Oleh: Vito Prasetyo

     Tentang malam yang dingin dan bersalju, di antara impitan gelap. Ada cerita yang tersimpan di lorong waktu. Dan cahaya rembulan memantulkan warna yang begitu samar. Remang-remang, sinarnya tak menyentuh tanah. Kota Yinchuan Provinsi Ningxia terlalu ringkih untuk menolak musim yang acap kali berubah, bukan untuk menolak rotasi bumi.

     Suatu ketika, Randu menertawakan kawannya yang bercerita tentang kematian. Seharusnya di kedai ini kita berbagi cerita tentang aroma kopi, yang aromanya bisa melekat erat di hidung. Tapi seorang di antara mereka bercelatuk:

     “Lidah kamu sudah mati rasa, dan percuma bicara tentang aroma kopi.” Randu tersenyum kecil.

     Tetapi, di kemudian hari tiba-tiba tubuh Randu menggigil tanpa daya. Antara merasa dingin, tetapi badan terasa panas tinggi. Matanya berkunang-kunang. Sebuah bayangan terasa sedekat nafas. Itu mungkin malaikat, dan ia menertawakannya.

     “Engkau bukanlah tubuh yang kekal.”

     Randu ketakutan. Dunia seakan berpaling darinya. Tidak ada air penyucian jiwa selain kobaran nyala api yang begitu panas. Tetapi sekian detik, begitu cepat. Ada bisikan halus di telinganya.

     “Hanya puisi yang mampu membasuh api itu.”

     Tangis puisi pun pecah. Terdengar begitu lirih dan menyayat. Diksi yang ada di dalamnya semburat. Huruf demi huruf bagai bayangan yang berlari mencari siapa tuannya. Mereka tidak lagi menyatu pada kata. Hanya beberapa huruf yang terikat menyatu, tidak bisa terpisahkan. Dan mereka pernah tertulis dalam puisi. Mereka seperti huruf yang tak henti-hentinya berdoa.

Randu mencoba mengejanya: – alif laam miim –

     Hanya dari huruf-huruf itu bisa mengeluarkan cahaya. Tampak serupa nur. Bukan api!

     Randu berada di persimpangan, antara kematian dan kehidupan. Tapi bukan untuk menunggu sebuah vonis. Tubuhnya mungkin menjadi penggalan huruf yang sedang berusaha menyusun kembali huruf-huruf itu menjadi kekuatan tubuh. Sialnya, Randu menemukan sebuah nama yang tidak pernah dikenalnya. Ayu Komang! Otaknya berputar seakan pijakan dunia ini kian rapuh. Siapakah perempuan ini yang tiba-tiba menyelinap dalam pikiran Randu. Mungkin Kota Yinchuan terlalu kecil untuk menyembunyikan kisah.

     Keesokan harinya, Randu pergi ke kampus. Ningxia University. Cukup lama ia tidak ke kampus. Beberapa minggu ia ditugaskan ke beberapa kota di Provinsi Ningxia. Randu juga sudah lama merindukan suasana kampus. Dan ketika Randu keliling beberapa kota, ia selalu menyempatkan diri untuk mampir ke kedai kopi. Mungkin ada benarnya, kawan-kawan Randu mengatakan jika ia telah mati rasa, hingga tidak mampu lagi membedakan aroma kopi.

     “Selamat siang Pak Randu.” Seseorang menyapanya dengan aksen Indonesia yang terlalu mudah Randu membedakannya, ketimbang aksen warga lokal Yinchuan.

     “Eh…. Selamat siang.” Randu sedikit tergagap dan heran. “Bukankah wanita ini yang ia temui dalam khayalannya kemarin?”

     Tapi kenapa ia bisa tahu nama Randu? Ayu Komang seakan bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Randu. Ia memperkenalkan diri dan menjelaskan apa tujuannya untuk bertemu Randu. Sebagai seorang dosen sekaligus peneliti pada North Minzu University di Kota Yinchuan, Ayu Komang ingin bertukar pikiran tentang keilmuan Islam pada Randu. Tetapi Randu hanya tersenyum.

     “Anda mungkin bertemu orang yang salah. Saya tidak mendalami tentang keilmuan Islam.” Kata Randu.

     “Mungkin Pak Randu tidak mendalami tentang keilmuan Islam, tetapi saya banyak membaca karya-karya Pak Randu begitu religius.” Randu tersenyum kembali. Bukan untuk menertawakan Ayu Komang. Seharusnya ia paham sebagai peneliti. Data yang ia perlukan lebih baik dikonsultasikan kepada pakar atau ahli tentang Islam. Randu khawatir jika memunculkan penafsiran yang salah. Karya sastra tidak bisa ditafsirkan sejajar dengan kitab-kitab agama.

     “Jangan panggil saya dengan sebutan Pak. Itu kesannya terlalu formal.” Randu mencoba mengalihkan percakapan.

     Suasana pun mulai mencair. Ayu Komang merasa jika tradisi orang Indonesia masih tetap terpelihara meski berada di negeri asing. Beberapa saat, mereka mulai terlihat akrab.

     Tanpa disangka-sangka Randu, tiba-tiba Ayu Komang bertanya kepada Randu tentang kematian dalam tinjauan Islam. Selama ini, di North Minzu University, Ayu Komang melakukan penelitian tentang berbagai kelompok etnis. Yang menarik dalam penelitiannya, kehidupan kaum muslim di kampus itu begitu kuat. Meski mereka berasal dari berbagai etnis. Dan yang lebih menarik, sikap toleransi yang begitu besar ditunjukkan warga kampus terhadap sesama. Sementara Ayu Komang, dibesarkan di lingkungan tradisi Hindu di Bali.

     “Kalau kita membahas tentang hal itu, sebaiknya jangan dengan pendekatan ilmiah.”

     “Dimensi itu banyak bersentuhan dengan hal-hal abstrak, tetapi sebaiknya kita lihat dari cara-cara tradisional yang diyakini sebagian besar orang muslim sebagai jalan untuk menuju kehidupan akhirat.” Randu berkata cukup hati-hati agar tidak menimbulkan sensitivitas Ayu Komang.

     “Hidup ini adalah perjalanan panjang untuk belajar dari hal-hal yang tidak kita ketahui. Tetapi menjadi pengalaman berarti untuk menuju kebaikan.” Randu berkata kepada Ayu Komang, seolah-olah ia berbicara kepada mahasiswanya. Sementara Ayu Komang hanya mendengarkan.

     “Saya yakin, pemahaman Anda tentang surga atau neraka, akan berbeda dengan saya.” Tampak sorot mata Ayu Komang berbeda. Tatapan itu bagai sayatan luka yang entah apa penyebabnya. Ayu Komang tertunduk, ia seperti mendengarkan sebuah vonis tanpa pembelaan. Ayu Komang menyadari, perbedaan keyakinan bisa memicu sesuatu yang sifatnya permusuhan. Ayu Komang dibesarkan di lingkungan tradisi Hindu.

     “Sebaiknya kita bahas tentang hal-hal yang ringan. Mungkin tentang kampusmu!” Randu betul-betul ingin mengalihkan arah pembicaraan.

     Sebelum Ayu Komang menjawab pertanyaan Randu, sekian detik Randu kembali berkata.

     “Setahu saya, kampus Anda cukup hibrid dalam penelitian terhadap etnis dan tradisi. Itu mungkin sangat menarik. Apakah Anda bisa ceritakan?”

     “Mungkin bukan hanya kampus, itu lebih luas menurutku.” Jelas Ayu Komang kemudian terdiam. Raut wajahnya terlihat pucat pasi. Seperti wajah orang yang telah meninggal. Randu menangkap sesuatu yang agak ganjil dari wajah Ayu Komang. Pikiran Ayu Komang tampak tidak fokus. Bicaranya jadi tidak teratur.

     “Jadi… apa yang saya lihat, ada yang begitu berbeda dengan etnis Hui dalam tradisi mereka.”

     “Etnis Hui ternyata mayoritas muslim di Ningxia. Dan tradisi mereka sangat kuat, tapi mereka bisa menghargai kaum pendatang.” Lanjut Ayu Komang.

     “Saya melihat mereka berkumpul dan membaca Al–Qur’an setelah salat di masjid. Tapi saya sedih, karena saya tidak mengerti apa yang mereka baca.”

     Randu mengernyitkan dahinya. Kenapa Ayu Komang tidak bercerita tentang kampusnya, seperti harapannya.

     “Saya juga melihat orang-orang etnis Hui memandikan orang yang meninggal dan membungkusnya dengan kain putih.”

     “Kain kafan maksudnya?” Sergah Randu.

     “Iya, itu maksudku.” Jawab Ayu Komang.

     “Tapi… aku… ketika mati aku dikremasi.” Mata Ayu Komang mulai sembab, seperti ia menyesali sesuatu.

     Dan di saat yang sama, aroma wangi begitu tajam merebak. Randu mencium aroma itu begitu tajam. Dalam benaknya, kenapa Ayu Komang tiba-tiba bercerita tentang kematian? Bukankah yang diinginkannya soal penelitian atau seputar masalah kampus? Dan aroma wangi itu kian tajam di hidung Randu. Wangi itu seperti yang digunakan dalam ritual-ritual kematian.

     Randu ingin menyudahi pembicaraan itu, tetapi Ayu Komang terus berbicara. Seakan semua aliran emosional yang ada di tubuhnya ingin ditumpahkan keluar. Tangis Ayu Komang mulai mengalir. Ia tersedu-sedu.

     “Aku ingin mencintai seseorang…. dan orang itu seperti dirimu, Randu.”

     “Tapi…. dunia ini menolakku, Randu.”

     Suasana menjadi begitu emosional. Randu berusaha meredam kata-kata Ayu Komang. Ia bingung, entah apa yang dibicarakan Ayu Komang. Antara satu cerita dengan cerita lain, seakan tidak nyambung. Loncat-loncat topiknya, dengan mimik kegelisahan yang begitu dalam.

     “Cinta bukanlah satu-satunya jawaban atas persoalan-persoalan duniawi.”

     Akhirnya Randu membuka suara, dan jawaban itu agar Ayu Komang tidak lagi meneruskan ceritanya. Randu menyadari, ini bukan waktu yang tepat untuk berbincang-bincang. Dan, bagi Randu, apa yang diceritakan Ayu Komang akhirnya tidak menarik sama sekali. Mereka pun berpisah.

     Anehnya, ketika Randu tidur pada malam harinya, ia bermimpi tentang Ayu Komang. Mereka bertemu pada kehidupan yang tidak pernah diketahui atau dilihat Randu. Api menjilat tubuhnya, tetapi suara-suara asing menggema seakan membaca puisi yang pernah ditulis Randu. Dan, huruf-huruf yang terdengar pada puisi itu serupa lafal suluk yang memadamkan api tersebut.

Ayu Komang berteriak pada Randu.

     “Tolong bacakan puisimu untukku, Randu!” Api itu mulai menjilati tubuh Ayu Komang.

     Randu tak mampu berbuat apapun, selain membiarkan tubuh Ayu Komang dimakan api. Ia juga tidak tahu, puisi apa yang harus dibacakannya untuk Ayu Komang.

     “Ah… ternyata aku hanya mimpi. Apakah itu mimpi buruk?” Gumam Randu.

     Beberapa hari kemudian, Randu ditugaskan oleh kampusnya untuk mengunjungi North Minzu University. Ini tentunya surprise buat Randu. Ia bisa bertemu kembali dengan Ayu Komang.

     Tiba di North Minzu University, Randu betul-betul kaget, seakan tidak percaya apa yang ada di hadapannya. Ia diterima oleh seorang wanita yang sangat dikenalnya, tapi ia bukan Ayu Komang. Ya, wanita di hadapannya adalah Sri Suharsi – yang  kerap dipanggil dengan nama kecil, Arsy. Wanita yang berada dalam bayang-bayang kehidupan masa lalu Randu. Masa lalu yang begitu pahit bagi Randu, hingga ia memutuskan untuk pergi jauh dari kehidupan Arsy. Dan akhirnya Randu memutuskan bekerja di Kota Yinchuan, dan melupakan kisahnya bersama Arsy.

     Kata-kata penolakan orang tua Arsy, ketika Randu berniat menyunting Arsy, seakan mengiang kembali. Itu kisah pahit beberapa tahun silam, saat Randu baru selesai kuliah dan hanya berprofesi sebagai penulis lepas.

     Tapi Randu harus bersikap profesional, karena ia ke North Minzu University demi sebuah tugas. Bagaimanapun juga Randu ditugaskan kampus untuk tugas riset.

     “Saya diberi mandat rektorat untuk menemui Mas Randu, kemarin saya membaca suratnya.” Arsy beri penjelasan, tanpa menunggu komentar Randu.

     “Tapi… saya ingin bertemu Ayu Komang.” Ungkap Randu.

     “Jadi Mas Randu belum tahu?”

     “Apa itu?”

     “Ayu Komang sudah meninggal dunia setahun lalu, dan saya yang diminta menggantikan posisinya,” ujar Arsy.

     Dunia rasanya gelap seketika. Pandangan Randu tiba-tiba terasa hitam. Apakah pertemuannya dengan Ayu Komang seperti sebuah postulat kematian? (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *