PustakaSastra

Sekolah Tanpa Aturan itu Bernama “SALAM”

Oleh Syaiful Mustaqim

Biodata Buku:

Judul : Sekolah Apa Ini?

Penyusun : Gernatatiti, Karunianingtyas Rejeki, Sri Wahyaningsih

Penerbit : Insist Press

Terbit : Juni, 2019

Tebal : 240 Halaman

SALAM merupakan akronim sanggar anak alam. Lembaga pendidikan yang satu ini beda dengan pada umumnya. Apa sebab? Dari segi lokasi dan bangunan fisik tidak seperti sekolah pada umumnya. Ruang belajarnya berada di tengah persawahan. Jalan masuknya hanya berupa titian parit di samping saluran irigasi dengan lebar kurang 30 sentimeter. Bangunannya bercat warna-warni, berdinding bambu dengan pepohonan rindang yang tumbuh di sekeliling halaman.

Di SALAM juga baik murid maupun guru tidak memakai seragam. Memakai sandal jepit pun diperbolehkan. Tidak ada bangku untuk belajar. Mata pelajaran juga tidak ada. Juga tidak pernah terdengar bel untuk mengawali dan mengakhiri kegiatan belajar.

Deskripsi sanggar anak alam tersebut merupakan salah satu uraian yang termaktub dalam buku “Sekolah Apa Ini?” Buku setebal 240 halaman ini disusun Gernatatiti dkk sebagai jawaban para tamu yang berkunjung ke SALAM di Nitiprayan, Yogyakarta. Para tamu datang ke tempat tersebut karena keberadaan SALAM menginisiasi praktik belajar yang memerdekakan—ruang belajar yang membebaskan. Sehingga mulai dari mahasiswa hingga praktisi pendidikan berkunjung untuk melihat, mengamati, meneliti, dan maupun untuk sejumlah agenda yang lain.

SALAM, Sekolah Tanpa Aturan

Sanggar anak alam yang oleh masyarakat luas lebih dikenal dengan sebutan SALAM ini bermula dari kelompok bermain. Hingga kini memiliki sekitar 200 peserta belajar mulai dari tingkatan Kelompok Bermain (KB) hingga jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) yang didampingi oleh sekitar 50 fasilitator.

SALAM dikenal luas sebagai sekolah bebas merdeka. Beberapa orang yang sinis memberi embel-embel “sekolah tanpa aturan”. Pada bab 3 yang bertajuk “Sekolah Tanpa Aturan” ditegaskan oleh penyusun buku bahwa Salam mendasarkan laku pendidikannya pada konsep pendidikan merdeka yang digagas Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar mengatakan bahwa merdeka berarti tidak hidup terperintah, tidak bergantung kepada orang lain, dan cakap mengatur ketertiban hidupnya sendiri. (hlm. 43)

Belakangan ini banyak pusat-pusat pendidikan yang mengklaim sebagai pelaku sekolah merdeka tetapi kenyataannya pada praktiknya hanya sekadar memindahkan kegiatan belajar ke luar kelas. Sementara anak-anaknya masih terperintah dan bergantung kepada orang lain.

Tanpa aturan alias merdeka yang dianut SALAM bukan berarti bebas semaunya. Di SALAM memang tidak ada aturan, yang ada hanya kesepakatan. Kesepakatan itu dibuat dengan melibatkan pihak sekolah, fasilitator, anak-anak maupun orang tua.

Ada kesepakatan di SALAM yang menjadi garis besar bagi semua jenjang yakni jaga diri sendiri, jaga teman, dan jaga lingkungan. Selain ketiga poin itu, SALAM juga berpegang teguh pada empat (4) pilar dalam mengurai proses belajar yaitu pangan, kesehatan, lingkungan, dan sosial budaya.

Selain menerapkan konsep “merdeka” sanggar anak alam yang salah satu pemrakarsanya adalah Toto Rahardjo ini tidak pandang bulu. Semua boleh sekolah di SALAM. SALAM tergolong sekolah yang memegang prinsip inklusi yaitu menerima semua anak tanpa memandang kemampuan, kecatatan, gender, status kesehatan maupun latar belakang sosial, ekonomi, suku, agama ataupun bahasanya. (hlm. 69)

Prinsip lain yang dipegang adalah tidak memandang agamanya. SALAM tidak menyelanggarakan mata pelajaran apapun termasuk agama. Meski demikian, SALAM tetap memiliki prinsip-prinsip religiusitas yang berporos pada penghargaan terhadap bumi dan manusia. (hlm. 78)

Prinsip berikutnya, tidak ada sekat. SALAM memandang bahwa setiap orang berkebutuhan khusus. Manusia diciptakan Tuhan memiliki perbedaan dalam kemampuan berpikir, melihat, mendengar, berbicara dan lain sebagainya. Tidak ada dua (2) orang yang benar-benar sama. Karenanya dalam proses belajar pun tiap orang punya minat dan kebutuhan yang berbeda. (hlm. 84)

Roem Topatimasang, pendiri Indonesian Society for Social Transformation (Insist) Yogyakarta dalam endorsement mengungkapkan memupuk dan menumbuhkan kebiasaan (sikap dan perilaku) “bertanya yang mempertanyakan” merupakan hal dasar yang membedakan antara SALAM dengan lembaga-lembaga atau sekolah formal pada umumnya.

Sejak usia dini anak-anak sudah dibiasakan bebas mengajukannnya. Bahkan para murid sudah tidak mengenal mata pelajaran, pengkotak-kotakan ilmu yang membutakan seseorang untuk melihat unsur dasar lain dari sari pati pengetahuan; hubungan keterkaitan (relasi) antar berbagai hal yang membentuk pemahaman yang menyeluruh tentang sesuatu.

Hal itulah yang menurut Roem anak-anak SALAM lebih akrab dengan dan paham makna istilah riset (research). Mereka melakukan dan mengalaminya sendiri, langsung dalam praktik sehari-hari. Oyi misalnya. Murid kelas 4 ini melakukan riset “membuat layang-layang”. Untuk melakukan riset tersebut si Oyi yang berusia 10 tahun ini melakukan serangkaian kegiatan mulai membuat daftar pertanyaan, mencari sumber informasi, mewawancarai narasumber, menuliskan hasil wawancara, lalu melakukan praktik menerbangkan layang-layang buatannya.

Kegiatan proses percobaan itu dilakukannya sampai 3 kali. Namun riset dia gagal. Layang-layang yang dibuatnya tidak bisa terbang. Meski begitu dengan sinau riset tentang layang-layang itu dia dan kawan-kawannya memperoleh pengetahuan tentang layang-layang yang bisa diterbangkan maupun yang tidak bisa diterbangkan.

Apa yang dilakukan Oyi dkk di SALAM  tentu berbeda denga sekolah-sekolah pada umumnya. Anak-anak sebaya mereka di sekolah-sekolah konvensional mungkin baru akan mendengar istilah itu nanti setelah mereka menjadi mahasiswa di perguruan tinggi.

Nah, buku ini ada kaitannya dengan “Sekolah Biasa Saja” yang ditulis Toto Rahardjo tahun 2018 lalu. Buku yang ditulis Toto adalah sebuah paradigma. Sedangkan buku yang ditulis secara keroyokan oleh para fasilitator dan orang tua ini merupakan praksis dari sanggar anak alam.

Buku yang ditulis dengan gaya narasi cocok didaras kalangan guru, mahasiswa, praktisi pendidikan maupun peminat kajian pendidikan yang membebaskan maupun memerdekakan. Tidak hanya membaca konten buku ini saja, Toto Rahardjo yang merupakan pendiri SALAM menandaskan jika pembaca sesuai dengan isi buku agar membangun SALAM-SLAM versi sendiri di lingkungan masing-masing.

“Bila Anda setuju dengan apa yang telah diungkapkan dalam buku ini, kami lebih bahagia justru ketika kami mendengar Anda melakukan, mempraktikkan di lingkungan terkecil Anda. Lebih lanjut kami mengajak Anda untuk membuat, membangun SALAM-SALAM lain menurut versi Anda yang sesuai dengan konteks di lingkungan Anda. Jika Anda bukan bagian dari penyelesaikan, Anda merupakan bagian dari persoalan.” (*)

-Peresensi  adalah Guru SMK Az Zahra Mlonggo Jepara.

Tinggalkan Balasan