ArtikelOpini

Pegawai Negeri dan Pegawai Allah

Oleh Rifqi Silfiana

Pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2019 dijadwalkan resmi dibuka melalui https://sscasn.bkn.go.id pada Senin, 11 November 2019 pukul 11:11 PM. Pelamar bisa memilih instansi dan formasi yang diinginkan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, CPNS tahun ini juga sangat banyak peminatnya. Hanya saja model perekrutan tahun ini ada yang berbeda dengan tahun sebelumnya, dimana pelamar tidak bisa melihat jumlah saingan formasi yang dipilih di sscasn.bkn.go.id.

BKN menutup fitur jumlah pelamar dalam menu pencarian formasi pada portal SSCN karena menemukan indikasi tindak kecurangan penyalahgunaan data pelamar CPNS oleh sejumlah oknum dengan cara mendaftarkan sejumlah pelamar fiktif pada formasi tertentu agar terlihat telah banyak pendaftarnya sehingga formasi tersebut tidak lagi menjadi pilihan pada penerimaan CPNS. Fitur tersebut ditiadakan demi menciptakan kompetisi adil tanpa pelamar terpengaruh dengan kuantitas pelamar yang telah melamar pada formasi tertentu pada pelaksanaan seleksi CPNS 2019.

Meskipun demikian, seleksi CPNS 2019 masih menjadi salah satu lowongan pekerjaan yang begitu ditunggu. Menjadi PNS dengan segala macam jaminan masa depan tentu saja membuat banyak orang terpikat. Meskipun pada tahun 2019 ini, Kemenag Jawa Tengah tidak membuka formasi untuk Ahli Pertama- Guru Kelas. Kemenag hanya menyediakan 99 formasi umum untuk jabatan Ahli Pertama-Guru Kelas se-Indonesia dengan menerima dari berbagai lulusan, termasuk S-1 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, S-1 Pendidikan Guru Kelas Sekolah Dasar, S-1 Pendidikan IPA, S-1 Pendidikan Matematika, S-1 Pendidikan IPS, dan lain sebagainya.

Pipa Rezeki?
Berbicara soal CPNS, mahasiswa alumni Fakultas Pendidikan, kebanyakan berpikir bahwa lapangan kerja yang tersedia baginya adalah menjadi guru yang terdaftar sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). PNS adalah satu-satunya pekerjaan yang diimpikan, sehingga dalam rentang enam tahun pun seseorang tak segan untuk mengulangi mendaftar menjadi calon PNS.

Waktu yang berjalan selama itu hanya digantungkan untuk menjadi seorang PNS. PNS adalah satu-satunya “Pipa Rezeki” yang akan digunakan malaikat Israfil mengalirkan rezeki dari Allah kepadanya. Dan PNS adalah pekerjaan yang sangat bergengsi dengan kepastian masa pensiun yang jelas.

Kondisi seperti ini menggiring para pencari kerja justru mempersempit Rahmat Allah. Tidak ada keharusan seseorang sarjana menjadi PNS. Dan tidak ada jaminan bahwa rejeki yang cukup diperoleh dari pekerjaan PNS. Setiap PNS akan mendapatkan nomor induk pegawai yang biasa disingkat dengan NIP.

Kaitannya dengan kesejahteraan hidup, secara kelakar ada orang mengartikan NIP dengan “Narima Ing Pandum” (menerima pada hasil yang dibagikan). Secara matematis manusia, gaji yang diberikan kepada PNS agaknya belum dapat mengantarkan para muslim sampai pada terlaksananya Rukun Islam yang ke lima, melaksanakan ibadah haji. Untuk dapat terlaksananya ibadah haji bagi PNS, tetap menunggu “dum-duman” atau jatah dari pusat.

Berpikir Luas
Salah satu dosen favorit di IAIN Salatiga, Drs. Ahmad Sultoni, M.Pd, mengatakan bahwa sarjana yang berpikir luas, dalam mencari pekerjaan tidak mengharuskan dirinya harus menjadi PNS, sehingga lebih banyak alternatif dan lebih banyak lowongan. Membatasi pikiran dengan satu jenis pekerjaan berarti membatasi luas rahmat Allah.

Tugas manusia hanyalah melakukan usaha semaksimal mungkin. Menyiapkan berkas sesuai yang disyaratkan, belajar soal CAT baik TWK, TIU, maupun TKP. Berdoa dengan sungguh-sungguh, dan yang terakhir pasrahkan kepada Tuhan Sang Pemberi pekerjaan. Percayalah, hasil akan mengikuti usaha.

Jika pun telah berusaha secara maksimal, akan tetapi masih mengalami kegagalan, merupakan kesempatan yang diberikan Allah untuk mencoba bidang kerja lain. Mahasiswa lulusan pendidikan, tidak harus menjadi guru, banyak pekerjaan lain yang berhubungan dengan pendidikan seperti penulis buku, membuka toko buku, membuka kursus, membuka pelatihan ketrampilan keguruan yang inovatif, mendirikan penerbit, atau membuka perguruan tinggi yang mencetak calon guru. Jika hanya ingin merasakan gaji seorang PNS, seseorang tidak harus menjadi PNS. Ia bisa menjadi istri PNS, suami PNS, atau menjadi menantu PNS.

Menjadi Pegawai Negeri sekaligus Pegawai Allah?
Seorang PNS digaji, diberi upah, tunjangan, bahkan pensiunan dari uang Negara yang berasal dari rakyat tidak pantas apabila berkhianat dan tidak produktif. Menjadi PNS harus taat pancasila, memegang teguh beberapa nilai dasar, setia mempetarhankan UUD tahun 1945, serta menjalankan tugas secara professional. Bukan menjadi PNS yang usai absen, pulang lagi. Fenomena ini banyak terjadi di berbagai kantor dan instansi pemerintahan.

Sejumlah PNS hadir pagi-pagi dengan masih memakai daster dan berkain sarung untuk mengisi absen kehadiran dengan menempelkan sidik jari (fingerprint). Mereka datang bukan untuk bekerja, namun hanya untuk mengisi absen kemudian pulang lagi, tanpa merasa malu karena meninggalkan tugasnya sebagi abdi Negara. Bahkan beberapa PNS hanya takut kehilangan statusnya sebagi PNS, tetapi tanggung jawab terhadap pekerjaan tidak ada. Penerapan tunjangan kinerja yang sangat besar belum mampu meningkatkan kinerja.

Salah satu tujuan utama bekerja bagi setiap orang adalah untuk mencukupi kebutuhan hidup. Tapi, apa ya, bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup? bekerja itu ibadah, jenis kerja terbaik adalah yang dapat menjadi bekal ibadah kepada Allah, minimal dapat menabung untuk naik haji ke tanah suci sebagai pelaksanaan rukun Islam kelima, melaksanakan ibadah umroh, atau melaksanakan zakat dan sedekah kepada sesama.

Pegawai Negeri yang menyadari bahwa dirinya adalah pegawai Allah, akan melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan Udang-Undang Dasar tahun 1945, mewujudkan pola hidup sederhana, jujur, serta melaksanakan tugas dan wewenang sesuai ketentuan yang berlaku. Bukan hanya siap menerima gajinya, namun meninggalkan kewajibannya.

-Penulis adalah Mahasiswi Pascasarjana IAIN Salatiga

Tinggalkan Balasan