ArtikelEsaiRekomendasi

Generasi Cendol Dawet (2)

Oleh Hamidulloh Ibda

Di sela-sela kegiatan Annual Conference on Research Proposal (ACRP) Diktis Kemenag di Hotel Horison Grand Serpong, Kota Tanggerang, 17-19 September 2019 kemarin, saat menonton televisi, muncul berita viralnya cendol dawet dan Didi Kempot. Dalam benak saya, “cendol dawet maneh…..”.

Ya, lagu Pamer Bojo besutan Didi Kempot yang dirillis tahun 2016 menyisakan sesak. Sebab, lagu yang aslinya estetis-romantis-satiris ini diplesetkan beberapa oknum dan menjadi pakem ketika pentas dengan sebutan “cendol dawet”. Viral di televisi, radio, media online, dan media-media gaib lainnya.

Baca: Generasi Cendol Dawet (1)

Sebagai penciptanya, Didi Kempot pun di berbagai konser saat membawakan lagu Pamer Bojo tak pernah mengikuti alur atau melantunkan lirik cendol dawet. Ia sadar, itu bukan produknya. Di antaranya saat konser di kampus UGM, KDI MNCTV, dan di beberapa tempat lain. Tak percaya? Lihat saja di Youtube.

Sebagai penikmat campursari, ya penikmat tepatnya, saya sendiri menyukai lagu-lagu produk Didi Kempot. Akan tetapi, dengan “pengoploan” di tiap lagu, menjadikan karya Mas Didi ini kurang estetik. Padahal, Didi Kempot yang menciptakan lebih dari 800 lagu itu sudah dinobatkan penggemarnya sebagai Bapak Patah Hati Nasional atau Godfather of Broken Heart. Ini bukan makbedunduk, melainkan karena karyanya.

Sebutan tersebut lahir karena hampir sebagian lagu ciptaan Didi Kempot bertemakan patah hati, kehilangan, kesedihan, kesengsaraan, penantian, kegalauan, dan lainnya. Selain Pamer Bojo, sebut saja lagu Cidro, Stasiun Balapan, Sewu Kuto, Suket Teki, Pantai Klayar, Layang Kangen, Banyu Langit, dan lainnya menyanyat di hati, bahkan menusuk hingga ke pusak sukma. Didi Kempot mewartakan kedalaman dan keluasan isi hati manusia.

Nah, tugas kita adalah mendalaminya, meluaskannya dengan perilaku sehari-hari, baik kita yang berprofesi sebagai guru, hakim, wartawan, pejabat negara, atau lainnya. Semua berhak patah hati, dan berhak move on lagi.

Sehingga, laik bagi Didi Kempot mendapat sebutan Godfather of Broken Heart. Dus, apakah generasi cendol dawet juga demikian karakternya? Lebih memaknai hati secara dalam, luas, atau sekadar generasi lenjeh, loyo, lunglai, lemah, letih, lesu, lebay, dan sejenisnya? Sebab, sifat dari cendol adalah lentur, lunyu, jemek, ia mudah jatuh.

Jika generasi sekarang tidak punya teknologi batin yang kuat seperti harapan dalam lagu-lagu Didi Kempot, tampaknya mereka akan sirna dan tidak bisa bertahan hidup sekaligus menghidupi zamannya.

Genealogi Cendol Dawet

Bagi orang Jawa, dawet merupakan bagian dari minuman. Ya, dawet merupakan minuman khas Nusantara yang awalnya terbuat dari tepung hunkwe, tepung beras, dicampur dengan gula merah cair dan santan dan dicampur cendol. Dalam konteks ini, cendol dawet bukan lagi minuman, melainkan plesetan yang dimasukkan ke dalam lagu Pamer Bojo karya Didi Kempot.

Lagu awal yang judulnya Pamer Bojo tidak terkenal, justru yang terkenal adalah “cendol dawet”. Nella Kharisma, Sodiq Monata, JKT48, Soimah, Upin Ipin, hingga anak-anak di bawah umur juga melantunkannya. Saat anak-anak MTs ikut lomba baris-berbaris dalam perhelatan lomba PBB pun membawa-bawa cendol dawet. Lebih ironis lagi, ada video potongan yang mengilustrasikan anak-anak saat diajak menyanyi Kidang Talun, mereka tidak hafal, justru malah menyanyikan cendol dawet. “Ajur… ki… ajur…” keluh teman saya ketika saya kirim link video itu kepadanya.

Saat ngobrol dengan teman dosen, dia mengatakan beberapa sumber genealogi cendol dawet. Salah satunya berawal dari yel-yel supporter sepakbola PSS Sleman saat idolanya bertanding di lapangan. Ada pula yang mengatakan, cendol dawet berasal dari pengembangan lagu Pamer Bojo oleh Abah Lala. Lantaran viral dan menjadi satu kesatuan dari lagu Pamer Bojo, cendol dawet pun menjadi trending. Masalahnya, apakah sekadar trending saja?

Generasi Islam Nusantara

Saya lebih sepakat jika generasi cendol dawet ini berbalik arah menjadi “Generasi Islam Nusantara”. Loh, mengapa? Jelas, Didi Kempot lah salah satu maestro campursari yang turut memopulerkan lagu Islam Nusantara. Kemudian, lambat laun, lagu itu menjadi lagu wajib pengiring Senam Islam Nusantara atau SIN ini di berbagai tempat.

Liriknya, yaitu; Gambarnya bumi ada talinya//Bintangnya sembilan melingkari buminya//Itu lambangnya juga tempatnya//Para kiai dan ulamanya//Itulah Nahdlatul Ulama//Sering disebut NU//Selalu gigih berjuang//Sejak zaman penjajahan//Dari itu mari kawan ikut NU dan ulamanya//Tuk membangun Islam Nusantara//Agar hidup nyaman sejahtera//Diridai yang Maha Kuasa.

Syair lagu pengiring Senam Islam Nusantara ini merupakan karya Ketua LPNU Kabupaten Semarang dan Mantan Sekum Ansor Jateng periode 1977-2002, Muslih. Ya, Pak Muslih ini menjadi pencipta lagu Islam Nusantara yang dipopulerkan Didi Kempot dan menjadi ciri khas senam warga NU.

Ketika Didi Kempot menciptakan Pamer Bojo viral dan sekadar buat iseng-isengan, lalu mengapa Islam Nusantara tak viral kala itu? Bahkan, malah dikutuk-kutuk kelompok sebelah yang dikira Islam ahlulbidah. Ya, namanya orang nyinyir kan bebas!

Kembali lagi ke pokok bahasan, bagi saya intinya generasi Islam Nusantara adalah generasi yang meneruskan perjuangan Walisongo. Mereka meyakini bahwa spirit beragama dan bernegara adalah satu tarikan nafas yang tidak dapat dipisahkan. Mau disebar lewat doktrin, diajarkan lewat kurikulum dan buku-buku, diviralkan lewat Youtube, didakwahkan lewat senam atau lagu, itu semua pasti memandang antropologi dan setting wilayah Nusantara ini.

Jika demikian, generasi Islam Nusantara  adalah yang beragama Islam dan hidup di Nusantara. Ingat, Nusantara adalah tempat, wilayah, lokasi, bukan kata kerja seperti “Berkemajuan” atau “Terpadu”. Kalau Islam, ya pasti berkemajuan. Jika Islam, ya pasti terpadu. Masak ada Islam tidak berkemajuan dan tidak terpadu? Islam cap opo kuwi?

Maka jelas, Islam Nusantara lah yang laik dipedomani karena dia tidak menunjuk pada kata kerja, melainkan, tempat, wilayah, lokasi. Salah satu dakwahnya, melalui pendekatan kewilayahan yang menyesuaikan kondisi sosial, budaya, tradisi, masyarakat setempat.

Seperti yang dijelaskan Pak Muslih di media, filosofi Senam Islam Nusantara di dalamnya ada unsur olahraga. Dalam salat mengandung unsur olahraga. Melalui Senam Islam Nusantara sekaligus mengingatkan anak muda untuk rajin salat. Pak Muslih menciptakan senam tersebut beserta lagu pengiring, dan memadukan dengan gerakannya memakan waktu selama enam bulan.

Kemudian, dikonsultasikan ke LP Ma’arif di Jakarta sampai tiga kali. Selain itu, dalam membuat videonya juga sampai tiga kali. Video pertama di SMK NU Ungaran, kedua di Masjid Agung Jateng, dan yang ketiga di Masjid Demak. Akhirnya, jadilah Senam Islam Nusantara yang kini dijadikan NU sebagai senam warga NU.

Sudah jelas, Generasi Islam Nusantara dapat dilahirkan dari mana saja, kapan saja, di mana saja berada. Sesuai prinsip dakwah, tidak sekadar melalui metode dakwah billisan (dakwah melalui lisan/ceramah) dan bittadwin (melalui tulisan), dakwah juga dapat dilaksanakan bilhaal (perbuatan nyata), bilhikmah (dakwah dengan cara arif bijaksana). Salah satu wujud nyatanya lewat kesenian, lagu, senam, dan lainnya.

Daripada sekadar mendakwahkan cendol dawet yang muaranya bias, lebih baik kita kembali mendakwahkan Islam Nusantara yang ramah, moderat, toleran, dan tidak suka membidahkan,  menyirikkan, apalagi mengafirkan. Jika ada dakwah, atau ustaz yang model dakwahnya demikian, apa mereka termasuk generasi cendol dawet ya?

-Penulis adalah dosen dan Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung.

Tinggalkan Balasan