Oleh : Gunoto Saparie
Di ruang tamu yang sederhana itu, udara seperti menahan napas. Jam dinding berdetak pelan, seolah enggan mengganggu percakapan yang sebentar lagi pecah.
“Aku sudah mendaftar umrah,” kata Aminuddin, pelan, namun tegas.
- Iklan -
Rodhiyah menatap suaminya lama. Matanya yang biasanya hangat kini menyimpan gelombang yang tak mudah dibaca. “Sendirian?”
Aminuddin mengangguk. “Aku pikir… ini waktunya aku pergi. Menyendiri. Memperbaiki diri.”
Rodhiyah tersenyum tipis, tapi getir. “Memperbaiki diri, atau… melarikan diri?”
Pertanyaan itu menggantung seperti kabut. Aminuddin tidak segera menjawab.
Di sudut ruangan, ibu Aminuddin yang sedari tadi diam, menghela napas panjang. “Umrah itu panggilan. Kalau sudah dipanggil, jangan ditahan.”
Rodhiyah menoleh. “Ibu tahu semuanya?”
“Ibu tahu cukup,” jawab perempuan tua itu. “Dan yang Ibu tahu, kalian berdua sedang jauh dari satu sama lain. Mungkin Ka’bah bisa mendekatkan lagi.”
Aminuddin menunduk. Rodhiyah berdiri, melangkah ke jendela. Di luar, hujan baru saja berhenti. Bau tanah basah naik perlahan, seperti kenangan yang tak mau hilang.
“Aku tidak ikut?” tanya Rodhiyah akhirnya.
Aminuddin menatapnya. “Aku ingin kamu ikut. Tetapi… aku juga takut.”
“Takut apa?”
“Takut kita justru semakin jauh di sana.”
Pesawat yang membawa mereka ke Tanah Suci terasa sunyi meski dipenuhi ratusan jamaah. Di antara suara doa dan bisik talbiyah, Aminuddin dan Rodhiyah duduk berdampingan, tetapi seperti dipisahkan oleh sesuatu yang tak kasatmata.
“Labbaik Allahumma labbaik…” lirih Aminuddin, mengikuti suara pembimbing.
Rodhiyah memejamkan mata. Air mata jatuh tanpa suara.
Ia teringat percakapan beberapa minggu lalu. Nama itu. Nama yang mengubah segalanya.
“Nina.”
Nama yang sederhana. Tetapi seperti pisau yang mengiris pelan.
“Aku tidak bermaksud mencintainya,” kata Aminuddin waktu itu.
Rodhiyah tertawa getir. “Cinta tidak pernah bermaksud, Mas Min. Tetapi ia terjadi. Dan kau membiarkannya.”
“Tidak ada yang terjadi,” Aminuddin membela.
“Belum,” jawab Rodhiyah dingin. “Tetapi perasaanmu sudah berjalan ke sana.”
Pesawat berguncang pelan. Rodhiyah membuka mata. Di sebelahnya, Aminuddin menggenggam tasbih, bibirnya terus bergerak.
Untuk pertama kalinya, Rodhiyah bertanya dalam hati, apakah perjalanan ini benar untuk Allah, atau untuk menyelamatkan sesuatu yang sudah retak?
Madinah menyambut mereka dengan cahaya yang lembut. Masjid Nabawi berdiri tenang, seolah merangkul siapa saja yang datang dengan luka.
“Subhanallah…” bisik Rodhiyah saat pertama kali melihatnya.
Aminuddin menatap wajah istrinya. Ada sesuatu yang berubah. Kelembutan yang sempat hilang, kini kembali berkilau.
“Mari kita ke Raudhah besok pagi,” kata Aminuddin.
Rodhiyah mengangguk.
Malam itu, di kamar hotel, mereka duduk berhadapan.
“Mas Min,” suara Rodhiyah pelan, “kau masih mencintainya?”
Aminuddin terdiam lama. Lalu, “Aku tidak tahu.”
Jawaban itu seperti petir.
Rodhiyah menutup wajahnya. “Kau tidak tahu… tetapi kau mengajakku ke rumah Allah?”
“Aku justru ingin tahu di sini,” kata Aminuddin, suaranya bergetar. “Aku ingin jujur. Aku ingin bersih.”
“Dengan membawa luka ini?” Rodhiyah menatapnya tajam. “Apa kau pikir Allah tidak melihat apa yang kau sembunyikan?”
Aminuddin menunduk. “Karena itu aku ke sini.”
Hening.
“Namanya masih kau simpan?” tanya Rodhiyah lagi.
Aminuddin mengangguk pelan.
Rodhiyah berdiri. “Aku butuh waktu sendiri.”
Pagi di Raudhah penuh haru. Jamaah berdesakan, tetapi setiap orang seperti memiliki dunia sendiri.
Rodhiyah masuk perlahan. Ketika ia sampai di area yang disebut taman surga itu, ia tak lagi bisa menahan air matanya. Ia pun bersujud lama.
“Ya Allah… aku lelah. Aku ingin mencintai suamiku tanpa rasa curiga. Tetapi aku juga manusia…”
Di luar, Aminuddin menunggu. Ia melihat jamaah keluar masuk. Wajah-wajah basah air mata, tetapi juga penuh ketenangan.
Tiba-tiba, seseorang memanggilnya.
“Mas Aminuddin?”
Ia menoleh. Wajah itu… ia kenal.
“Nina?”
Perempuan itu tersenyum kecil. “Aku tidak menyangka… bertemu di sini.”
Dunia seperti berhenti.
“Apa kau… sendirian?” tanya Aminuddin gugup.
“Tidak. Bersama rombongan kantor,” jawab Nina. “Dan kau?”
Aminuddin menelan ludah. “Dengan istriku.”
“Ah…” Nina mengangguk. “Bagus.”
Hening sejenak.
“Aku minta maaf,” kata Nina tiba-tiba.
Aminuddin terkejut. “Untuk apa?”
“Untuk semua yang tidak seharusnya tumbuh di antara kita,” jawab Nina pelan. “Aku sudah menikah dua bulan lalu.”
Kata-kata itu seperti membuka sesuatu yang selama ini terkunci.
“Menikah?” Aminuddin mengulang.
Nina tersenyum. “Ya. Dia orang baik. Mungkin Allah menyelamatkanku dari sesuatu yang lebih rumit.”
Aminuddin menunduk. Dadanya terasa sesak, tapi anehnya ringan.
“Aku juga minta maaf,” katanya.
Nina menggeleng. “Kita sama-sama manusia. Tetapi di tempat seperti ini… kita diingatkan untuk kembali.”
Langkah kaki mendadak terdengar.
Rodhiyah muncul dari dalam Raudhah. Wajahnya basah air mata. Matanya langsung menangkap pemandangan itu: Aminuddin dan Nina berdiri berhadapan.
Waktu seperti membeku.
“Jadi ini rupanya…” suara Rodhiyah pelan, tetapi tajam.
Aminuddin panik. “Rodhiyah, ini tidak seperti yang kamu pikirkan…”
Nina maju. “Bu, maaf. Saya yang menyapa duluan.”
Rodhiyah menatapnya. “Anda Nina?”
Nina mengangguk.
Rodhiyah tertawa kecil, pahit. “Dunia ini sempit sekali.”
“Tidak,” jawab Nina tenang. “Hati kita yang sering terlalu luas untuk hal yang salah.”
Rodhiyah terdiam.
“Apa yang ada di antara saya dan suami Anda… sudah selesai,” lanjut Nina. “Saya sudah punya kehidupan sendiri.”
Aminuddin menatap Rodhiyah. “Aku tidak tahu dia di sini.”
Rodhiyah menarik napas panjang. Lalu menatap Nina. “Terima kasih sudah jujur.”
Nina tersenyum. “Semoga Allah menjaga rumah tangga Anda.”
Ia pergi, meninggalkan dua orang yang masih berdiri dengan hati yang berdebar.
Di Makkah, suasana berbeda. Lebih padat, lebih panas, tetapi juga lebih dalam. Saat pertama kali melihat Ka’bah, Rodhiyah menangis lagi. Kali ini, tangisnya lebih tenang.
“Labbaik Allahumma labbaik…”
Aminuddin berdiri di sampingnya. Ia ingin menggenggam tangan Rodhiyah, tetapi ragu.
Akhirnya, Rodhiyah yang lebih dulu meraih tangannya.
Aminuddin terkejut. “Rodhiyah…”
“Kita selesaikan di sini,” katanya pelan.
Mereka memulai tawaf. Putaran pertama terasa berat. Setiap langkah seperti membawa beban.
Putaran kedua, Rodhiyah berkata, “Aku marah.”
Putaran ketiga, “Aku kecewa.”
Putaran keempat, “Aku cemburu.”
Putaran kelima, air matanya jatuh lagi. “Tetapi aku juga masih mencintaimu.”
Aminuddin tak mampu berkata apa-apa.
Putaran keenam, ia akhirnya bicara. “Aku bersalah.”
Putaran ketujuh, “Dan aku ingin kembali.”
Mereka berhenti. Di depan Ka’bah, mereka saling memandang. Untuk pertama kalinya sejak lama, tidak ada kebohongan di antara mereka.
Sa’i antara Safa dan Marwah terasa seperti perjalanan batin.
“Seperti Hajar,” kata Rodhiyah pelan. “Mencari air di tengah keputusasaan.”
“Dan menemukan zamzam,” jawab Aminuddin.
“Karena percaya,” tambah Rodhiyah.
Mereka berjalan berdampingan. Tidak tergesa. Tidak pula menjauh. Di titik hijau, mereka berlari kecil.
“Ini sunnah,” kata Aminuddin.
Rodhiyah tersenyum. “Seperti mengejar harapan.”
Di akhir sa’i, saat tahallul, Aminuddin mencukur rambutnya. Rodhiyah memotong sedikit ujung rambutnya.
“Ini simbol,” kata pembimbing. “Melepas yang lama, menyambut yang baru.”
Rodhiyah menatap rambut kecil di tangannya. Lalu menjatuhkannya.
“Mudah-mudahan bukan hanya rambut,” bisiknya.
Malam terakhir di Makkah, mereka duduk di pelataran masjid.
“Mas Min,” kata Rodhiyah, “aku tidak bisa melupakan begitu saja.”
“Aku tahu,” jawab Aminuddin.
“Tetapi aku juga tidak ingin hidup dengan luka terus-menerus.”
Aminuddin mengangguk. “Aku akan berusaha.”
“Bukan hanya berusaha,” Rodhiyah menatapnya. “Kita harus berubah.”
Aminuddin menarik napas dalam. “Aku akan jujur, bahkan saat itu menyakitkan.”
Rodhiyah tersenyum tipis. “Dan aku akan belajar percaya lagi… pelan-pelan.”
Angin malam berhembus lembut.
“Menurutmu,” tanya Rodhiyah, “Allah mempertemukan kita dengan Nina di Madinah itu kebetulan?”
Aminuddin menggeleng. “Tidak ada yang kebetulan di sini.”
Rodhiyah menatap Ka’bah. “Mungkin itu cara Allah menunjukkan sesuatu yang harus kita hadapi, bukan kita hindari.”
Aminuddin menggenggam tangannya. Kali ini, Rodhiyah tidak melepaskan.
Kepulangan mereka tidak diiringi gemuruh, hanya keheningan yang hangat. Di rumah, ibu Aminuddin menyambut dengan pelukan.
“Bagaimana?” tanyanya.
Rodhiyah tersenyum. “Kami pulang. Pulang.”
Aminuddin menambahkan, “Bukan hanya dari perjalanan… tetapi juga dari sesuatu yang hampir hilang.”
Ibu mereka mengangguk. “Umrah bukan soal pergi ke sana. Tetapi apa yang kalian bawa pulang.”
Rodhiyah menatap Aminuddin. Ada luka yang belum sepenuhnya sembuh. Tetapi juga ada harapan yang tumbuh perlahan.
Malam itu, mereka salat bersama.
Dalam sujud, Rodhiyah berbisik, “Ya Allah… jika cinta ini masih Kau izinkan, jagalah ia.”
Di sebelahnya, Aminuddin juga berdoa, “Ya Allah… jangan biarkan aku mengkhianati lagi apa yang Kau titipkan.”
Di luar, angin berembus pelan. Dan di dalam rumah itu, dua hati yang sempat retak, mulai belajar menyatu kembali. Tidak sempurna, tetapi lebih jujur.
Seperti tawaf yang tak pernah berhenti, cinta mereka pun berputar—kadang menjauh, kadang mendekat—namun selalu kembali ke pusatnya: pada Yang Maha Menyatukan.
Ngaliyan, Semarang, 2026.





