarah selalu lelah mencatat barisan dusta, dengan angka atau kata. kini, engkau akan keluar rumah barangkali hanya sebentar. sebelum kota ini terbakar, dan jam malam dinyatakan. kita kehilangan rindu dan langkah untuk pulang.

 

Poris Plawad, 2019-2024

  

 

DISLEKSIA PUISI

betapa banyak kata yang tak kunjung bergetar, melebar ke pinggiran kota. menghimpit di celah kerumunan. lalu ia tergesa mencari di kelokan gang, di gawai-gawai pada lembah situs jejaring sosial. di antara gagap yang pengap. pada gelap yang lama terperangkap. insulin diksi yang kehilangan sunyi, dan kata-kata redup—kehilangan cahaya. samar dan pudar.

 

meski ia percaya ada seseorang di kejauhan

membaca setiap serpihan kata

merakitnya seperti nuh membuat perahu

bekerja tanpa gemuruh

 

pada bagian-bagian yang hilang tak mampu disatukannya dalam puisi. selalu ada rongga yang lebar, hingga ia merasa harus masuk meski dengan langkah gemetar. mungkin secuil kesedihan, yang berulangkali dituliskan dalam sejumlah memoar, tentang nama seseorang yang tak sepenuhnya mampu diterawang.

dari kejauhan engkau mungkin akan tertawa, menganggap dirinya sedikit gila atau autis. lalu kaca-kaca pecah, jatuh dalam tangis. seperti daun coklat enggan terjebak dalam benang gerimis. pada bekas karat dari pagar rumah. terimbun lkelah.

tanpa lelah ia punguti lagi setiap sisi. ingin merangkainya kembali. merapikan lekuk ingatan. sebelum sibuk kota masuk ke dalam kepalanya.

hingga berpuluh tahun, ia gagal mengucap atau sekadar mencatat. amnesia sebagai doa.

 

2024

 

  

Alexander Robert Nainggolan (Alex R. Nainggolan) lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Bekerja sebagai staf Unit Pengelola Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPPMPTSP) Kota Adm. Jakarta Barat. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di media cetak dan online. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016), Dua Pekan Kesunyian (kumpulan puisi, Penerbit JBS, 2023), Fragmen-fragmen bagi Sayyidina Muhammad (kumpulan puisi, Penerbit Diva Press, 2024)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top