Pustaka

Relevansi Literasi Baru di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0

Biodata Buku:
Judul Buku : Konsep dan Aplikasi Literasi Baru di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0
Penulis : Farid Ahmadi, M.Kom., Ph.D dan Hamidulloh Ibda, M.Pd
Penerbit : CV Pilar Nusantara
Cetakan : Pertama, April, 2019
Tebal : 21 x 14 cm, ix + 171 Halaman
ISBN : 978-602-53992-5-1

Pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk keberlangsungan negara, karena dengan manusia terdidik maka negara akan mengalami kemajuan yang sangat pesat. Pendidikan jangan selalu diartikan sebagai suatu lembaga untuk proses belajar mengajar, artinya mau sekolah di negeri, atau swasta, ataupun di jalananpun ketik amasih mau belajar itulah pendidikan.

Dalam pendidikan, adapun metode yang digunakan pada keberlangsungan pembelajaran, semua ada caranya, tidak instan, mau makan mie instan saja harus membuat dahulu, mau direbus atau digoreng yang pasti ada caranya. Dalam pendidikan dan proses pembelajaran kita sering dikenalkan dengan literasi, ataupun literasi sebagai metode belajar mengajar. Literasi adalah kegiatan membaca, menulis, dan berbicara yang masuk dalam bagian dari caturtunggal keterampilan berbahasa.

Adapun masalah yang dihadapi berbeda dan zamanya berbeda maka dibutuhkan sebuah metode literasi baru. Karena literasi di abad 21 ataupun di era revolusi industry 4.0 dan society 5.0 yang masalahnya berbeda dengan era MEA (Masyarakat Ekonomi Asia). Dan literasi di era sekarang menghruskan masuk ranah teknologi dan informasi bahkan robotic, dan itu semua dapat digapai ketika sekolah disekolahan formal dan lanjut sampai perguruan tinggi.

Lulusan perguruan tinggi harus berkualitas, ada tiga kunci , yaitu “kompetensi, karakter, literasi” yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Dalam pembelajaran dan juga kompetensi kesiswaan dan kemahasiswaan, soal Higher Order Thinking Skills (HOST) perlu diperbanyak. Sedangkan karakter moral dan kinerja keduanya harus ditumbuhkan. Pendidikan menuntut literasi baru, selain literasi lama yang hanya berorientasi pada literasi membaca, menulis, dan berhitung. (Hal 1-4).

Konsep dan aplikasi literasi baru adalah usaha untuk menjawab tantangan jawab guna memajukan bangsa Indonesia dalam pendidikan. Pada abad 21 perubahan sangat ditentukan dari perubahan literasi dan teknologi. Literasi ditulis, didiskusikan, diteliti, dan disosialisasikan dimana-mana, yang didalamnya ada teknologi. Digaungkan di sekolah, madrasah, rumah, perpustakaan, ditumbuhkembangkan diperguruan tinggi.

Abad 21 membawa manusia kedalam lambah teknologi yang penuh perubahan yang sangat dahsyat. Perubahan begitu cepat dan mengharuskan elemen pendidikan memiliki keterampilan dan literasi yang sesuai pada abad 21. Di sekolah manapun dan perguruan tinggi mana saja pembelajaran tidak boleh monoton, artinya pendidikan harus bias membuat metode-metode baru sesuai dengan kondisi yang dihadapi dan diharapkan mampu memenuhi keterampilan abad 21 yang terbagi atas beberapa hal.

Yang pertama, pembelajaran keterampilan inovasi meliputi penguasaan pengetahuan, keterampilan yang beraneka ragam, pembelajaran, inovasi, berpikir kritis, penyelesaian sebuah masalah, komunikasi, kolaborasi, kreativitas. Kedua, keterampilan literasi digital meliputi literasi informasi, literasi media, dan literasi ICT. Ketiga, karir dan kecakapan hidup meliputi fleksibilitas dan adaptabilitas, inisiatif, interaksi social, produktivitas, akuntabilitas, kepemimpinan dan tanggung jawab.

Literasi tidak hanya keterampilan menulis dan membaca saja, namun keterampilan berpikir dengan menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, ndigital, dan auditori. Literasi dapat dijabarkan menjadi 5, (1) Literasi dini, (2) Literasi dasar, (3) Literasi perpustakaan, (4) Literasi media, (5) Literasi teknologi dan visual. Selain itu, abad 21 juga menuntut pelajar dan mahasiswa berpikir tingkat tinggi alias HOTS. HOTS didefinisikan sebagai cara berpikir tingkat tinggi daripada menghafal, atau menceritakan kembali sesuatu yang diceritakan orang lain.

Keterampilan mental ini, pada awalnya ditentukan berdasarkan Taksonomi Bloom yang mengategorikan berbagai tingkat pemikiran, mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi. Yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan analisis, sintesis dan evaluasi. Ranah kognitif ini kemudia direvisi oleh Lorin Anderson, David Krathwohl, dkk, pada 2001, urutanya diubah menjadi, mengingat, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mengevaluasi, mencipta. Barratt (2014) berpendapat, Higher Order Thinking Skill adalah keterampilan berpikir tingkat tinggi yang menuntut pemikiran secara kritis, kreatif, analitis, terhadap informasi dan data dalam memecahkan permasalahan.

Keterampilan ini awalnya ditentukan berdasarkan Taksonomi Bloom yang yang mengategorikan berbagai tingkat pemikiran, mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Respon atas perkembangan zaman sudah ditangkap oleh pemerintah, dengan cara melakukan transformasi kurikulum 2013. Jika merujuk paradigm didikmaupun paradigm ajar, pembelajaran dapat diartikan sebagai suatau system atau proses membelajarkan peserta didik yang dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar pesrta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Pembelajaran memproses input dengan tujuan agar menghasilkan output atau outcome yang diinginkan. Untuk itu, penerapan HOST harus menggiring siswa dan mahasiswa dapat berpikir logis, kreatif, komunikatif yang dibutuhkan diabad 21. Tanpa hal itu pendidikan yang capaianya harus menjawab era abad 21 akan dilaksanakan karena era ini membutuhkan keterampilan yang sangat kompleks. Maka semua guru, dosen, dan akademisi, harus dapat mewujudkanhal itu dalam rangka menggapai peradaban literasi. (Hal 37-43).

Dalam buku ini tidak ada urgensitas ataupun relevansi yang jelas guna penerapan literasi baru di abad 21 atau era Revolusi Industry 4.0 dan Society 5.0. Adapun isinya lebih kepada teori penerapan literasi baru dan berberapa pendapat ahli yang berpusat pada teori literasi dan pemaknaan literasi. Seharusnya dapat menjelaskan permasalahan-permasalahan yang ada sehingga literasi baru sangat urgen untuk diterapkan. Adapun kalimat singkatan yang tidak dijelaskan seperti ICT, dan kalimat yang diulang-ulang akan membingungkan pembaca.

Namun dengan membaca buku ini mencerahkan sekolah ataupun perguruan tinggi, agar dapat dengan cepat menyesuaikan dengan perubahan zaman atau kemajuan teknologi. Adapun konsep aplikasi literasi baru mulai dari rumah, sekolah dasar, madrasah, perguruan tinggi semua dijelaskan dengan detail. Tapi bahasa yang digunakan terlalu kaku jika anak smp yang membaca pasti tidak akan paham, buku ini dapat dibaca oleh anak SMA dan mahasiswa, karena ditingkatan itu baru paham dengan bahasa yang digunakan dalam buku ini.

-Diresensi Muhammad Adi Sucahyo, Pegiat Literasi di Pena Aswaja

Tinggalkan Balasan