PuisiSastra

Puisi-puisi Puji Pistols

CATATAN HARIAN

Pantura hujan
Lampu padam
Nggak ada sinyal

SEPATU
_di Malioboro
perjalanan menjalin kaki kita
membawa rute tali sepatu
sebagai penanda hidup, yang
menyimpan kedatangan
begitu pula kepergian perjalanan
mengingatkan banyak nama-nama
sesudah itu akan dikenang menjadi
bahasa rumah apabila di rindukan
“aku tiduran, aku berjalan dalam fiksi,
cahaya taman, 0 kilo meter, lampu berpijar,
dingin malam
aku diserang demam”

Jogja 2019

POP CORN
mungkin ada perbincangan sia-sia
cerita jagung bbq berhenti di ujung di ujung
mata kamera
cinta kerap sedih dimusnahkan
panjang harapan
perempuan yang pernah makan pop corn
di rumahnya pindah di suatu kota

DARI PINGGIR JEMBATAN JALAN PEMUDA, MENGIRIM WHATSAPP
_tiap cerita mungkin bermula dari pesan-pesan keluar keseharian

kadang-kadang seseorang butuh obat demam
hati terbaring sepi, hidup butuh pijakan berdiri
bahasa hari ini hanya ingin beberapa menit
transit- selesai, seperti mencoba rasa baru
pizza + saladp organik
hati tak lagi tempat untuk curhat segala hal
aku pengen bikin puisi romantis untukmu
beberapa larik saja
tapi, cinta berjalan seperti logika cuaca
berubah tak tentu
setelah ini kau mungkin tidak memerlukan pesan-pesan berikutnya
kau pergi aku mengerti

AKU MENULIS PUISI UNTUKMU HARI INI
_di kehidupan apa bakal kita menangkan

setiap orang punya mimpi buruk
dan impian baik
di waktu gerimis, terik matahari
malam-malam lagi sepi
hidup terus mengumbar cerita
seperti halaman-halaman buku puisi
benda yang percaya bakal bernasib sepi

BIODATA PENYAIR
Puji Pistols, penyair dari Pati lahir dengan nama Pujianto bekerja sebagai peracik kopi kampung, di undang dalam seminar literasi, Jogjakarta International Literary Festival ( Jogjakarta, 2019). Buku puisinya; Tokoh-tokoh dalam sepuluh lompatan ( Basa Basi, Jogja, 2019), ia menyukai musik, puisi dan kucing.

Tinggalkan Balasan