ArtikelEsai

Terong Gosong untuk Santri

Oleh Hamidulloh Ibda

Bagi saya yang bukan pakar botani atau biologi, tema tentang terong (KBBI V: terung) menjadi tema berat. Namun akan ringan seperti kapas ketika dibahas dalam kacamata pesantren. Apalagi, tema terong itu berangkat dari pintu berpikir kiai atau santri. Jangankan membahas terong, menjadi presiden (Gus Dur), dan Wakil Presiden (Prof Dr. KH. Ma’ruf Amin) pun bisa.

Jangankan “menjadi apa”, “tidak menjadi apa-apa” juga sangat bisa. Ini bukan soal tema, kajian, disiplin ilmu, politik, bursa calon menteri, tapi soal terong.

“Terong ki enak tenan. Opo maneh rodo gosong tambah sambal pedes, ngluwehi makanan hotel.” Bayang-bayang ungkapan Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah KH. Ubaidillah Shodaqoh pada Kamis malam, 13 Juni 2019 silam masih menancap di benak saya.

Ungkapan ini masih tertancap di memori, ketika kami pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif PWNU Jawa Tengah sowan di ndalem Mbah Ubaid bersama Sekretaris PWNU Jawa Tengah KH. Hudallah Ridwan Naim.

Duduk bersila, bercengkrama, ngopi, menyedot benda berkulit putih yang dalamnya berisi tembakau, membahas banyak anomali, ternyata mengantarkan silaturahmi malam itu sampai melebihi batas normal orang “mertamu” karena tak terasa sampai di atas pukul 00.00 WIB. Apalagi, ini di rumah kiai besar yang baru saja disowani beberapa tokoh nasional, tentu secara normal-formal tidak laik.

Bahkan, kehadiran kami serombongan itu, membuat “ewuh” dua rombongan yang kala itu sempat membaca selawatan bersama. “Ojo balik sek ya. Ngko tak masakke terong nggo mangan bareng,” kata Mbah Ubaid kepada kami.

“Iki tamu ra bali-bali, malah diminta dahar, dimasakke nisan,” batin di balik lorong kesadaran saya kala itu. Tapi bagi saya, ini merupakan kemesraan rohani antara kiai dan santri. Dunia pesantren memang penuh kepolosan, “opo anane”, egaliter, namun sarat akan nilai-nilai kehidupan yang jarang didoktrinkan di perguruan tinggi pada kaum bertoga.

Ketika satu rombongan lain sudah selesai membaca selawat, mereka undur diri. Kita serombongan mau pamit, tapi Mbah Ubaid sejak rombongan lain datang tadi, beliau sudah ngendikan akan dimasakkan terong. “Nang, wes mateng durung?” tanya Mbah Ubaid pada santrinya di belakang.

Ternyata, beliau sendirian di rumah, hanya ditemani beberapa santri lantaran istri dan zurriyahnya beliau masih di kampung halaman. Maklum, musim mudik dan kala itu memang masih suasana Lebaran Idul Fitri. Sehingga, kami “steikul” saja ketika diminta makan bersama dengan suguhan terong gosong.

Kredo Terong Gosong
Setelah terong gosong matang, kami makan bersama menikmati bongkahan nasi yang “kemebul” dan terong yang super nikmat. Subhanallah, memang nikmat betul terong gosong yang dihadiahkan Mbah Ubaid kala itu. Saking nikmatnya, kami pun “tanduk” dan Gus Huda sampai tak kebagian. Beliau harus menunggu kloter kedua. Tak apa, memang wajah-wajah “badogers” perlu dimaklumi, sehingga apa saja yang di depan mata, sikat!

Bagi Mbah Ubaid, terong menjadi makanan super nikmat beliau. Bahkan, asumsi saya, terong ini menjadi makanan khas pesantren. Terong berbeda dengan makanan lain yang sejenis atau serupa fisiknya. Sebut saja mentimun, gambas, waluh, labu, dan lainnya yang sejenis dan serupa fisiknya. Entah itu terong putih, terong hijau, terong telunjuk, terong bulat, terong belanda, leunca, dan lainnya. Sedangkan yang paling banyak ditemukan di Nusantara berjenis terong ungu atau “Solanum Melongena”.

Dalam dunia ilmiah, terong merupakan tumbuhan kaya akan vitamin dan manfaat. Situs dokter sehat, menyebut terong tergolong tumbuhan atau buah kaya nutrisi, kandungan kalori dan glikemik indeks rendah, kaya antioksidan dan memiliki berbagai macam kandungan vitamin dan mineral. Vitamin A, vitamin E, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, vitamin B6, vitamin B12, vitamin B9 atau folat, vitamin K, kalsium, zat besi, kalium, fosfor, sodium, mangan, dan zinc menjadi daftar vitamin dan mineral yang terkandung dalam terong.

Kulit terong juga memiliki kandungan pigmen, yaitu antosianin yang merupakan antioksidan. Terong diyakini sebagai “makanan ajaib” untuk mengontrol kolesterol dan kadar gula darah, menjaga kesehatan jantung, mencegah kanker, nutrisi untuk otak, menjaga kesehatan kulit, dan lainnya. Bijinya dapat menjadi perantara penyembuh obat sakit gigi. Begitu dahsyat, apa saja yang diciptakan Tuhan selalu memberi manfaat.

Terong memiliki banyak simbolisme dan sejumlah kredo. Pertama, terong menjadi makanan khas petani, khususnya di daerah pegunungan. Mau dimasak balado, goreng, dibakar, atau digongseng, terong selalu menyimpan rasa dan karsa yang memendam enigma.

Kedua, terong dalam dunia iklan atau kesehatan yang berhubungan dengan laki-laki dan perempuan menjadi simbol “keperkasaan”, kekuatan, dan menjadi simbol vitalitas kuat kaum adam. Unik memang. Maka wajar, iklan alat kontrasepsi maupun obat kuat semacam kondom, viagra, modelnya atau ilustrasinya selalu membawa terong. Biasanya memegang pisang, namun terong jauh lebih perkasa dan jantan daripada pisang.

Ya, terong dapat dijadikan “alat legitimasi” keperkasaan kaum adam. Bagi kaum hawa, peliharalah terong untuk menguatkan simpul keluarga dan harmonisme.

Ketiga, dunia permusikan dangdut tak mau absen mengangkat “derajat perterongan”. Sekira tahun 2019-2015, stasiun televisi swasta membuat acara D’Terong Show, sebuah acara varietas bertemakan dangdut mengusung beberapa unsur talkshow, komedi, musik, dan kompetisi. D’Terong Show menjadi nominasi Panasonic Gobel Awards untuk kategori Program Musik & Variety Show Terbaik pada tahun 2015.

Segmentasi D’Terong Show musim pertama dan kedua, mengangkat tema serba terong. Mulai dapur terong, terongspirasi, sambel terong beraksi, terong selfie, terong heboh, terong super family, terong idaman, terong joget, terong nyamber, terong dubsmash, terong kontes, terong dibayar lunas. Semua serba terong dan menjadi komoditas dangdut yang akhirnya digantikan D Academy Celebrity. Dengan ilustrasi apapun, terong selalu menggoda saat di dalam atau di luar dapur.

Keempat, terong menjadi media beraktualisasi para santri dan kiai. Maka, teman saya almarhum Kang Fikri, pernah menggagas dan mengembangkan situs teronggosong.com. Situs ini menjadi corong para santri untuk mengawal penetrasi media radikal dengan konten ramah melalui situs tersebut.

Terong untuk Santri

Membahas terong bukan sekadar makanan, buah atau sayuran. Seolah tak ada habisnya. Dari peta alur pikir terongisme di atas, ada beberapa ibrah yang dapat saya paksa menjadi sebuah simpulan.

Pertama, terong adalah soal kesederhanaan. Dunia pesantren sangat sederhana, apa adanya, sekadarnya, maka wajar makanannya pun ya begitu-begitu saja. Tak perlu mewah, yang penting berkah. Begitu doktrinnya. Maka wajar jika Mbah Ubaid sendiri memilih terong sebagai salah satu makanan favoritnya. Santri era kini harusnya kembali dan bersemayan pada nilai kesederhanaan yang dicontohkan di pesantren.

Kedua, terong memiliki simbol kekuatan, keperkasaan, kejantanan, keuletan, yang puncaknya menjadi sebuah nilai final “kemandirian”. Pesantren mengajarkan kemandirian pada santri. Jika kiainya memiliki sawah, tambak, toko, maka santri pun ikut belajar bertani, memberi makan ikan di tambak, serta menjaga dan mengembangkan bisnis toko.

Kemandirian inilah yang harusnya dipahami santri-santri zaman sekarang. Santri yang benar-benar santri, tidak peduli kang atau ning, pasti bisa masak, nyapu, ngepel, ‘umbah-umbah’, belanja di pasar, ‘macul’, sampai menjadi imam masjid. Super lengkap. Penempaan fisik dan metafisik di pesantren menjadi bekal santri untuk hidup di dunia dan akhirat.

Ketiga, terong menyimpan pesan, dunia santri menjadi dunia humor, guyon, “gasak-gasakan”, “gojlok-gojlokan”, yang puncaknya adalah kemesraan rohani dengan semua orang. Jika sudah mesra, pasti apa saja menjadi menyenangkan, tidak menakut-nakuti, meneror apalagi. Jika ada santri terlalu ‘pekok’, kaku, ekstrem kanan, bahkan menjadi radikal anarkis, tampaknya mereka gagal menjadi “jiwa terong” yang sesungguhnya.

Kita patut bangga, bahwa ada santri besar yang baru saja dilantik menjadi Wakil Presiden RI periode 2014-2024, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin. Bagi saya, menjadi Wapres adalah amanat dan hadiah “terong gosong”. Artinya, gosong itu bukan soal terbakar, namun sudah matang, masak, dan benar-benar siap menjadi orang nomor satu di Nusantara.

Semua santri harus turut berdoa dan nyengkuyung dengan dilantiknya Kiai Ma’ruf sebagai Wapres. Apa yang didapat Kiai Ma’aruf hari kemarin, adalah terong gosong untuk santri. Dan, kita sebagai santri, harus menempa diri untuk menjadi “gosong” agar dapat berbakti pada nusa dan agama.

Apakah kita akan menjadi “gosong” laiknya terong? Atau kita istikamah menjadi terong yang tidak mau, dan tidak pernah gosong? Sebab, seenak-enaknya terong yang digoreng, dimasak, dibakar, adalah yang gosong. Dan, terong gosong menjadi jawaban atas banyaknya terong yang masih muda, namun “gosong dini” sebelum waktunya.

Saya kira, santri yang benar-benar santri, tidak akan gosong sebelum waktunya. Mereka akan menempa diri di pesantren, sendiko dawuh pada kiai, dan tidak menjadi puber terong gosong. Jika ada santri menjadi terong gosong dengan nada memaksa, maka gosongnya adalah gosong yang kosong. Apakah santri mau menjadi terong gosong yang kosong?

Selamat Hari Santri Nasional!

Tinggalkan Balasan