ArtikelOpini

Etika Bangsa Menuju Indonesia Berkeadaban

Oleh KH. Muhamad Muzamil

Indonesia adalah negara di Asia tenggara yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada diantara daratan benua Asia dan Australia, serta antara samudra Pasifik dan samudra Hindia

Indonesia memiliki 17.504 pulau, dengan populasi 270.054.853 jiwa pada tahun 2018, bahasa daerah sekitar 700.

Penduduk beragama Islam 87,2 %, Kristen 9,9%, Protestan 7,0%, Katolik Roma 2,9%, Hindu 1,7%, Budha 0,7%, Kunfusianisme dan lainnya 0,2%.

Sejarah Indonesia banyak dipengaruhi oleh bangsa lainnya. Kepulauan Indonesia menjadi wilayah perdagangan penting sejak abad ke-7, yaitu sejak berdirinya Sriwijaya, sebuah kerajaan Hindu Budha yang berpusat di Palembang. Dinasti Hindu Budha Sanjaya dan Syailendra juga mendirikan kerajaan-kerajaan: Panjalu/Daha/Kediri (1045-1222), Kerajaan Tumapel/Singosari (1222-1292) dan Kerajaan Majapahit (1293-1527). Kerajaan ini menjalin hubungan dengan Tiongkok, India dan Arab. Setelah itu berdiri kerajaan-kerajaan Islam.
Kerajaan Islam pertama adalah Kerajaan Jeumpa yang berdiri di Aceh tahun 777 M, kemudian Perlak (840-1292), Kasultanan Lamuri (851-1514), kasultanan Malaka (1405), Samudra Pasai (1267-1521), Kasultanan Pageruyung (1347-1825), Kasultanan Aceh (1507-1903), Kasultanan Jambi (1615-1903) dan Kasultanan Siak (1723-1945).

Kemudian di Jawa berdiri Kasultanan Demak tahun 1475, Lumajang 1295, Kasultanan Banten (1526-1813), Kasultanan Pajang (1549-1588), dan Mataram (1588-1755).

Di Kalimantan pada abad ke-14 berdiri Kasultanan Banjar dan Kasultanan Brunei. Kemudian Kasultanan Banjar menjadi terbelah: Kasultanan Sambas, Kutai Kartanegara, Landak, dan Bulungan.

Di Sulawesi dan Maluku ada Kasultanan Gowa, Ternate dan Tidore.

Indonesia dijajah Portugis (1509-1595), Spanyol (1521-1692), Belanda (sejak 1602), Perancis (1795-1881), Britania Raya (1811), Jepang (1942).

Kerajaan beragama Hindu dan Budha mulai tumbuh awal abad ke-4 hingga abad ke-13, yang kemudian diikuti para ulama dari Arab sekitar abad ke-8 hingga abad ke-16, serta kedatangan bangsa Eropa pada akhir abad ke-15.

Wilayah Indonesia terbentang dari Sabang di ujung Aceh sampai Merauke di tanah Papua. Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa dan agama. Indonesia terdiri atas penduduk pribumi yakni mongoloid selatan / Austronesia dan Melanisia.

Mempelajari sejarah Indonesia yang panjang tersebut, Indonesia adalah negara yang hiterogin, dan dipengaruhi banyak oleh nilai-nilai agama dan budaya yang beragam. Indonesia bisa bersatu padu karena dibangun berdasarkan Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda namun satu jua.

Sekarang Indonesia juga diwarnai paham neo sosial demokratik di satu pihak dan paham liberalisme, kapitalisme, dan neo liberal di pihak yang lain.

Kemudian Islam yang dipeluk sekitar 87% penduduk juga terdapat varian pemahaman, yakni: tradisional, modern, transfirmis, dan fundamentalis.

Secara keagamaan Islam, lebih banyak kaum tradisionalis yang berada di kawasan pedesaan dan sedikit yang di perkotaan.

Islam adalah agama ilmu dan akhlaq. Islam memberikan penghargaan pada ilmu dan akhlaq mulia. Karena itu para ulama, dalam melakukan dakwah dan pendidikan, lebih mengedepankan adab terlebih dulu, baru kemudian ilmu.

Tentang adab atau etika tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, namun juga terkait dengan hubungan sesama umat manusia dan alam raya.

Prinsip dalam berhubungan dengan Allah adalah semua dilarang kecuali terdapat perintah-Nya. Sedangkan prinsip dalam hubungan dengan sesama umat manusia adalah diperbolehkan selama ada ketentuan yang melarangnya.

Kedudukan manusia adalah sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah di muka bumi-Nya. Sebagai hamba-Nya manusia berkewajiban menyembah-Nya, sedangkan sebagai khalifah, manusia berkewajiban memanfaatkan dan mensyukuri nikmat yang telah dianugerahkan Allah agar menjadi insan yang bertakwa.

Bersyukur harus diejawantahkan berbuat baik kepada sesama ummat dan semua makhluk-Nya. “Orang yang tidak mau bersyukur kepada sesama ummat manusia adalah orang yang tidak mau bersyukur kepada Allah”.

Dengan demikian terdapat keseimbangan antara etika atau adab kepada Allah dan adab kepada sesama ummat. Jika keseimbangan ini terjaga baik tentu pada akhirnya akan terwujud adanya peradaban yang maju dan berkeadaban.

Karenanya pendidikan kebangsaan yang berkeadaban tidak dapat dilakukan jika masih ada upaya pemisahan antara agama dan kemasyarakatan atau kemanusiaan, karena keduanya adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. (disarikan dari berbagai sumber). Wallahu a’lam.

-Penulis adalah Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan