ArtikelOpini

Sekolah Berbasis Pesantren

Oleh Usman Mafruhin

Sekolah merupakan suatu lembaga instansi yang di dalamnya menyuguhkan nuansa keilmuan yang muaranya untuk membangun siswa-siswi yang berpendidikan di lini pengetahuan formal khususnya. Mulai dari PAUD hingga sampai ke sekolah tingkat atas sering kita beranggapan bahwa masuk pendidikan formal semata-mata demi meniti karir dan pekerjaan yang menjanjikan untuk bekal kedepan. Padahal banyak hal lain yang didapat dalam bangku pendidikan formal ataupun sekolah, seperti pendidikan akhlak dan karakter.

Sedangkan Pesantren adalah sebuah pendidikan tradisional yang bersifat non formal. yang para siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri. Santri tersebut berada dalam kompleks yang juga menyediakan masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar, dan kegiatan keagamaan lainnya.

Kompleks ini biasanya dikelilingi oleh tembok untuk dapat mengawasi keluar masuknya para santri sesuai dengan peraturan yang berlaku. Adapun orientasi dari pesantren sampai detik ini yang paling di prioritaskan adalah pendidikan karakter dan akhlaknya, dan itu yang menjadi keistimewaan pesantren. Karena walaupun tidak diajarkan pendidikan dari segi ekonomi secara intens tapi para santri selalu yakin dengan dawuh kiai, dengan kata lain mengikuti peraturan kiai dan mengharap ridho guru.

Yang menjadi pembeda antara sistem sekolah dan pesantren ialah dari segi pengajaran dan waktu pembelajaran. Seorang guru hanya dapat mendidik dan mengamati selama setengah hari sedangkan kiai 24 jam nonstop bisa mendidik dan mengamati para santri. Maka adanya isu fullday school yang ingin diterapkan tetapi ngak jadi dulu sebetulnya pesantren sudah menerapkan sejak dahulu.

Metode pembelajaran yang mashur di pesantren ialah sorogan dan bandongan. Sorogan itu dengan cara para santri diwajibkan menguasai cara pembacaan dan terjemahan secara tepat dan hanya boleh menerima tambahan pelajaran bila telah berulang-ulang mendalami pelajaran sebelumnya.

Hal ini tentunya menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan, dan disiplin pribadi santri.sedangkan bandongan ialah dengan seorang kiai yang menerangkan atau membacakan kitab kuning sehingga para santri mentransfer keilmuan yang di sampaikan oleh sang kiai.

Sekolah Berbasis Pesantren
Di daerah tempat tinggal saya yang terletak di suatu desa di kabupaten Temanggung, bernama Pondok Pesantren Sunan Plumbon ada sistem sekolahan yang lebih mengedepankan praktik-praktik ataupun ajaran pondoknya, dalam artian sekolah tersebut tidak terpaku dengan sistem pemerintahan yang misal dari segi waktu pukul 07.00 sampai pukul 02.00, sekolah tersebut tidak.

Masuk mulai sama pukul 07.00 keluar pukul 12.30 karena sekolah tersebut dibawah naungan pesantren dan para santri setelah mengikuti pendidikan formal mereka bergegas untuk mengikuti ngaji. Maka tidak heran ketika peringatan Hari Santri seperti kemarin 22 Oktober. Seperti yang sudah dipublikasi oleh pengurus RMI NU.

Sekolah tersebut menggelar syukuran dan juga beberapa musabaqoh seperti pidato, berpuisi, dan lain-lain laiknya hari peringatan ulang tahun sekolah. Di dalam pembelajaran, kebetulan saya juga alumni pesantren tersebut, tidak hanya pendidikan agama Islam yang menjadi materi pokok keagamaan melainkan disisipi kajian kitab kuning dengan metodik bandongan di jam sekolah tersebut, kitab yang diajarkan Washoya dan Akhlakul banin Yang keduanya merupakan kitab yang mengkaji dan mendidik pola karakter menjadi seorang anak yang berakhlakul karimah.

Seperti halnya urgensi dari pendidikan semacam itu. Jadi antara sekolah dan pesantren tidak ada sekat yang membatasi dari segi pembelajaranya, keduanya harus ballance hingga menciptakan tujuan pendidikan yang diharapkan tidak hanya yang bersifat keduniawian melainkan yang sifatnya ukhrowi juga didapat.

-Penulis adalah Mantan Ketua Umum PMII Komisariat TRISULA STAINU Temanggung.

Tinggalkan Balasan