Oleh: Fathma Anggraita
Penurunan prevalensi stunting hingga mendekati 18,8% pada 2026 layak diapresiasi sebagai kemajuan penting. Upaya panjang lintas sektor mulai menunjukkan hasil. Namun, sebagaimana lazim dalam kebijakan publik, capaian angka tidak selalu identik dengan tuntasnya persoalan. Di balik tren yang membaik, masih tersisa pekerjaan rumah yang menuntut pembacaan lebih jernih dan pendekatan yang lebih terpadu.
Sejumlah temuan mutakhir menunjukkan bahwa persoalan gizi anak tidak sepenuhnya hilang, melainkan mengalami pergeseran. Di beberapa wilayah, kasus kekurangan berat badan dan kualitas nutrisi yang belum optimal masih dijumpai. Anak mungkin tidak lagi masuk kategori stunting, tetapi belum sepenuhnya mencapai kondisi gizi yang ideal. Hal ini mengingatkan bahwa indikator tunggal tidak cukup merepresentasikan keseluruhan persoalan. Perbaikan tinggi badan belum tentu diikuti oleh peningkatan kualitas kesehatan secara menyeluruh.
Dalam kerangka tersebut, sekolah sesungguhnya memiliki peran strategis yang belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan puluhan juta peserta didik yang hadir setiap hari, sekolah merupakan ruang sosial yang paling konsisten untuk menjangkau anak secara langsung. Di sanalah kebiasaan terbentuk, pengetahuan ditanamkan, dan nilai-nilai hidup dibangun. Oleh karena itu, intervensi gizi yang terhubung dengan sistem pendidikan memiliki potensi dampak yang lebih berkelanjutan.
- Iklan -
Program makan bergizi gratis yang diperluas pada 2026 menunjukkan komitmen negara dalam memperbaiki kualitas gizi anak. Dengan cakupan puluhan juta siswa dan dukungan anggaran yang signifikan, program ini menjadi salah satu intervensi sosial terbesar saat ini. Namun, dalam praktiknya, peran sekolah masih cenderung sebagai titik distribusi. Makanan disalurkan, tetapi proses edukasi belum sepenuhnya terintegrasi dalam kegiatan belajar.
Di sinilah letak tantangan utamanya. Perbaikan gizi tidak cukup hanya melalui pemberian asupan, tetapi juga melalui pembentukan perilaku. Tanpa perubahan pola konsumsi dan pemahaman yang memadai, intervensi akan bersifat sementara. Anak yang mendapatkan makanan bergizi di sekolah belum tentu memiliki kebiasaan makan sehat di rumah. Oleh karena itu, pendidikan gizi perlu menjadi bagian dari praktik keseharian di sekolah, bukan sekadar program tambahan.
Keterlibatan guru menjadi penting dalam konteks ini. Meskipun bukan tenaga kesehatan, guru memiliki kedekatan yang memungkinkan terjadinya pembiasaan. Dengan dukungan pelatihan yang memadai, guru dapat berperan sebagai penggerak perubahan perilaku, terutama dalam hal pola makan dan gaya hidup sehat. Pendekatan ini akan memperkuat fungsi sekolah sebagai ruang pembentukan karakter, termasuk karakter hidup sehat.
Di sisi lain, persoalan integrasi data juga perlu mendapat perhatian. Sistem informasi kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial pada dasarnya telah tersedia, tetapi belum sepenuhnya terhubung. Akibatnya, informasi mengenai kondisi gizi anak tidak selalu dapat diakses secara utuh oleh pihak yang membutuhkan. Sekolah sering tidak memiliki gambaran lengkap mengenai status kesehatan siswa, sementara tenaga kesehatan tidak selalu memahami konteks sosial dan lingkungan belajar anak.
Keterpisahan ini berpotensi membuat intervensi menjadi kurang tepat sasaran. Dalam beberapa kasus, data nasional menunjukkan perbaikan, sementara kondisi di tingkat lokal tidak berubah secara signifikan. Hal ini menandakan perlunya penguatan koordinasi dan integrasi sistem agar kebijakan yang dirumuskan dapat lebih responsif terhadap kondisi riil di lapangan.
Selain itu, Indonesia juga mulai menghadapi tantangan beban gizi ganda. Di satu sisi, kekurangan gizi masih menjadi persoalan di wilayah tertentu. Di sisi lain, kelebihan berat badan mulai meningkat, terutama di kawasan perkotaan. Pola konsumsi yang tidak seimbang (tinggi kalori tetapi rendah nutrisi) menjadi salah satu faktor yang mendorong kondisi ini. Kompleksitas tersebut menuntut pendekatan yang lebih komprehensif dan lintas sektor.
Dalam situasi demikian, penting untuk menempatkan sekolah sebagai simpul utama dalam upaya perbaikan gizi. Integrasi antara program makan, edukasi gizi, aktivitas fisik, dan pemantauan kesehatan akan menghasilkan dampak yang lebih utuh. Sekolah tidak hanya menjadi tempat menerima program, tetapi juga menjadi pusat pembentukan kebiasaan hidup sehat.
Target penurunan stunting hingga 14,2% pada 2029 merupakan tujuan yang baik dan perlu didukung. Namun, pencapaiannya tidak dapat bergantung pada pendekatan sektoral semata. Diperlukan sinergi yang lebih kuat antara sektor kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial. Koordinasi yang efektif akan memastikan bahwa setiap intervensi saling menguatkan, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Pada akhirnya, keberhasilan tidak hanya diukur dari turunnya angka, tetapi dari meningkatnya kualitas hidup anak-anak Indonesia. Mereka tidak hanya diharapkan tumbuh lebih tinggi, tetapi juga lebih sehat, lebih cerdas, dan lebih siap menghadapi masa depan.
Penurunan stunting pada 2026 adalah langkah maju. Namun, langkah berikutnya menuntut ketepatan arah. Dengan memperkuat sinkronisasi antara program gizi dan sistem pendidikan, ikhtiar yang telah dilakukan dapat memberikan hasil yang lebih bermakna dan berkelanjutan.
*) Fathma Anggraita adalah new civitas PGSD-2026 FIP Universitas Negeri Padang (UNP); anggota Griya Riset Plikon (GRiP) Magelang.



