ArtikelOpini

Epistemologi Maulid Nabi

Oleh Junaidi Abdul Munif

Maulidan, maulidan shalawate NU
Manaqiban, manaqiban wasilahe NU (Syiiran NU, dipopulerkan Habib Syech)

Rabiul Awwal (Mulud-Jawa) adalah bulan pembacaan maulid nabi secara kolosal di Indonesia. Maulidan secara kontinu melekat pada warga nahdliyin (NU) sebagaimana ditegaskan dalam Syiiran NU yang sering dilantunkan oleh Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf. Lirik Syiiran NU menjadi diferensiasi antara Islam puritan dan Islam Nusantara annahdliyah.

Maulid nabi merentang dalam selasar epistemologi Islam Nusantara. Hidup dalam keyakinan warga nahdliyin yang melampaui logika-logika positivistik. Namun benarkah demikian?

Dalam mukadimah kitab Daqaiqul Akhbar (kabar-kabar gaib) dijelaskan bahwa Allah menciptakan syajaratul yaqin (pohon keyakinan) dan nur Muhammad sebelum menciptakan seluruh alam raya ini. Dari ruh inilah kemudian tercipta ruh khulafaur rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman, Ali), ruh para nabi, ruh para makhluk, dan seluruh alam raya ini.
Kitab yang diajarkan di pesantren-pesantren nahdliyin tersebut memang berisi tentang hal-hal gaib yang didapatkan ulama-ulama yang memiliki ilmu kasyaf. Sebagian menyebut kitab ini berisi kisah-kisah Israiliyat, yakni kisah-kisah mistis yang tidak logis.

Namun bagi kalangan pesantren, sumber pengetahuan tidak hanya didapatkan dari sesuatu yang empiris. Epistemologi irfani cukup mendominasi dalam kukuhnya tradisi maulid. Nalar irfani sebagai sumber pengetahuan yang diyakini berdasar titah (nasehat, khabar) dari ulama-ulama kasyaf.

Tradisi membaca maulid nabi mengecambah di kalangan nahdliyin dan banyak cerita-cerita mistik yang mengiringinya, sehingga membaca shalawat dan maulid memiliki dimensi esoteris-metafisis.

Banyak yang percaya saat mahallul qiyam, Rasulullah ikut hadir di antara jamaah pembaca maulid. Tentu tidak semua orang bisa menyaksikan peristiwa ini dengan kasat mata. Hanya orang-orang bersih jiwanya yang diberi “izin” untuk melihat peristiwa agung ini.

Maulid nabi secara lahiriah adalah merayakan kelahiran biologis manusia sempurna, yaitu Muhammad bin Abdullah dari rahim Aminah. Tapi nur Muhammad sebagai ruh telah diciptakan jauh sebelumnya, menjadi causa prima dari segala yang dicipta (makhluk).
Pembacaan shalawat dalam maulid menunjukkan kecintaan umat Islam pada nabi pemberi syafaat. Ungkapan terima kasih pada Baginda Rasul, karena dari dirinya semua bermula.
Sebagai tradisi, maulid nabi (masih) dituduh sebagai amalan bidah yang tidak dikerjakan oleh nabi. Di media sosial muncul meme yang tegas berbunyi: Nabi Muhammad tidak butuh dirayakan kelahirannnya, tetapi diikuti sunnah-sunnahnya.

Tentu ada banyak cara mencintai Nabi. Semua orang memiliki kadar pemahaman yang berbeda-beda demi mengekspresikan cintanya pada Kanjeng Nabi. Andai membaca maulid adalah bidah, pengamalnya dituduh meninggalkan sunnah-sunnah nabi, ini jadi tuduhan yang terlalu simplistis.

Sepanjang usianya selama 63 tahun, Nabi Muhammad menjadi rasul selama 23 tahun. Selama itu nabi menyampaikan khabar, hadits, dan perbuatan (atsar) yang kita generalisasi sebagai sunnah. Sebelum menjadi nabi, ada sirrah (sejarah) nabawiyah yang juga merupakan samudera nilai yang bisa kita selami.

Persoalan membaca maulid nabi melebihi perkara definisi sunnah-bidah. Jika pun bidah, maka ini diyakini nahdliyin sebagai bidah hasanah yang dianjurkan dilakukan untuk mendapatkan fadhilah (keutamaan) sebagai muslim.

Nilai maulid nabi yang dibaca umat Islam selama 12 hari selama bulan Rabiul Awwal dan hari-hari lainnya menunjukkan kecintaan muslim pada nabinya tidak terperi. Dalam komunalisme masyarakat Indonesia, pembacaan maulid dan perayaan maulid nabi mengejawantahkan suatu kesadaran eksistensial manusia, yang tidak ada jika nur Muhammad tidak diciptakan.

Muslim yang menyadari bahwa ruhnya adalah pancaran dari nur Muhammad memerlukan sebuah ritus yang menunjukkan kecintaannya pada nabi pamungkas itu.

Terlepas dari tradisi, maulid nabi menyimpan romantika tentang sejarah nabi yang ditulis dalam bait-bait indahnya. Dan dari sinilah pangkal tolak tuduhan kelompok pembidah maulid yang mendasarkan pada pemahaman positivistik.

Warga nahdliyin kebanyakan dianggap tidak tahu kandungan bait-bait maulid. Sebuah tuduhan yang bisa jadi benar karena pengamal maulid tidak hanya santri yang mahir berbahasa Arab.

Belum banyak pembacaan maulid nabi yang diiringi dengan penerjemahan arti bait-bait shalawatan. Kita mafhum, sebagai umat “minimalis” kita sering merasa cukup dengan melestarikan tradisi.

Menurut Noor Achmad (2018) dalam pembacaan maulid nabi kita seolah hanya memberi sesuatu pada nabi, tetapi kita belum mendapatkan sesuatu (mengambil) dari nabi Muhammad. Mendapatkan sesuatu artinya adalah meneladani perilaku nabi, mengimplementasikan akhlak nabi dalam perilaku sehari-hari.

Rasulullah memang menjanjikan bahwa siapa yang membaca shalawat padanya akan diberi syafaat. Namun ini merupakan “kriteria” minimal dalam konteks kehidupan kiwari yang memerlukan individu-masyarakat yang merupakan miniatur akhlak nabi.

Karakter Nabi Muhammad diharapkan mampu menjawab persoalan kehidupan yang semakin pelik, mulai dari persoalan domestik (rumah tangga) sampai persoalan sosial-politik. Nilai-nilai yang terkandung dalam bait-bait maulid adalah sumber keteladanan Nabi Muhammad yang harus ditiru oleh umatnya.

Dalam konteks ini kita seperti menemukan titik tengah antara orang yang gemar membaca maulid nabi dan menganjurkan mengikuti sunnah nabi seraya enggan (membidahkan) pembacaan maulid (peringatan tanggal lahir) nabi.

Kita perlu merengkuh kembali epistemologi bayani dari makna-makna kitab Dziba, Simtuddduror, Barzanji, dan lain-lainnya. Menjadikannya sebagai sumber nilai yang kita baca, pahami, dan aktualisasi.

Cara seperti itu akan meneguhkan epistemologi bayani, irfani, dan burhani dari tradisi maulid nabi. Selain yakin mendapat pahala dari Allah dan syafaat dari Kanjeng Nabi tentunya.

-Penulis adalah guru dan aktif pengurus GP. Ansor Desa Kedungwungu, Grobogan.

Tinggalkan Balasan