Oleh: Hamidulloh Ibda
OSKANU IV Ma’arif NU Jawa Tengah telah selesai. Papan klasemen mungkin menjadi bagian yang paling mudah dilihat: ada angka, medali, poin, dan peringkat. Namun, jika OSKANU hanya dibaca sebagai kompetisi untuk menentukan siapa yang paling banyak mendapatkan emas, kita sedang mempersempit makna pendidikan.
Di balik 714 poin Kudus, 562 poin Jepara, 347 poin Banyumas, hingga 109 poin Boyolali, terdapat cerita tentang anak-anak yang belajar, guru yang membimbing, madrasah yang membina, orang tua yang mendukung, serta lembaga pendidikan yang membangun ekosistem prestasi.
Maka dari itu, pesan terpenting OSKANU bukan sekadar siapa yang menjadi juara. Pesannya adalah bahwa prestasi merupakan buah dari proses belajar yang panjang, konsisten, dan berkarakter.
Klasemen Bukan Sekadar Angka
Berdasarkan klasemen OSKANU IV, LP Ma’arif PCNU Kabupaten Kudus berada di posisi pertama dengan 714 poin, disusul Jepara 562 poin dan Banyumas 347 poin. Berikutnya Pekalongan 301 poin, Demak 299 poin, Kendal 266 poin, Wonosobo 249 poin, dan Temanggung 245 poin.
Temanggung sendiri memperoleh 17 medali emas, 31 perak, dan 33 perunggu. Dengan total 81 medali, capaian tersebut menunjukkan bahwa prestasi tidak hanya lahir dari beberapa peserta didik, tetapi merupakan kontribusi dari banyak anak yang berani berkompetisi. Persaingan antardaerah juga relatif ketat. Pekalongan dan Demak hanya terpaut dua poin. Wonosobo dan Temanggung terpaut empat poin, sedangkan Temanggung dan Pati berjarak 11 poin.
Angka-angka itu menarik bukan hanya karena menunjukkan posisi masing-masing kontingen, tetapi juga karena dapat menjadi peta evaluasi pembinaan pendidikan.
Kudus dapat belajar mempertahankan prestasi. Jepara dan Banyumas dapat terus memperkuat sistem pembinaannya. Temanggung dapat membaca apa yang membuat Wonosobo unggul empat poin. Daerah-daerah lain dapat mencari strategi untuk mempersempit jarak. Klasemen tidak berhenti sebagai papan peringkat, tetapi berubah menjadi papan pembelajaran.
Prestasi adalah Proses, Bukan Label
Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Dr. H. Fakhruddin Karmani, menekankan bahwa prestasi tidak lahir secara instan. Ia membutuhkan proses pembinaan yang konsisten dan istiqamah.
Gagasan tersebut memiliki titik temu dengan pemikiran Carol S. Dweck (2006) dalam Mindset: The New Psychology of Success. Dweck membedakan fixed mindset, yakni pandangan bahwa kemampuan cenderung tetap, dengan growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha, strategi, pengalaman, dan pembelajaran.
Dalam perspektif ini, peringkat OSKANU tidak seharusnya menjadi label permanen.
Juara pertama bukan berarti selamanya paling unggul. Begitu pula peringkat terakhir bukan berarti paling lemah selamanya.
Peringkat hanyalah gambaran capaian dalam satu kompetisi. Yang jauh lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah kompetisi selesai. Kekalahan dapat menjadi bahan evaluasi. Kemenangan dapat menjadi motivasi untuk mempertahankan kualitas. Peringkat yang belum sesuai harapan dapat menjadi dasar untuk memperbaiki sistem pembinaan.
Maka dari itu, anak perlu dibiasakan untuk tidak hanya bertanya, “Saya mendapat peringkat berapa?”, tetapi juga, “Apa yang saya pelajari dan apa yang harus saya perbaiki?”
Kompetisi yang Tetap Mendidik
OSKANU adalah kompetisi. Ada peserta yang menang dan ada yang belum berhasil memperoleh medali. Namun, kompetisi dalam pendidikan seharusnya tidak menjadikan kemenangan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Alfie Kohn (1986) dalam No Contest: The Case Against Competition mengingatkan tentang risiko kompetisi yang berlebihan ketika kemenangan menjadi tujuan utama hingga mengalahkan proses belajar dan hubungan sosial.
Pemikiran tersebut penting untuk menempatkan OSKANU secara proporsional. Kompetisi tetap memiliki nilai positif. Ia dapat memacu peserta didik untuk berlatih, mengukur kemampuan, membangun disiplin, dan berani menghadapi tantangan. Tetapi kompetisi akan kehilangan nilai pendidikannya apabila anak hanya merasa berharga ketika menang.
OSKANU semestinya mengajarkan sportivitas sekaligus ketangguhan. Anak yang mendapatkan emas belajar rendah hati. Anak yang mendapatkan perak belajar bahwa perjuangan belum selesai. Anak yang mendapatkan perunggu belajar menghargai proses. Bahkan peserta yang belum mendapatkan medali tetap memperoleh pengalaman penting: keberanian tampil, kemampuan menghadapi tekanan, pengalaman bertemu dengan peserta lain, dan pelajaran menerima hasil. Medali merupakan hasil kompetisi, sedangkan pengalaman merupakan hasil pendidikan.
Belajar dari Kompetitor
Kompetisi juga dapat menjadi ruang pembelajaran sosial. Albert Bandura (1971) dalam Social Learning Theory menjelaskan bahwa manusia belajar antara lain melalui pengamatan terhadap orang lain. Dalam konteks OSKANU, peserta didik tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari sesama peserta.
Siswa Temanggung dapat belajar dari siswa Kudus. Peserta Jepara dapat belajar dari Banyumas. Guru dari satu daerah dapat mengamati praktik pembinaan dari daerah lain.
Cara belajar, kedisiplinan, strategi menghadapi soal, keberanian tampil, kemampuan berkomunikasi, hingga cara menghadapi kemenangan dan kekalahan semuanya dapat menjadi sumber pembelajaran.
Maka dari itu, kontingen lain tidak harus dipandang sebagai lawan dalam arti sempit. Mereka dapat menjadi mitra untuk bertumbuh. Di sinilah kompetisi dapat melahirkan kolaborasi pengetahuan.
Jangan Membebani Anak dengan Medali
Perspektif lain dapat dilihat melalui teori Self-Determination Edward L. Deci dan Richard M. Ryan (1975) dalam Intrinsic Motivation and Self-Determination in Human Behavior. Deci dan Ryan menekankan pentingnya motivasi intrinsik serta tiga kebutuhan psikologis: autonomy, competence, dan relatedness.
Dalam pendidikan, anak membutuhkan ruang untuk berkembang, merasa mampu, dan memiliki hubungan sosial yang sehat. Maka dari itu, prestasi tidak boleh dibangun dengan tekanan yang membuat anak takut gagal. Guru dan orang tua perlu memberikan ruang agar anak menikmati proses belajar sekaligus memahami bahwa kegagalan merupakan bagian dari pertumbuhan.
Pertanyaan setelah kompetisi tidak semestinya berhenti pada, “Dapat medali apa?”
Lebih mendidik apabila ditambah dengan: Apa yang paling sulit? Apa yang sudah kamu kuasai? Apa yang ingin kamu tingkatkan? Apa yang kamu pelajari dari peserta lain?
Pertanyaan tersebut membuat kompetisi tetap berada dalam koridor pendidikan.
Ketika Prestasi Bertemu Aswaja
Di sinilah OSKANU memiliki karakter yang khas. LP Ma’arif NU tidak hanya bertugas membangun peserta didik yang unggul secara akademik dan kompetensi. Pembinaan juga harus berjalan bersama penguatan karakter, ideologi, dan akidah Aswaja An-Nahdliyah.
Prestasi akademik tidak boleh dipisahkan dari akhlak. Anak boleh cerdas, tetapi kecerdasannya harus memberikan manfaat. Anak boleh kompetitif, tetapi kompetisinya harus tetap beradab. Anak boleh menang, tetapi kemenangan tidak boleh melahirkan kesombongan.
Sebaliknya, anak yang kalah juga tidak boleh kehilangan kepercayaan dirinya. Dalam konteks ini, nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah menjadi fondasi agar prestasi tidak berhenti sebagai kebanggaan personal, tetapi diarahkan kepada kemanfaatan sosial. Ilmu harus melahirkan adab, prestasi harus melahirkan tanggung jawab, dan kompetisi harus melahirkan persaudaraan.
Istikamah Membangun Budaya Prestasi
Pesan tentang istikamah yang disampaikan Fakhruddin menjadi penting karena budaya prestasi tidak lahir dari satu event. OSKANU hanyalah salah satu panggung. Proses sesungguhnya terjadi jauh sebelum peserta naik ke podium.
Ia berlangsung ketika guru menyiapkan pembelajaran. Ketika madrasah menyediakan ruang latihan. Ketika orang tua memberikan dukungan. Ketika peserta didik bersedia mengulang materi yang belum dipahami. Ketika lembaga secara konsisten melakukan evaluasi.
Dengan kata lain, medali adalah hasil yang terlihat dari proses panjang yang sering kali tidak terlihat. Maka dari itu, daerah yang belum berada di papan atas tidak perlu berkecil hati. Mereka memiliki ruang untuk membangun sistem pembinaan yang lebih kuat. Sebaliknya, daerah yang berada di posisi atas juga tidak boleh berhenti melakukan evaluasi.
Prestasi yang baik bukan hanya kemampuan untuk menang sekali, melainkan kemampuan membangun sistem yang membuat prestasi dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Pesan Cinta untuk Guru, Orang Tua, dan Madrasah
Di balik seorang anak yang berdiri di podium, ada banyak tangan yang bekerja. Ada guru yang melatih. Ada orang tua yang mendampingi. Ada madrasah yang memberikan fasilitas. Ada kepala madrasah yang memberi dukungan. Ada pendamping yang mengawal proses. Ada LP Ma’arif dan PCNU yang membangun ruang kompetisi. Maka dari itu, medali sebenarnya bukan milik anak seorang diri. Ia merupakan hasil kerja ekosistem pendidikan.
Lebih dari itu, anak harus tetap dicintai ketika tidak membawa medali. Sebab anak bukan mesin penghasil piala. Ia adalah manusia yang sedang tumbuh. Maka, pesan cinta paling penting dari OSKANU adalah: jangan hanya mencintai anak ketika ia menang; cintailah proses belajarnya, keberaniannya mencoba, dan kegigihannya untuk bangkit ketika gagal.
Pada akhirnya, angka-angka dalam klasemen hanyalah satu bagian dari cerita OSKANU IV. Kudus dengan 714 poin memiliki cerita. Jepara dengan 562 poin memiliki cerita. Temanggung dengan 245 poin juga memiliki cerita. Begitu pula daerah-daerah lain yang berada di posisi bawah.
Yang harus kita rawat bukan hanya kebanggaan atas siapa yang menjadi juara, tetapi budaya belajar yang tumbuh setelah kompetisi. OSKANU akan memiliki makna lebih besar jika setelah lomba selesai, peserta didik menjadi lebih percaya diri, guru semakin reflektif, madrasah semakin serius membangun mutu, dan lembaga semakin kuat mengembangkan budaya prestasi. Sebab tujuan pendidikan bukan menciptakan manusia yang hanya pandai memenangkan perlombaan. Tujuannya adalah membentuk manusia yang berilmu, berkarakter, beradab, mampu bersaing secara sehat, menghargai orang lain, dan memberikan manfaat bagi kehidupan.
Di situlah pesan cinta OSKANU Ma’arif NU Jawa Tengah menemukan maknanya. Menang dengan rendah hati. Kalah dengan keteguhan hati. Belajar tanpa henti.
Berprestasi dengan karakter, dan menjadikan ilmu sebagai jalan kemanfaatan. Begitu!