ArtikelOpini

Keharusan Santri Mengawal NKRI

Ilustrasi Republika

Oleh Afina Izzati

Santri adalah unsur penting dalam pendidikan di pesantren yang memiliki tugas untuk belajar ilmu keagamaan dan tidak terlepas dari tugas mengajinya. Tugas santri saat ini tidaklah hanya sekedar belajar dan mengaji di pesantren saja, namun lebih jauh lagi, santri berhak ikut andil dalam mempertahankan kekokohan NKRI dengan cara-cara yang Islami. Oleh karena itu santri harus ikut berperan aktif dalam mengawal NKRI.

Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat amat dijaga kedaulatannya. Meski demikian banyak pihak-pihak yang mencoba mengikis kekokohan NKRI ini dengan menyebar isu-isu yang tidak jelas kebenarannya. Oleh karena itu permasalahan di Indonesia kian hari kian pelik. Sesuatu yang sederhana selalu menjadi permasalahan yang sebenarnya tidak perlu untuk diperdebatkan. Ini merupakan salah satu akibat masuknya orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan yang lurus namun memiliki keberanian yang kuat untuk menyebar luaskan paham dangkal yang mereka miliki serta isu-isu kosong yang mereka buat. Mereka ingin menguasai dan diakui keberadaannya oleh banyak pihak lambat laun.

Selain itu karena kurangnya pemahaman masyarakat terhadap kelompok-kelompok baru sehingga dengan mudah ikut terseret arus. Maka dari itu perlu sekali adanya sosok-sosok yang mampu menggiring kembali opini-opini dan kekeliruan pemahaman yang dimiliki beberapa masyarakat untuk menjadi pemahaman yang lurus. Di sinilah peran santri sebagai kaum yang dekat dengan masyarakat dinantikan kiprahnya.

Keberadaan santri sangat diharapkan sumbangsihnya terhadap keutuhan NKRI. Salah satu usaha dalam menyiapkan santri yang kuat dan tangguh adalah dengan adanya pelatihan-pelatihan pengkaderan yang sering kali diadakan oleh Banom-banom NU seperti DIKLATSAR (pendidikan Latihan Dasar) GP Ansor, dan lainnya. Pelatihan ini merupakan gerakan untuk menyiapkan kader-kader yang tangguh dalam menghadapi tantangan dewasa ini yang semakin kompleks. Selain itu diharapkan dengan mengikuti kegiatan tersebut tercetak kader-kader yang militan dan berakhlakul karimah sehingga santri dapat siap menghadapi tantangan jaman.

Beberapa materi harus mampu dikuasai dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh organisasi NU, diantarnya mengenai kebangsaan, keorganisian, dan lainnya. Komitmen diri untuk terus menjaga NKRI dengan berlandaskan agama terus dijadikan point utama.  Ini begitu sangat penting untuk ditekankan dikalangan santri sehingga setelah selesai mengikuti kegiatan pengkaderan akan muncul pemuda-pemuda yang militan.

Fungsi inilah yang harusnya disadari oleh pimpinan-pimpinan pondok pesantren yang ada di Indonesia. Karena peran santri sangat dibutuhkan untuk membesarkan dan mengawal negara ini. Mengingat sejarah negara Indonesia yang tidak terlepas dari peran santri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sehingga pimpinan pesantren sudah semestinya mengutus santri-santrinya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kemilitanan mereka.

Pimpinan pesantren harus mampu menggerakkan santri-santrinya untuk ikut berpartisipasi dalam menjaga NKRI, mengingat setiap perkataan seorang pimpinan pesantren atau kiai akan selalu diikuti oleh santri-santrinya. Oleh karena itu pimpinan pesantren atau kiai harus menyadari bahwa dalam menjaga keutuhan negara ini harus dikawal dari berbagai lini termasuk dari lingkungan pesantren dengan kiprah kaum mudanya yaitu santri.

Wujud santri dalam keikut sertaannya menjaga dan mengawal NKRI dapat diwujudkan dalam berbagai hal, diantaranya melalui media sosial yang sedang gencar-gencarnya diserang oleh berbagai pihak. Dengan meluruskan berita-berita hoaks dan menyebarkan berita dan pengetahuan yang positif kepada masyarakat.

Oleh karena itu santri harus melek teknologi, sehingga ketika keutuhan NKRI mulai diserang maka santri dapat tampil disana. Itulah mengapa santri butuh dibekali berbagai materi mengenai kebangsaan dan keorganisasian sehingga dapat bijak dalam bersikap.

Peran santri dalam kemerdekaan Indonesia sudah banyak diakui oleh banyak pihak, baik kalangan akademisi maupun kalangan pemerintah dengan ditetapkannya Hari Santri pada 22 Oktober dengan didasarkan pada Resolusi Jihad. Pemerintah sudah sepantasnya memberikan peluang-peluang dan kebebasan serta memberikan media dan fasilitas kepada para santri untuk dapat ikut berkiprah sebagai wujud keikutsertaan dalam menjaga dan mengawal NKRI dari musuh-musuh terselubung.

-Penulis adalah Santriwati Pondok Pesantren Al-Aziz Lasem Rembang

Tinggalkan Balasan