ArtikelOpini

Desember Bulan Gus Dur

Oleh Usman Mafrukhin

Gus Dur adalah nama yang menyimpan kekayaan humaniora dan pengetahuan baik intelektual dan spiritual, yang seakan tak pernah habis untuk di kaji dalam negeri ini. Meski telah pulang, beliau masih disebut dan kata-katanya masih dikutip dan diurai oleh banyak kalangan orang, ini sangat menarik. Bagaimana rahasianya?

Gus Dur pernah mengutip dan menyenandungkan kata-kata ibnu athailah al sakandari (w 1309 m) yang berisi, “Tanamlah eksistensimu pada tanah yang tak dikenal sebab sesuatu yang tumbuh dari biji yang tak ditanam tak berubah matang.”

Di dalamnya teraimpan gejolak spiritualisme yang sangat kuat, sang penulis agaknya menemukan maknanya dalam termenungan dalam sunyi. Di kutip oleh K.H Husein Muhammad, Puisi tersebut mencerminkan bicara menjauhkan soal hasrat dan ambisi akan popularitas, kemasyhuran diri dan politik pencitraan. Artinya simpanlah hasratmu akan popularitas diri, karena hasrat demikian tak akan membuat tak akan membuat tumbuh dan sempurna.

Begitulah Gus Dur, begitu sapa akrab semua orang kepadanya. Walau beliau salah seorang Kiyai bahkan Presiden sekalipun, tak pernah meminta kepada orang-orang untuk memanggilnya sebagai Kiyai atau Presiden. Tetap ‘Gus Dur’. ‘Adhap Asor’, itulah yang selalu Gus Dur tanamkan dalam diri beliau, juga santri-santrinya.

Pria kelahiran Jombang, Jawa Timur ini selalu menebarkan kedamaian di tiap kata yang disampaikannya. Dengan nyaman dan damai beliau berbicara, walau terkadang banyak kandungan arti yang sulit dipahami. Banyak orang yang membenci Gus Dur lantaran pernyataannya yang kontroversial. Berjuta hina, caci, maki bahkan fitnah kerap menerpa Gus Dur, bahkan hingga sekarang. Namun beliau tetap sabar dan tabah, sambil sesekali berucap, “Besok-besok pasti terbukti oleh bangsa ini sendiri”. Dan benarlah ucapan itu terjadi, banyak yang ‘kualat’ kepadanya.

Adapun jokesnya beliau tiada yang bisa menandingi selalu untuk kemaslahatan umat dan tidak menyinggung beberapa pihak. Itulah gus dur yang selalu menyimpan dirinya, tidak ada hal yang membuat diri selalu bersikap sombong terhadap rakyatnya,

Banyak hal yang dapat dijadikan pelajaran dari sosok Gus dur. Baik dari apa yang pernah beliau sampaikan dari ajarannya, perbuatan, pernyataan dan akhlak beliau. Beruntunglah, Indonesia pernah dipimpin oleh seorang Waliyullah yang ‘Adhap asor’, Gus Dur namanya. Yang sampai saat ini makamnya selalu dipenuhi peziarah-peziarah yang merindu dan mencintainya, bahkan yang seumur hidupnya belum pernah bertemu secara langsung dengannya. Juga dengan miliaran fatihah dan doa yang tiap detik selalu bergema, berkumandang, dikirimkan oleh umat kepada sang Guru Bangsa tercinta. Semua itu karena rasa cinta para santri kepada kyainya.

Desember Bulan Gus Dur
Sosok kiyai ataupun wali walaupun telah pulang tetap masih saja memberikan lantaran kesejahteraan bagi masyarakatnya. Makamnya yang ramai atau peringatan haul yang di lakukan menjadi bukti bahwa sosok orang yang muliya.

Jika ada yang mengatakan peringatan tahunan meninggalnya ulama atau haul adalah bid’ah, maka keluarga KH Abdurrahman Wahid dan Gusdurian yang menyelenggarakan haul Gus Dur di bulan Desember berarti telah melakukan bid’ah dua kali: Bid’ah pertama adalah haul itu sendiri, dan bid’ah kedua menyelenggarakan haul berdasarkan kalender Masehi.

Dalam tradisi NU, haul para kiai atau ulama yang diniatkan sebagai acara untuk ibadah, berdoa dan mengambil teladan dilaksanakan berdasarkan kalender Hijriyah. Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009, jika dikonversikan dalam kalender qamariyah atau Hijriyah tanggal itu bertepatan dengan 14 Muharram 1431 H. Mengapa haul Gus Dur tidak diperingati di bulan Muharram saja.

-Penulis adalah Aktivis Muda NU Temanggung

Tinggalkan Balasan