Oleh Gunoto Saparie
Ada sesuatu yang unik dalam kata pembaruan. Ia terdengar seperti pintu yang baru dicat, padahal belum tentu ada ruang baru di baliknya. Ia bisa berarti mengganti buku, mengubah kurikulum, memasang komputer di kelas, atau membuat halaman sekolah tampak lebih hijau. Tetapi pendidikan, jika ia sungguh-sungguh pendidikan, tidak pernah hanya perkara mengganti apa yang tampak. Ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam: cara seorang anak memandang dirinya, orang lain, dan dunia yang belum dikenalnya.
Di sekolah Al Maarif Nahdlatul Ulama, persoalan itu menjadi menarik. Sebab sekolah berada di antara dua arus yang sering dianggap berlawanan: tradisi dan perubahan. Di satu sisi ada ingatan tentang pesantren, tentang kitab, tentang guru yang bukan sekadar penyampai pelajaran, tentang adab sebagai bagian dari pengetahuan. Di sisi lain ada dunia yang bergerak dengan kecepatan yang kadang membuat sekolah tampak seperti sebuah pulau tua di tengah sungai yang deras: teknologi digital, kecerdasan buatan, perubahan pekerjaan, budaya populer, dan generasi yang memperoleh pengetahuan dari layar sebelum memperoleh penjelasan dari papan tulis.
Tetapi mungkin tradisi dan perubahan tidak perlu dipertentangkan.
Tradisi bukanlah benda yang harus disimpan dalam lemari kaca. Ia adalah percakapan yang terus berlangsung dengan masa kini. Dan pembaruan bukan berarti memutus percakapan itu. Ia justru dapat berarti menemukan kembali apa yang masih hidup di dalamnya.
Di sinilah upaya pembaruan pendidikan di sekolah Al Maarif NU memperoleh maknanya. Pembaruan bukan semata-mata modernisasi fasilitas, melainkan usaha untuk membuat sekolah mampu menjawab pertanyaan zaman tanpa kehilangan pertanyaan-pertanyaan lama yang penting.
Apakah ilmu membuat manusia lebih bijaksana? Apakah kecakapan membuat seseorang lebih bertanggung jawab? Apakah seorang murid yang mampu menghafal banyak hal juga mampu memahami mengapa ia harus menghormati orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar terlalu tua. Tetapi justru karena tua, ia tidak selesai.
Sekolah sering terjebak pada angka. Nilai menjadi bahasa yang paling mudah dipahami oleh sistem. Ranking menjadi semacam ukuran kemajuan. Sertifikat menjadi bukti bahwa seseorang telah melewati sebuah pintu. Namun pendidikan mempunyai ukuran yang lebih sunyi. Ia tampak ketika seorang anak berani bertanya. Ketika ia tidak segera percaya kepada informasi yang diterimanya. Ketika ia mampu mendengarkan pendapat yang berbeda. Ketika ia menemukan bahwa pengetahuan bukan kumpulan jawaban, melainkan kemampuan untuk merumuskan pertanyaan dengan lebih baik.
Karena itu, pembaruan pendidikan di Al Maarif NU semestinya tidak berhenti pada apa yang diajarkan, tetapi juga menyentuh bagaimana belajar dilakukan.
Kelas dapat menjadi tempat murid menghafal, tetapi ia juga dapat menjadi tempat mereka menyelidiki. Guru dapat menjadi sumber jawaban, tetapi ia juga dapat menjadi seseorang yang mengajarkan bagaimana sebuah jawaban ditemukan. Buku dapat menjadi benda yang harus dibaca, tetapi ia juga dapat menjadi pintu menuju dunia yang lebih luas.
Teknologi kemudian tidak perlu diperlakukan sebagai musuh. Ia hanyalah alat. Persoalannya bukan apakah anak menggunakan telepon pintar atau tidak, melainkan apakah ia menjadi pengguna teknologi atau justru menjadi objek yang dikendalikan oleh teknologi. Internet dapat membuka perpustakaan dunia, tetapi juga dapat membuka pintu bagi kebisingan tanpa akhir. Kecerdasan buatan dapat membantu belajar, tetapi juga dapat membuat manusia berhenti berpikir jika ia dipakai sebagai pengganti pikiran.
Maka pendidikan digital yang penting bukan sekadar mengajarkan cara memakai perangkat. Ia harus mengajarkan cara bersikap di hadapan informasi: memeriksa sumber, membedakan fakta dan pendapat, mengenali manipulasi, menghargai hak cipta, menjaga privasi, dan menyadari bahwa tidak semua yang muncul di layar layak dipercaya.
Di sini nilai-nilai pendidikan NU dapat memperoleh ruang baru.
Keberagamaan tidak harus tampil sebagai pagar yang memisahkan murid dari dunia. Ia dapat menjadi jendela untuk memandang dunia. Nilai tentang tawassuth, tawazun, tasamuh, dan penghargaan terhadap kehidupan bersama dapat diterjemahkan ke dalam pengalaman belajar yang konkret. Murid belajar bahwa perbedaan bukan gangguan yang harus dihapuskan. Ia adalah kenyataan sosial yang membutuhkan pengetahuan, kesabaran, dan kemampuan berdialog.
Dengan demikian, pendidikan karakter tidak perlu menjadi mata pelajaran tambahan yang berdiri sendirian. Ia dapat hidup di dalam cara sekolah menyelesaikan konflik, cara guru memperlakukan murid, cara murid bekerja dalam kelompok, bahkan cara sekolah memperlakukan mereka yang melakukan kesalahan.
Sebab anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan guru. Ia belajar dari apa yang dilakukan orang dewasa ketika berhadapan dengan kekuasaan, perbedaan, kegagalan, dan kesalahan.
Ada pula soal guru.
Setiap pembaruan pendidikan pada akhirnya kembali kepada manusia yang berdiri di depan kelas. Kurikulum dapat berubah. Gedung dapat diperbarui. Perangkat digital dapat bertambah. Tetapi jika guru tidak diberi ruang untuk belajar, bereksperimen, dan melakukan refleksi, pembaruan itu akan mudah menjadi kosmetik.
Guru membutuhkan kesempatan untuk membaca. Untuk berdiskusi. Untuk mencoba metode baru. Untuk gagal tanpa segera dianggap tidak mampu. Sebab seorang guru yang berhenti belajar perlahan-lahan akan mengubah sekolah menjadi museum pengetahuan lama.
Namun guru juga tidak boleh dipaksa menjadi mesin yang mengejar setiap tren pendidikan. Tidak semua istilah baru adalah gagasan baru. Kadang-kadang sebuah metode lama, apabila dilakukan dengan kesungguhan, lebih bermakna daripada jargon pendidikan yang berganti setiap tahun.
Maka pembaruan membutuhkan kebijaksanaan: mengetahui apa yang perlu diubah dan apa yang justru harus dipertahankan.
Sekolah Al Maarif NU memiliki peluang untuk membangun sintesis semacam itu. Ia dapat mempertahankan kedalaman tradisi sekaligus membuka diri terhadap pengetahuan modern. Ia dapat mengajarkan kitab sekaligus literasi digital. Ia dapat berbicara tentang akhlak sekaligus sains. Ia dapat mendidik anak agar berakar pada komunitasnya tanpa membuatnya takut pada dunia di luar komunitas itu.
Sebab akar dan sayap bukan dua hal yang bertentangan. Akar membuat pohon tidak mudah tumbang. Sayap membuat burung tidak berhenti di satu dahan.
Barangkali demikian pula sekolah. Ia membutuhkan ingatan agar tidak kehilangan arah, tetapi juga membutuhkan keberanian untuk memasuki sesuatu yang belum diketahui.
Pembaruan pendidikan bukan proyek untuk membuat sekolah tampak lebih modern. Ia adalah usaha yang lebih sederhana sekaligus lebih sulit: membuat manusia yang belajar di dalamnya menjadi lebih mampu menghadapi dunia tanpa kehilangan kemanusiaannya. Dan mungkin di situlah arti sekolah yang sesungguhnya.
Ia bukan pabrik yang menghasilkan manusia dengan ukuran seragam. Ia bukan pula benteng yang melindungi anak dari segala perubahan. Sekolah adalah ruang antara: tempat seorang anak datang dengan dunia yang belum selesai, lalu perlahan belajar bahwa dunia itu dapat dipahami, dikritik, dan barangkali diperbaiki.
Al Maarif NU dapat mengambil bagian dalam percakapan panjang itu. Bukan dengan meninggalkan masa lalu. Bukan pula dengan tinggal di dalamnya. Melainkan dengan membawa ingatan ke masa depan, dan mengajari masa depan untuk tidak menjadi lupa.
*Gunoto Saparie adalah Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Orwil Jawa Tengah.