Pustaka

Apakah Sekolah Membunuhmu?

Judul Buku: Sekolah Membunuhmu : Wejangan-Wejangan Ary Senpai & Abi Emkom Dalam Pengembangan Pendidikan Modern
Penulis : AT Winarno & MA Muslim
Penerbit: CV Pilar Nusantara
Cetakan: 1, Mei 2019
Tebal: 21 x 14 cm, 187 Halaman
ISBN: 978-623-90708-4-7

Sebelum kita membahas lebih jauh tetang sekolah mari kita ulas sedikit tentang pendidikan. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahhun 2003 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif menembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya masyarakat bangsa dan negara. (Hlm. 9-10).

Pendidikan juga dikatakan sebagai usaha sadar untuk berproses dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu dari yang tadinya tidak bisa menjadi bisa untuk mencapai suatu tujuan tertentu. pendidikan dan sekolah terdapat keterkaitan, karena di sekolah diajarkan berbagai macam pendidikan dari pendidikan akhlak hingga pendidikan membaca, menulis, berhitunt (calistung). Sekolah merupakan tempat belajar yang paling efektif menurut sebagian orang padahal kita bisa mendapatkan pendidikan di mana saja tidak hanya di sekolah. Seperti pendidikan nonformal dan informal.

Sekolah adalah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa? Murid di bawah pengawasan guru dengan tujuan yang jelas maupun tidak jelas. Tujuan jelasnya adalah contohnya menjadikan manusia itu terampil dan tujuan tidak jelasnya adalah menganggap nilai rapor adalah segala-galanya. Kenapa nilai rapor dianggap suatu tidak jelasan karena kelak jika lulus dan bekerja, nilai raport hanya akan menjadi “bantal turu”. (Hlm. 24-25).

Seringkali orang hanya berpedoman pada nilai, padahal kita tidak bisa menyamaratakan kemampuan seseorang hanya pada angka yang tertera. Setiap peserta didik mempunyai kemampuan yang berbeda, ada yang berkompeten dalam mata pelajaran tertentu ada yang berkompeten di luar mata pelajaran. Sehingga kita tidak boleh menjustifikasi seorang anak bodoh hanya melihat angka yang tertera di raportnya. Di sekolah bukan hanya bertujuan untuk mendapat nilai tetapi merubah pola pikir seseorang.

Tujuan sekolah adalah untuk menyeragamkan potensi manusia. Satu jawaban telak sekolah bukanlah untuk menjadikan manusia semakin cerdas dan berpengetahuan luas, tapi hanya mengetahui materi pelajaran saja. “Seragam” hasil sekolah inilah yang mengakibatkan manusia enggak bisa ngapa-ngapain gampang malu jika kerjaannya bakul kerupuk, gampang minder jika enggak pegawai negeri, suka membandingkan gaji. Itulah bentuk “kebodohan” hasil dari sekolah yang menuntut keseragaman. (Hlm. 26-27).

Buku ini dikemas untuk menyadarkan para pembaca bahwa sekolah adalah untuk menyeragamkan potensi manusia tidak membuat semakin cerdas, percaya atau tidak terserah anda sebagai pembaca. Di sebagian sekolah biasanya diseragamkan disamakan antara satu dengan yang lain. Seharusnya sekolah mengelompokkan siswanya menjadi beberapa bagian, menurut minat dan bakat masing-masing karena setiap peserta didik mempunyai kompetensi yang berbeda, menyamaratakan mereka sama dengan tidak memanusiakan manusia.

Disini disajikan beberapa contoh perbandingan tentang pengalaman dan materi yang diingat misalnya seseorang jelas mengingat siapa mantan pertamanya saat kuliah dulu daripada materi mata kuliah kewirausahaan. Dapat ditarik benang merah bahwa unsur penting sekolah adalah pengalaman bukan materi ajar, karena pola pikir dibentuk karena kebiasaan, entah orang itu sekolah formal ataupun “ngelmu laku” alias praktik langsung. (Hlm. 32-33).

Terkadang yang terkenang dari kebiasaan itu akan terbentuk suatu jadwal yang terstruktur. Jadi esensi sekolah bukan hanya bagaiman kita memahami materi yang diajarkan guru dan dosen namun lebih bagaimana kita dapat menerapkan ilmu-ilmu itu dalam kehidupan sehari-hari. Seperti jika kita ingin membangun “gunungan” untuk rumah kita yang berbentuk segitiga siku-siku kita dapat memasukkaan rumus pytagoras dalam perhitungan tersebut, setidaknya ilmu matematika zaman sekolah dulu bermanfaat.

Sebagaian orang juga lebih mengingat-ingat tentang kenangan semasa sekolah dari pada materi-materi yang diajarkan. Lebih mengingat hukuman yang diberikan guru dari pada rumus-rumus kimia yang membuat pening dikepala. Percaya atau tidak bisa anda buktikan sendiri. Pendidikan tidak hanya pada tataran sekolah, bahkan di pasar, di terminal, di warung kopi pun termasuk pendidikan. Kesadaran yang berkesinambungan itu adalah efek dari saling mengerti dan memahami seseorang terhadap suatu hal. (Hlm. 43).

Di manapun tempatnya kita bisa menerima pendidikan pembelajaran tidak hanya diberikan oleh guru di sekolah, namun bisa di mana saja, seperti pendidikan informal dirumah. Orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Anak-anaknya lebih banyak menghabiskan waktu dirumah dari pada di sekolah. Anak-anak biasanya meniru kebiasaan orang tuanya maka dari itu seyogyanya sebagai orang tua mencontohkan hal-hal baik untuk anaknya.

Seperti mencontohkan untuk bermental menjadi wirausaha, setidaknya orang tua dan guru memberikan pendidikan tentang kewirausahaan, sehingga cita-cita anak tidak melulu menjadi dokter, pilot, polisi, ataupun pegawai negeri. Jarang sekali anak-anak mempunyai cita-cita menjadi seorang pencipta lapangan kerja atau seorang wirausahawan karena kurangnya pengetahuan mereka tentang dunia perwirausahaan, padahal jika ditekuni menjadi wirausaha bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah lebih dari gaji seorang pegawai negeri.

Kewirausahaan adalah proses mengidentifikasi, menegmbangkan dan membawa visi ke dalam kehidupan. Sehingga hal tersebut bisa menjadi ciri khas seorang individu. Efek dari kewirausahaan salah satunya adalah bisnis (Hlm. 99). Mempunyai mental wirausaha juga menciptakan mental yang mandiri karena kita bekerja untuk diri kita sendiri tanpa bergantung pada sebuah instansi tertentu.

Jadi siapkah Anda memulai mendoktrin anak dan siswa Anda untuk berwirausaha. Jangan sampai, sekolah membunuhmu karena menjenuhkan, membuatkan miskin mental, karakter  dan miskin rupiah. Buku ini mengajak kita berpikir kritis tentang apa-apa yang menjadikan sekolah membunuh kita dan kiat menghindarinya.

Kekurangan buku ini secara fisik pada spasi buku terlalu lebar jaraknya, sehingga buku terlihat tebal. Entah itu salah satu tujuan marketing atau apa entahlah! Yang jelas, apakah selama sekolah, Anda merasa hidup atau justru merasa dibunuh? Apakah sekolah membunuhmu?

-Diresensi Anisa Rachma Agustina, Mahasiswi STAINU Temanggung.

Tinggalkan Balasan