Oleh Sam Edy Yuswanto*
Kulkas mahal itu berdiri gagah dan megah. Oleh pemiliknya ia diletakkan di salah satu pojok ruang dapur. Bersisian dengan rak piring dan gelas. Meskipun hanya satu pintu namun badannya tampak begitu gemuk. Bagian dalamnya yang terdiri beberapa rak juga lumayan luas. Buktinya, kulkas tersebut mampu menampung aneka sayur-mayur, buah-buahan, kecap, saus, daging, dan tentu saja aneka kudapan. Belum lagi, sisi pintu dalam bagian atas dipenuhi telur ayam. Sementara di bawahnya tampak berjubel botol-botol minuman beragam merek.
“Pusing aku terlalu lama terkurung di sini!” sepotong daging ayam yang dibungkus plastik putih menyuarakan unek-uneknya.
“Kamu pasti kedinginan, ya?” sahut tomat yang tampak menyembul dari kresek hitam.
“Bukan soal itu, kalau hanya kedinginan sih aku sudah biasa hingga sekujur tubuhku kerap membeku,”
“Lantas?” sebutir telur yang sudah nyaris putus asa terkurung lama bersama teman-teman sesamanya di dalam kulkas ikutan bersuara.
“Sudah seminggu lebih aku terkurung di sini, tapi Si Bos belum ada tanda-tanda mengeluarkanku. Lama-lama aku bisa membusuk dan akhirnya dibuang ke tong sampah, seperti nasib teman-teman yang telah mendahului kita itu, lho,” terang daging panjang lebar dengan kesedihan yang tak bisa disembunyikan. Si bos, itulah julukan yang diberikan oleh mereka pada Rani, ibu muda berparas jelita, pemilik kulkas tersebut.
“Eh iya, kemarin teman kita, si pepaya juga begitu, kasihan dia akhirnya membusuk setelah terjebak di sini selama seminggu,” mentimun yang sudah tampak layu dan sedari tadi diam di pojokan tiba-tiba ikut bicara.
“Bukan seminggu, Mun. Tapi dua minggu, aku masih ingat saat Si Bos memasukkan potongan pepaya itu ke sini,” telur mengklarifikasi.
“Kok kamu tahu? Berarti kamu menghuni kulkas ini sudah lebih dari dua minggu dong, Lur?” cecar seikat kangkung yang daunnya terlihat hijau dan segar namun bila dikeluarkan dari kulkas akan langsung layu dalam waktu hitungan menit.
“Hampir sebulan aku terkurung di sini, maklum Si Bos nggak sering masak telur, sepertinya dia memang nggak begitu suka telur, deh,” keterangan telur membuat mentimun keheranan.
“Si bos kita satu ini benar-benar aneh, kalau nggak suka telur, kenapa dibeli dan dimasukkan ke sini, sih?”
“Iya juga ya, kan mubazir kalau akhirnya nggak dimakan,” timpal wortel yang sedari tadi asyik menyimak obrolan mereka.
“Itulah manusia, yang kerap melakukan keanehan padahal Tuhan telah membekalinya dengan akal,” ujar telur yang langsung disambut tawa oleh entah siapa.
“Ha ha ha ha!”
Semua isi kulkas saling pandang saat mendegar suara tawa yang cukup keras tersebut.
“Heh, kalau ketawa jangan keras-keras, dong?”
“Iya, berisik tahu!”
“Siapa sih yang ketawa! Nggak sopan banget!”
“Maaf teman-teman, barusan yang ketawa adalah aku, kulkas tempat bermukim kalian,”
“Oalah, kirain siapa,”
“Eh tumben kamu ngomong, biasanya nggak pernah ada suaranya,”
“Iya, lagian kenapa kamu ketawa? Emang ada yang lucu?” cecar telur dengan nada heran campur penasaran.
Kulkas lantas berkisah panjang lebar bahwa sudah lama ia paham dengan karakter Si Bos. Tepatnya sejak setahun lalu ia dibawa pulang dengan mobil box dari sebuah toko elektronik menuju rumah ini.
“Seperti itulah karakter Bos kita, hobinya gemar nian belanja aneka bahan makanan yang sebenarnya nggak terlalu dibutuhkan, semua dibeli, dimasukkan ke dalam kulkas, dan ujung-ujungnya banyak makanan yang akhirnya membusuk dan dibuang sia-sia!” terang kulkas dengan gemas.
“Kenapa nggak dikasihkan ke tetangga saja ya, daripada menimbun bahan makanan dalam jumlah besar tetapi ujung-ujungnya membusuk karena nggak kunjung dimasak,”
Ketika para penghuni kulkas sedang sibuk membahas watak serta kebiasaan buruk si pemilik kulkas, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat.
“Ssst, awas Si Bos datang,”
“Mari kita lihat, kira-kira siapa di antara kita yang akan diambil olehnya,”
“Semoga aku, udah nggak tahan aku terkurung di sini,”
“Aku juga, semoga Si Bos segera mengeluarkan kita dari tempat terkutuk ini,”
Terdengar begitu riuh para penghuni kulkas saling menyuarakan isi hati. Masing-masing memiliki harapan yang sama; bebas dari penjara berhawa dingin dan begitu menyiksa. Dan ketika pintu kulkas benar-benar dibuka, Rani tampak kebingungan memandang isi kulkas yang penuh sesak dengan berbagai bahan makanan. Dipandanginya satu per satu para penghuni kulkas yang sebagiannya sudah nyaris layu dan kedaluwarsa akibat terlalu lama terjebak di dalam sana.
“Masak apa ya siang ini, sepertinya semua isi kulkas sudah pernah aku masak semua, deh,” Rani bergumam sambil menyentuh wortel yang tak lagi segar. Lalu beralih memungut dan menimang-nimang sebuah tomat merah yang kulitnya mulai kisut digerogoti waktu dan hawa dingin. Pandangan Rani tiba-tiba terpaku pada deretan telur di rak pintu bagian atas. Tangan kanannya yang putih mulus terulur. Mengambil dua butir telur dengan raut penuh semangat.
“Kayaknya sudah lama banget nggak masak telur, aku mau bikin dadar, ah,“ kedua sudut bibir perempuan yang telah dikaruniai seorang anak itu mengembang. Rautnya tampak semringah. Setelah menutup pintu kulkas, Rani pun bergegas mencuci dua butir telur tersebut sebelum dimasak. Namun Rani terpekik usai memecahkan telur dan menuangkannya ke dalam mangkuk putih yang bagian tepinya bergambar seekor jago dengan logo merek penyedap rasa ternama di berbagai belahan dunia.
“Sial, telurnya udah bau busuk,”
Saat telur yang kedua dipecah juga sama. Busuk dan tak bisa dikonsumsi. Kuning telur tersebut sudah berwarna abu-abu. Rani tergesa menuju kulkas. Mengambil semua telur yang ada di rak. Dari total sepuluh butir telur, hanya dua yang tidak busuk dan masih bisa dimasak. Dengan raut enggan Rani memasukkan pecahan cangkang telur-telur busuk itu ke dalam kresek sebelum membuangnya ke dalam tong sampah.
***
“Melelahkan sekali hari ini,” gumam Rani usai masak telur dadar dan oseng kangkung. Tadinya dia ingin memasak daging ayam tapi batal ketika mengetahui daging tersebut sudah agak busuk. Daging ayam tersebut akhirnya dibuang bersama cangkang telur dalam kresek hitam.
“Ayam gorengnya kok nggak ada, Ma?” tanya Via, gadis kecil yang tahun ini masuk TK saat membuka tudung makanan.
“Ayamnya nggak bisa dimasak, Nak,”
“Via tebak, pasti dagingnya busuk lagi ya, Ma?”
Rani terkekeh. Mengangguk.
“Anak Mama kok pintar nebak, sih?“
Sejak memiliki kulkas, Via memang mulai hafal kebiasaan mamanya yang suka menimbun bahan makanan di dalam kulkas hingga kerap membusuk dan akhirnya teronggok pasrah di dalam tong sampah.
“Sambil nunggu Papa pulang kantor, mendingan kita beli Kentucky, yuk,”
Via terlihat bersemangat dengan ajakan mamanya.
“Asyik, sekalian ke minimarket ya, Ma, Via pengin es krim sama keripik singkong,”
“Oke, Mama juga mau sekalian belanja,”
Seperti itulah. Rani kembali berbelanja meskipun stok bahan makanan di dalam kulkas masih melimpah ruah. Nanti, Rani akan memilah dan memilih bahan makanan yang sudah tak layak dikonsumsi dan membuangnya ke tempat sampah sebagaimana yang sudah-sudah. Dan, seperti biasa, dia akan mengisi kulkas itu lagi dengan aneka bahan makanan dan buah-buahan segar yang barusan dibelinya.
***
Puring, Kebumen, 19 Agustus 2021.
Sam Edy Yuswanto*Lahir dan berdomisili di kota Kebumen. Ratusan tulisannya telah tersiar di berbagai media cetak, lokal hingga nasional, antara lain: Jawa Pos, Republika, Koran Sindo, Kompas Anak, Suara Merdeka, Jateng Pos, Radar Surabaya, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, dll.
