ArtikelOpini

Tak Ada yang Tak Mungkin

Oleh KH. Muhamad Muzamil

Hidup ini tidak ada yang tak mungkin. Semua serba mungkin. Jangan dikira seorang yang biasa-biasa hidupnya secara lahir saat ini, ternyata ia menyimpan banyak prestasi.

Kita sering bertemu teman, waktu itu ia biasa-biasa saja, tidak menonjol. Saat bertemu dalam kesempatan berikutnya, ternyata ia telah memiliki prestasi yang sangat baik. Ada kalanya teman kita yang waktu itu prestasinya baik, ternyata saat ini ia hidup seadanya, untuk tidak menyebutnya miskin.

Hidup adalah proses, semunya serba mungkin. Sebab dunia ini bulat. Tidak lonjong, tidak segi tiga atau segi empat. Bukan pula seperti gelaran karpet atau sajadah yang yang mudah digelar. Semua tergantung pada diri pribadi masing-masing.

Memang ada pengaruh takdir yang sangat besar, yang ditentukan sejak zaman azali, di lauhil Mahfudz oleh Allah Yang Maha Esa, Maha Kuasa. Namun takdir bisa diubah dengan doa dan ikhtiar manusia. Hal seperti ini lah keyakinan ahli al-sunnah wa al-jama’ah.

Ada kisah menarik untuk disimak. Ada seseorang, katakanlah si fulan, ia ditakdirkan bernasib baik, baik di dunia ini maupun di akhirat, ia cerdas. Namun karena ia malas malasan tak mau belajar dan berusaha, kehidupannya diliputi banyak masalah. Ada juga yang takdirnya pas-pasan, kurang beruntung, namun karena ia rajin berdoa dan berikhtiar, akhirnya ia hidup berkecukupan, nampak bahagia lahir dan batin.

Karena itu banyak guru menasihati, “jangan berburuk sangka kepada teman, lebih-lebih kepada Allah SWT Yang Maha Mulia. Berprasangka baik lah, karena Allah SWT bersikap sesuai dengan prasangka kita”.

Karena itu ada al-alim al-alamah yang memberikan nasehat. “Kalau bertemu yang masih muda yakinlah bahwa dosanya masih sedikit. Jika bertemu yang lebih tua maka yakinlah bahwa amal ibadahnya sudah lebih banyak”.

Baik dan buruk, atau benar salah, seseorang bisa memilihnya dan mengusahakannya. Bukankah Allah SWT memberikan sesuatu sesuai dengan apa yang diusahakannya?

Kita mendengar banyak dalil yang bisa dibaca. “Seseorang mendapatkan apa yang diusahakannya”.

Semua itu tergantung pada niat. “Jika seseorang berniat menuju Allah dan Rasul-Nya maka ia akan sampai kepada-Nya dan utusan-Nya. Jika seseorang ingin dunia atau wanita yang akan dinikahinya, maka ia bisa mendapatkannya”.

Berniat baik memang tidak mudah, karena ini butuh latihan terus menerus, lebih-lebih hati sering tidak konsisten. Hati yang tenang adalah hati yang senantiasa mengingat Allah Yang Maha Luhur.

Kecenderungan hati adalah pada kebaikan dan kebahagiaan. Kalau dorongan ini kuat maka nafsu tak akan bisa mengalahkannya karena hati mampu mengendalikan nafsunya. Namun jika nafsu yang tak terkendali maka kecenderungan hati yang baik akan dikalahkannya.

Bagaimana agar kecenderungan hati bisa kuat dan menang dalam mengendalikan hawa nafsu? Ada lima hal yang perlu dilakukan sebagaimana nasehat para ulama. Pertama, membaca kitab suci Alquran dengan memperhatikan maknanya. Kedua, sholat sunnah di malam hari, meski hanya dua reka’at. Ketiga, menyebut nama Allah atau berdzikir sepanjang waktu. Boleh dengan lisan, atau di dalam hati. Keempat, berpuasa sunnah sebagai tambahan dari puasa yang wajib. Dan kelima, mau bersedia berkumpul bersama orang-orang sholih atau al-alim al-alamah. “Siapa yang bisa melakukannya maka doanya akan dikabulkan”.

Waktu di desa dulu, kelima hal tersebut sering dilantunkan dengan suara yang merdu, di masjid atau di musholla, setelah adzan menjelang sholat fardlu, sehingga bisa mudah dipahami meski masih sulit dilakukan bukan ?

Kini waktu terus berjalan. Kata bijak dari para hukama’ waktu seperti pedang, pandai-pandai lah menggunakannya. Kalau tidak, mungkin pedang itu akan mengenai diri kita.

Kita sering tertipu dengan waktu luang dan kesehatan badan. Tahu-tahu waktu cepat berlalu tiada henti. Sementara kita masih istirahat dan mengeluh. SubhanAllah.

Disamping itu banyak nasehat yang sering kita dengar. “Jangan bersedih, karena Allah SWT bersama kita”.

Nabi Muhammad SAW juga selalu mendoakan kita sebagai ummatnya. “Allahummahdi qaumi fa’innahum laa ya’lamuun”.

Sesama ummat Islam juga saling mendoakan. “Ya Allah berikanlah ampunan kepada kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal…”

Begitu indahnya kehidupan ini, namun mengapa masih ada ujaran kebencian dan caci maki, siapakah yang diuntungkan dari berita tidak benar yang bertebaran?

Dunia mungkin sudah tua. Sumber daya alam sudah banyak yang dimanfaatkan. Semua itu adalah anugerah Allah Yang Maha Menciptakan. “Nikmat mana lagi yang kalian dustakan?” Demikian pertanyaan Allah SWT yang belum kita jawab.

Bagaimana kita akan menjawab pertanyaan itu? Ada lagi pertanyaan. “Dari mana harta diusahakannya. Dan dibelanjakan untuk apa saja?”.

“Mulut akan ditutup, anggota tubuh yang akan bicara memberikan jawaban”. Tentu pada saatnya badan dan jiwa ini tidak akan bisa melakukan apa-apa, semua akan menerima balasan dari apa yang dilakukan saat di dunia ini”.

Selagi jiwa masih di kandung badan, masih ada waktu tersisa untuk memperbaiki diri. Semoga Allah SWT memberikan taufiq, hidayah dan inayah-Nya kepada kita bersama. Semoga Kanjeng Nabi berkenan melimpahkan syafa’atnya untuk kita, keluarga kita, dan semua teman-teman kita, amin.

-Penulis adalah Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan