ArtikelOpini

Santri adalah Pelayan

Oleh: R. Andi Irawan

Sekira 18 tahun lalu ketika saya mendaftarkan diri masuk di salah satu pesantren yang ada di kota Pati, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Kajen. Bapak berpesan agar aku menjadi santri yang rajin belajar. Pesan seperti ini tentu menjadi hal yang wajar dan lumprah bagi setiap orang tua kepada anaknya. Namun, ada pesan yang akhir-akhir ini saya renungkan merupakan hal yang aneh, yaitu pesan bapak “mengko nek neng pondok dadiyo tukang mijeti yai, tukang nyapu lan tukang azan” .

Pada waktu itu, saya tak berpikir panjang apa makna di balik pesan tersebut. Yang saya pikirkan adalah hal itu merupakan media latihan, tirakat dan tabarukkan dalam proses belajar di pondok agar mendapatkan ilmu yang berkah dan manfaat serta mendapat rida guru.

Jelek-jelek begini, kebetulan mbah dan bapak juga pernah merasakan dunia pesantren yang berada di salah satu Kota Lasem, Rembang, walaupun tak selama dan sengoyot anaknya saat ini. Sehingga wajar saja jika tradisi atau nilai-nilai sebagaimana dalam pesannya di atas sampai kepadaku, santri generasi milenial yang sepertinya telah jauh dan kehilangan sebagian nilai-nilai pesantren karena tergerus oleh kemajuan matrealisme kehidupan masyarakat modern. Bahkan, ada sebagian yang menganggap nilai-nilai tersebut adalah bagian dari nilai usang dan kemunduran yang harus ditinggalkan.

Sebagai subkultur, pesantren memiliki ciri atau karakteristik yang membedakan dirinya dengan yang lain, yaitu keunikan model kepemimpinan dan kepengasuhan kiai, literatur yang dikaji bersifat universal dan sistem nilai yang bersumber dari literatur yang telah bertahan dan lestari selama berabad-abad. Di antara sistem nilai yang sangat penting dalam pesantren adalah “barokah”.

Barokah di pesantren biasa diartikan dengan makna “tambah-tambahnya kebaikan”. Dalam konteks ilmu, ilmu yang barokah adalah ilmu yang diperoleh seorang santri benar-benar bermanfaat dan berguna di masyarakatnya, walaupun ilmunya rendah ketika di pesantren, namun ketika kembali di masyarakat ilmunya menjadi tambah-tambah kemanfaatannya.

Selama kurang lebih 7 tahun di pesantren, pesan bapak di atas saya lakukan sesuai kadar kemampuan, dengan menjadi tukang Pijet salah satu putra yai (Gus) yang kebetulan aktif mengasuh dan mendampingi santri di pondok. Hampir setiap setelah tindakan, beliau memanggilku dan kawan karibku dari Demak untuk memijiti beliau. Terkadang tidak hanya memijit, tapi membantu keperluan dalem. Waktu itu, aktivitas seperti ini saya lakukan dengan bangga dan senang hati, karena di dalam hati ada keyakinan, bahwa aktivitas ini akan mengantarkanku meraih keberkahan dan rida sang guru.

Selain itu, hampir selama mondok, saya adalah salah satu santri teraktif dalam mengumandangkan azan ketika salat maktubah tiba. Ya, kebetulan kata rekan-rekan suaraku agak bagus, walau pun tak seindah suara Nisa Sabyan. Bersih-bersih dan jadi tukang sapu tentu sudah menjadi keharusan seorang santri di pondok maupun di madrasah untuk selalu menjaga kebersihan. Ketika kondisi kamar dan sekelilingnya di pondok atau kelas di madrasah kotor, tidak ada yang peduli, maka dengan semangat keberkahan, akhirnya aku gerakan diri ini untuk membersihkannya, walau terkadang dengan sembunyi-sembunyi.

Pelayan
Pesan bapak dan apa yang aku lakukan selama mondok, bagi siapa pun mungkin merupakan hal sederhana atau bahkan sepele. Namun, setelah sekarang saya renungkan, pesan tersebut ternyata tidak hanya bernilai tabarukan tapi juga khidmah. Khidmah secara etimologi adalah melayani. Artinya, barang siapa yang khidmah berarti dia melayani.

Spirit melayani tersebut setelah kembali ke masyarakat dan berkeluarga, ternyata masih melekat dan tertanam dalam hati, sehingga di manapun seorang santri berada pasti tidak lupa dan lalai berkhidmah kepada masyarakatnya. Sebagaimana ketika di pesantren, khidmah merupakan usaha melayani tanpa berharap imbalan atau bahkan bertarif materi.

Di samping itu, para kiai dahulu ketika ada santri baru, maka tidak langsung diajar tentang berbagai ilmu, tapi ditempa terlebih dahulu dengan berbagai latihan dan tirakat, seperti nyawah, berkebun, menggembala, bersih-bersih, dan sebagainya. Hal demikian dimaksudkan kiai ingin membersihkan kotoran yang masih melekat di dalam hatinya, seperti kesombongan, riya’, ujub, hasud dan sebagainya. Setelah hati relatif bersih, baru kiai mengajarkan fan-fan keilmuan agama. Ilmu adalah cahaya. Ilmu akan mudah masuk dan memancarkan cahaya jika hati seorang santri telah bersih terlebih dahulu. Kondisi seperti ini tentu sangat beda dengan sekarang, sehingga wajar saja jika secara kognitif berisi, namun nilai keberkahan ilmu dalam bentuk laku mulai langka kita temukan dalam diri santri.

Berangkat dari keterangan di atas, nyantri sejatinya tidak hanya sekedar belajar dan mengusai kitab kuning atau menekuni seperangkat ibadah mahdlah, namun nyantri juga proses pembelajaran khidmah kepada sang kiai ketika di pesantren, dan khidmah kepada umat ketika telah kembali ke masyarakat.

Kesempurnaan seorang santri bukan hanya terletak pada kedalaman ilmunya, tapi juga terletak pada seberapa besar frekuensi khidmahnya yang didasarkan pada keikhlasan. Santri adalah seorang pejuang dan pelayan yang melayani umatnya dengan penuh cinta kasih dan ketulusan. Santri bukanlah seorang oportunis yang selalu berharap keuntungan dari setiap apa yang ia sebut sebagai “perjuangan”.

Menutup tulisan ini, khidmah ulama dan khidmah mujtama’ menurut imam Ghazali merupakan sarana paling mulia yang dapat mengantarkan kita kepada Allah. Sebab, “amal yang dampak manfaatnya meluas lebih utama dari pada amal yang dampak manfaatnya hanya kembali kepada diri sendiri atau terbatas.

Selamat Hari Santri Nasional. Semoga kita semua termasuk yang diakui sebagai santrinya para kiai-kiai kita dan santrinya Mbah Hasyim Asy’ari. Amin.

Penulis adalah Ketua LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan