‎OSKANU IV Maarif Jateng, Inilah Daftar Peringkat Kejuaraan

‎SEMARANG — Persaingan antarkontingen dalam Olimpiade Sains dan Kompetensi Ma’arif Nahdlatul Ulama (OSKANU) IV Jawa Tengah menunjukkan dinamika yang cukup ketat. Berdasarkan klasemen kejuaraan yang ditampilkan melalui laman resmi OSKANU, sebanyak 21 Kabupaten/Kota PCNU tercatat dalam perolehan medali dan poin akumulasi.
‎
‎Klasemen tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan prestasi pelajar di lingkungan LP Ma’arif NU Jawa Tengah tersebar di berbagai daerah. Perolehan medali emas, perak, dan perunggu menjadi bagian dari akumulasi poin yang menentukan posisi masing-masing kontingen.
‎
‎Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Dr. H. Fakhruddin Karmani. Dijelaskannya, bahwa di posisi teratas, LP Ma’arif PCNU Kabupaten Kudus mencatat 61 medali emas, 73 perak, dan 68 perunggu dengan akumulasi 714 poin. Berikutnya ditempati LP Ma’arif PCNU Kabupaten Jepara dengan 48 emas, 59 perak, dan 49 perunggu serta 562 poin. Jepara menjadi salah satu kontingen dengan capaian yang kuat di papan atas, meskipun masih terdapat selisih 152 poin dari Kudus.

‎LP Ma’arif PCNU Kabupaten Banyumas berada di peringkat ketiga dengan 22 emas, 48 perak, dan 49 perunggu. Banyumas mengumpulkan 347 poin dan menjadi kontingen ketiga yang menembus angka lebih dari 300 poin.
‎
‎Persaingan semakin rapat pada peringkat berikutnya. LP Ma’arif PCNU Kabupaten Pekalongan menempati peringkat keempat dengan 301 poin melalui 24 emas, 31 perak, dan 40 perunggu. Hanya berselisih dua poin, LP Ma’arif PCNU Kabupaten Demak berada di posisi kelima dengan 299 poin, yang terdiri atas 27 emas, 27 perak, dan 29 perunggu.
‎
‎LP Ma’arif PCNU Kabupaten Kendal berada di posisi keenam dengan 266 poin, disusul Wonosobo di posisi ketujuh dengan 249 poin. Kendal mengoleksi 22 emas, 26 perak, dan 34 perunggu, sedangkan Wonosobo meraih 21 emas, 26 perak, dan 24 perunggu.
‎
‎Temanggung kemudian menempati peringkat kedelapan dengan 245 poin. LP Ma’arif PCNU Kabupaten Temanggung mencatat 17 medali emas, 31 perak, dan 33 perunggu. Posisi tersebut menunjukkan bahwa Temanggung berada dalam persaingan yang cukup dekat dengan Wonosobo dan Pati.
‎
‎Di bawah Temanggung, LP Ma’arif PCNU Kabupaten Pati menempati peringkat kesembilan dengan 234 poin. Pati memperoleh 18 emas, 24 perak, dan 36 perunggu. Selanjutnya, Batang berada di peringkat ke-10 dengan 219 poin melalui 19 emas, 21 perak, dan 23 perunggu.
‎
‎LP Ma’arif PCNU Kota Pekalongan menempati posisi ke-11 dengan 201 poin. Kabupaten Semarang berada di peringkat ke-12 dengan 187 poin, disusul Purbalingga di peringkat ke-13 dengan 173 poin dan Cilacap di posisi ke-14 dengan 172 poin.
‎
‎Cilacap memiliki catatan menarik dalam komposisi medali karena mengumpulkan 43 medali perunggu, 22 perak, dan sembilan emas. Sementara itu, Purworejo berada di posisi ke-15 dengan 160 poin.
‎
‎Pada posisi berikutnya, LP Ma’arif PCNU Kabupaten Magelang mengumpulkan 141 poin dan menempati peringkat ke-16. Grobogan berada di posisi ke-17 dengan 139 poin, Rembang di peringkat ke-18 dengan 130 poin, Kota Semarang di posisi ke-19 dengan 118 poin, Klaten di peringkat ke-20 dengan 113 poin, sedangkan Boyolali menutup klasemen pada peringkat ke-21 dengan 109 poin.
‎
‎Klasemen tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persaingan OSKANU IV tidak hanya terjadi di papan atas. Selisih antarkontingen di sejumlah posisi relatif tipis. Pekalongan dan Demak, misalnya, hanya berselisih dua poin. Wonosobo dan Temanggung berselisih empat poin, sedangkan Pati hanya terpaut 11 poin dari Temanggung. Pada bagian bawah klasemen, Magelang, Grobogan, Rembang, Kota Semarang, Klaten, dan Boyolali juga berada dalam rentang poin yang berdekatan.
‎
‎Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Dr. H. Fakhruddin Karmani menempatkan capaian tersebut dalam kerangka pembinaan pendidikan yang lebih luas. Menurutnya, prestasi tidak lahir secara instan, tetapi membutuhkan proses yang konsisten dan istiqamah dalam pembinaan madrasah serta peserta didik.
‎
‎Fakhruddin sebelumnya menekankan bahwa konsistensi atau istiqamah menjadi salah satu kunci keberhasilan program pembinaan di madrasah Ma’arif. Karena itu, berbagai capaian dalam OSKANU perlu dilihat sebagai bagian dari proses panjang untuk membangun budaya prestasi di lingkungan pendidikan NU.
‎
‎Ia juga mengingatkan bahwa penguatan mutu dan daya saing peserta didik tidak boleh dilepaskan dari penguatan ideologi dan akidah Aswaja An-Nahdliyah. Kemajuan akademik dan kompetensi peserta didik perlu berjalan bersama dengan pembentukan karakter dan nilai-nilai ke-NU-an.
‎
‎Bagi LP Ma’arif NU Jawa Tengah, OSKANU dengan demikian bukan hanya arena untuk menentukan peringkat berdasarkan perolehan medali. Ajang ini menjadi bagian dari proses pemetaan dan pengembangan potensi peserta didik, sekaligus ruang untuk membangun budaya kompetisi yang sehat di antara satuan pendidikan Ma’arif.
‎
‎Perolehan 714 poin oleh Kudus, 562 poin oleh Jepara, hingga 245 poin yang diraih Temanggung menunjukkan adanya variasi kekuatan pembinaan di masing-masing daerah. Perbedaan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi setiap PCNU dan LP Ma’arif untuk melihat cabang prestasi yang telah berkembang sekaligus bidang yang masih perlu diperkuat.
‎
‎Bagi Temanggung, posisi kedelapan dengan 17 emas, 31 perak, dan 33 perunggu memperlihatkan bahwa kekuatan kontingen tidak hanya bertumpu pada medali emas. Sebanyak 81 medali dari tiga kategori menunjukkan adanya kontribusi luas dari peserta didik yang mengikuti kompetisi.
‎
‎Pada akhirnya, angka dalam klasemen hanyalah salah satu gambaran dari proses OSKANU IV. Di balik setiap medali terdapat peserta didik, guru, pendamping, madrasah, sekolah, LP Ma’arif, serta PCNU yang menjalankan proses pembinaan. Semangat kompetisi tersebut diharapkan terus berkembang menjadi tradisi prestasi yang berjalan beriringan dengan penguatan karakter, ke-NU-an, dan Aswaja An-Nahdliyah. (*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top