ArtikelEsaiRekomendasi

Sekolahnya Anak itu “Mewarnai”

Oleh Hamidulloh Ibda

Hari Anak-anak Sedunia diperingati tiap 20 November. Ini bukan sekadar ritus. Tapi momentum refleksi. Soal anak, sejak masuk PAUD, saya terbiasa nanggap, mewawancarai, atau tanya-tanya pada anak saya tentang apa saja yang ia lakukan di sekolah. Tujuannya, selain melatih ia mendongeng, bercerita, juga agar ia mengekspresikan apa yang dilakukan dan alami di sekolah. Tujuan lain, agar saya dapat mengontrol tumbuhkembangnya.

Suatu malam, ketika usai salat, ia kutanya. “Tadi di sekolah pelajarannya apa, Kak?” Tanyaku pada Sastra Nadira Iswara, nama lengkap anak saya.

“Nggak belajar kok, cuma berenang,” jawabnya sambil memegang Juz Amma untuk hafalannya.

Pikir saya “belajar kok cuma berenang tok?” Lalu kukejar lagi. “Kalau kemarin apa pelajarannya?” Tanyaku lagi padanya.

“Nggak belajar juga, cuma mendengarkan Miss Umi bercerita,” jelas Sastra dengan polos menjawab.

Setelah itu, istri saya menjelaskan agak panjang. Karena ia juga guru dan tiap hari mengontrolnya, jadi tahu apa yang diajarkan di sekolah. “Sekolahe anakmu kuwi mewarnai, Pa. Selain mewarnai, kanggone anakmu ya dudu sinau, dudu belajar, dudu sekolah. Hahaha…..” jelas istri saya sambil tertawa.

Dunia Mewarnai
Anak usia PAUD, TK atau RA, selama ini memang diprioritaskan hanya untuk belajar dan bermain, atau bermain sambil belajar. Belajarnya pun, tidak ‘seberat’ jenjang SD atau MI. Maka, mewarnai menjadi doktrin atau kewajiban belajar bagi anak-anak TK/RA atau sekira usia 4-5 tahun. Mewarnai di sini dapat diartikan sebagai bagian dari bermain, karena sekolahnya anak ya bermain.

Sesuai Surat Edaran Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 1839/C.C2/TU/2009 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Taman Kanak-kanak dan Penerimaan siswa Baru Sekolah Dasar, sebenarnya tidak diperbolehkan mengajarkan calistung (membaca, menulis dan berhitung) pada anak usia dini. Jenjang PAUD, TK/RA hanya diperbolehkan memperkenalkan saja. Bunyi aturannya demikian dan diperkuat dengan aturan terbaru.

Maka wajar, lembaga TK/RA tidak begitu memprioritaskan calistung. Bagi anak saya juga sama. Mau itu pelajaran mendongeng, didongengkan, studi karya, berenang, outbond, praktik salat, hafalan Juz Amma, hafalan doa-doa keseharian, semua itu bukan “belajar” dan bukan “sekolah”.

Stigma belajar, bagi anak seusia anak saya di TK, yang namanya sekolah ya mewarnai, bermain. Maka, tidak ada pekerjaan belajar atau aktivitas belajar di rumah, ketika belum mewarnai, bagi anak saya, ya belum belajar. Waktu awal kali masuk TK dulu, gurunya juga mewajibkan setiap anak membawa meja, crayon atau “pulas” untuk mewarnai dan ditinggal di sekolah.

Padahal, ibunya selalu menyimak hafalan Juz Amma, doa-doa keseharian seperti doa mau makan, setelah makan, doa mau tidur, doa kepada kedua orang tua, doa mau masuk WC, dan lainnya disimak tiap hari. Istri saya juga mengajarkan anak saya tentang huruf, abjad, angka, bahkan nama-nama anggota badan, warna dan nama-nama hewan dengan Bahasa Indonesia, Jawa, Arab, dan Bahasa Inggris. Baik membaca, menulis, dan menghafalkannya.

Selain itu juga hitung-menghitung. Mulai dari penambahan, perkalian, hingga ragam angka dari satuan, puluhan, ratusan bahkan ribuan. Istri saya, praksis mengajarkan anak saya laiknya siswa SD. Karena wajar, sehari-hari istri saya mengajar SD. Namun, yang demikian apakah kompatibel dengan perkembangan anak usia TK?

Saya pun, ketika menjelang tidur, sering diminta anak saya untuk bercerita atau mendongeng. “Waduh, ora pinter dongeng kayak Kak Kempo Antaka, ndadak kon dongeng, ya sak muni-munine” pernah terbesit demikian waktu awal-awal dulu ketika anak saya mulai sekolah di PAUD Labschool UNNES.

“Pa…. ceritain Pa…” anak saya sering meminta demikian. Tema atau isi dongeng juga berbeda dengan zaman-zaman kita. Saya harus mengetahui My Little Pony and Equestria Girls Official Site, Upin Ipin, LOL, Littlest Pet Shop, Martha Speak, dan tokoh-tokoh seperti Frozen, Pinkie Pie, Rarity, Princes Ana, Rainbow Dash, Twilight Sparkle, Fluttershy, dan ‘tetek bengek’ yang lain.

Tentu berbeda dengan zaman saya kecil. Tema, konten, judul cerita atau dongeng zaman saya kecil ya seputar kisah Nabi Adam, Kapal Nabi Nuh, Kisah Nabi Sulaiman, Abu Nawas, Walisongo, Sariden, Syekh Siti Jenar, Mbah Mutamakkin, Mbah Brojoseti Singo Barong, Semar, Togog, Bathara Guru, Keong Mas, Malin Kundang, Timun Mas, Sangkuriang, Bawang Merah dan Bawang Putih, Hikayat Petani, Kancil Mencuri Timun, dan lainnya.

Apakah tokoh-tokoh itu hanya hadir dalam cerita? Tidak. Hampir semua buku mewarnai anak saya, isinya adalah tokoh-tokoh “aneh” bagi saya di atas. Saya harus mengetahuinya,  dan bisa mendampingi anak saya mewarnai gambar-gambar mereka. Dari sisi warna, bentuk, hingga presisi warna yang diketahui atau dikehendaki anak saya.

“Jengene bocah, nggak bisa dipaksa atau diperlakukan seperti ukuran kita,” pada akhirnya saya bersimpulan demikian. Artinya, memaksa anak untuk bisa seperti kita, seperti apa yang kita harapkan, justru merenggut masa anak-anak. Biarlah mereka ‘mewarnai’ dunia mereka sendiri dengan bimbingin kita.

Mereka menurut Kak Seto, bukanlah calon manusia dewasa, dan anak adalah anak. Maka dunia mereka ya dunia anak, dunia mewarnai,  bermain, dongeng, cerita, bukan seperti dunia kita yang aspeknya sudah lengkap pada kognitif, afektif, psikomotorik.

Dus, bagaimana dengan calistung di jenjang PAUD, TK atau RA?

Calistung di PAUD, TK, dan RA
Saat ngobrol santai dengan salah satu dosen yang juga Kepala Lembaga Bahasa, ia pernah memberi masukan pada saya. “Ya, meskipun akademisi, intelektual, terbiasa berbahasa tinggi, ketika ngajarin atau mendampingi anak ya jangan dipaksa seperti mahasiswa, Pak,” katanya kala itu.

Lebih rinci dan terbaru lagi selain regulasi di atas, ada Permendikbud Nomor 8 Tahun 2018 tentang Penyediaan Layanan PAUD. Pada pasal 9 ayat 1 ditegaskan, pembelajaran dalam PAUD dilaksanakan menggunakan pendekatan berpusat pada anak dalam konteks bermain sesuai dengan tingkat pencapaian seorang anak. Pada ayat 2 berbunyi tidak mengutamakan kemampuan baca, tulis dan hitung.

Saya pun berpikir, amanat Kemdikbud yang melarang PAUD, TK, atau RA mengajarkan calistung pada anak didiknya, ada benar dan ada salahnya. Ada positif, ada negatifnya.

Benarnya, calistung bukan lagi prioritas, namun hanya tahap pengenalan, suplemen, dan bukan kegiatan primer. Sedangkan salahnya, ketika calistung dianggap tidak penting. Positifnya, kita tidak merenggut anak atau hak anak untuk mewarnai, bermain, dan menikmati masa kecilnya. Buruknya, ketika kita “babarblas” tidak mengenalkan dunia angka pada anak.

Artinya, meski secara regulasi di jenjang PAUD, KB, TK tidak boleh memprioritaskan calistung, akan tetapi guru dan orang tua tidak boleh menganggap calistung tidak penting. Alasannya, perkembangan anak-anak milenial (generasi Y), pascamilenial (generasi Z) bahkan generasi alfa (abad 21), mereka berkembang pesat dan berbeda dengan anak-anak di bawah tujuh tahun zaman dulu.

Melalui televisi, Youtube, gawai yang dikonsumsi tiap detik, mereka mengetahui apa-apa yang jarang diperhatikan orang tua. Seperti contoh ketika saya “bodo ndadak” ketika diminta anak saya menceritakan My Little Pony waashabihi, saya harus baca dan baca lagi. Dan, terpaksa membeli buku tentang “makhluk asing” itu.

Namun, meski perkembangan kognitif anak supercepat, dunia mereka tetap dunia anak. Mewarnai, menggambar, mendongeng, bermain, tetap menjadi kegiatan belajar utama di sekolah atau rumah.

Maka konteks tri sentra pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat) perlu memahami ini. Perlu pembiasaan, pembelajaran, dan keteladanan, serta mengintegrasikan tema mewarnai, tema dongeng anak pada nilai-nilai kebangsaan dan religius.

Sebab, saya sering ‘menyelewengkan’ cerita My Little Pony pada sosok-sosok seperti Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dan lainnya, yang turut hadir di dalam cerita anak saya. Apakah anak saya protes? Tidak. Justru, ia malah tertarik karena yang saya ceritakan berbeda dengan di Youtube atau buku yang ketahui dan ia warnai.

Jadi, orang tua yang punya anak di bawah tujuh tahun harus siap mendampingi anak untuk mewarnai, bercerita, bermain, tak sekadar mengajarkan calistung. Jika tidak siap mendamping anak mewarnai, menggambarkan, bermain, ya wis ra usah duwe anak.

Sebab, sekolahnya anak itu ya mewarnai, bermain, dolanan. Benar nggak?

-Penulis adalah dosen dan Kaprodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung.

Tinggalkan Balasan