Tradisi Rebo Wekasan dan Kosmologi Jawa

Oleh Dewi Ayu Larasati

Penanggalan Jawa yang erat dengan penanggalan Hijriah dalam kalender Islam, masih memiliki peran penting dalam kehidupan sebagian masyarakat Indonesia. Bukan hanya sebagai penanda hari, namun juga digunakan untuk menentukan hari baik, menghitung weton, dan menggelar berbagai upacara adat.
Seperti halnya tradisi Rebo Wekasan. Rebo Wekasan dianggap spesial oleh sebagian masyarakat Jawa Islam. Jika dilihat secara etimologi, dalam bahasa Jawa, Rebo berarti Rabu, Wekasan berarti terakhir atau penghujung. Oleh karena itu, Rebo Wekasan adalah Rabu terakhir di bulan Safar. Jika kita sesuaikan dengan kalender Kemenag tahun 2026 ini, Rabu terakhir atau Rebo Wekasan jatuh pada tanggal 12 Agustus atau bertepatan dengan 29 Safar 1448 H.
Seperti dikutip dari Fakih (2024:88) tradisi Rebo Wekasan pada awalnya merupakan hasil dari asimilasi budaya Champa yang dibawa oleh Wali Songo, yaitu Sunan Ampel pada abad ke-15 dan ke-16 ke dalam tradisi sosial keagamaan di Indonesia. Tradisi ini lalu dikembangkan oleh masyarakat Jawa muslim menjadi tradisi keagamaan khas muslim seperti dipaparkan Koentjaraningrat dalam Kebudayaan Jawa (1994) tentang tradisi keagamaan muslim Jawa. Sama halnya seperti adat kebiasaan memperingati orang mati pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000.
Lantas, mengapa Rebo Wekasan dalam tradisi Jawa Islam dianggap istimewa?
Adanya keistimewaan Rebo Wekasan oleh sebagian masyarakat Jawa Islam, karena momen tersebut diyakini sebagai hari turunnya bala atau musibah. Hal ini didasari oleh kajian literatur Islam klasik seperti Kanzun Najah Was-Surur Fi Fadhail Al-Azminah wash-Shuhur karya Abdul Hamid Quds yang menyebutkan bahwa pada Rabu terakhir di bulan Safar, Allah menurunkan 320.000 macam bala bencana ke bumi.
Oleh sebab itu, hari tersebut menjadi hari yang dikeramatkan, karena dipercaya penuh dengan kesialan. Maka barangsiapa yang melakukan shalat 4 rakaat setelah al-Fatihah dibaca surat al-Kautsar 17 kali lalu surat al-Ikhlas 5 kali, surat al-Falaq dan surat an-Naas masing-masing sekali; lalu setelah salam membaca do’a, maka Allah dengan kemurahan-Nya akan menjaga orang yang bersangkutan dari semua bala bencana yang turun di hari itu sampai sempurna setahun.
Masyarakat Jogja (dikutip dari harianjogja.com, 19/8/2025) juga percaya bahwa pada hari Rabu terakhir dalam bulan Safar itu merupakan hari pertemuan antara Sri Sultan Hamengku Buwana I dengan Mabha Kyai Faqih Usman yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Hal inilah yang menjadi landasan mengapa Rebo Wekasan dianggap istimewa, lantaran hari tersebut dianggap sebagai ikhtiar menolak musibah.
Meskipun menuai pro dan kontra, tradisi Rebo Wekasan tetap dipertahankan oleh sebagian masyarakat Indonesia hingga saat ini. Tradisi Rebo Wekasan atau Arba’a Akhir sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu di Jawa, Madura, dan sebagian Sumatera. Bahkan tradisi Rebo Wekasan juga merupakan kearifan lokal yang berkembang di masyarakat Aceh Barat dan Aceh Selatan. Namun masyarakat Aceh menyebutnya dengan istilah Rabu Abeh. Tradisi tolak bala di kawasan Aceh tersebut mulanya dilakukan dengan memotong kerbau dan membuang bagian kepalanya ke laut untuk menolak bala (bencana), tetapi kini tradisi tersebut diganti dengan pembacaan shalawat, zikir, dan doa.

Rebo Wekasan dan Kosmologi Jawa
Secara etimologi, kosmologi berasal dari perkataan “kosmos” yang berarti dunia, aturan atau alam, dan “logos” yang berarti rasio atau akal. Istilah kosmologi yang berasal dari Yunani ini diterapkan pertama kali oleh Pythagoras (580-500 SM) untuk menggambarkan keteraturan dan harmoni pergerakan benda-benda langit. Titik tolak kosmologi adalah kesatuan manusia dan alam semesta serta dunia yang dialami manusia (Leksono, 1997:1).
Orang Jawa dalam bertindak dan berperilaku sangat dipengaruhi paradigma kosmologi. Dalam kosmologi Jawa, dikenal adanya makrokosmos dan mikrokosmos, atau jagad ageng (besar) dan jagad alit (kecil). Jagad ageng dalam hal ini adalah alam semesta, dan jagad alit adalah manusia. Menurut pandangan hidup masyarakat Jawa, manusia sebagai bagian dari kosmos, haruslah tertata dengan baik dan berpadu dalam sebuah keseluruhan harmonis (Mulder, 2001:124).
Oleh karena itu, korelasi hubungan antara alam-manusia dan pencipta-Nya merupakan kesatuan yang utuh, sehingga manusia Jawa harus senantiasa menjaga keseimbangan dan keselarasan antara mikrokosmos dan makrokosmos karena seluruh aspek kehidupannya dipengaruhi oleh kedua kekuatan tersebut. Prinsip keselarasan inilah yang merupakan inti dari kosmologi dunia Jawa, agar terwujud mamayu hayuning bawono. Manakala manusia Jawa telah melakukan mamayu hayuning bawana dalam konteks jagad kecil (diri manusia sendiri), maka secara simbolik mereka telah menemukan keselamatan hidup.
Tradisi Rebo Wekasan merupakan bentuk dari kosmologi Jawa. Tradisi ini bukan saja memiliki nilai budaya, namun sarat akan nilai-nilai religi dan wujud mendekatkan diri pada Allah agar terhindar dari bencana. Sebab, pada dasarnya malapetaka atau bencana itu datang karena adanya tindakan manusia yang sudah merusak keseimbangan kosmik, apakah terhadap alam, sesama manusia, atau bahkan Sang Pencipta. Dalam hal ini, manusia tidak lagi menjadikan agama sebagai ukuran moral dalam perilaku maupun pengambilan keputusan. Menjauhkan atau bahkan membuang dimensi transendental dari kehidupan manusia inilah yang nyatanya menimbulkan distorsi nilai kemanusiaan, dehumanisasi serta eksploitasi terhadap alam.
Manifestasi keselarasan masyarakat Jawa dengan Sang Pencipta dalam tradisi Rebo Wekasan terlihat dari adanya momen untuk berdoa dan memohon perlindungan Allah Swt agar terhindar dari segala musibah dan bala. Tidak sedikit kaum muslim yang mengisinya dengan berbagai amalan baik, seperti mengerjakan puasa sunnah, sholat sunnah, berzikir, bershalawat hingga membaca ayat suci Al-Quran.
Selamatan sedekah bumi yang digelar masyarakat adat Jawa di Rebo Wekasan juga sebagai manifestasi rasa syukur kepada Sang Pencipta. Seperti halnya masyarakat desa Wonokromo di Bantul (dikutip dari Gardjito, 2017:155) sajian kue lemper merupakan ciri khas dalam upacara Rebo Wekasan. Lemper tersebut melambangkan bahwa orang yang datang ke tempat upacara hatinya harus lurus seperti lemper yang lempeng.
Selain itu ada pula makanan lain dalam sesaji yang digunakan dalam upacara selamatan ini, seperti; sekul suci bumbu lembaran yaitu nasi gurih (sega wuduk) yang dibentuk tumpeng. Sekul suci ini memiliki makna supaya hatinya bersih, apabila perbuatannya salah maka dapat dimaafkan oleh Tuhan. Lalu ada ingkung ayam, lalapan, jajan pasar, jenang abang yang mempunyai makna untuk mengetahui asal mula terjadinya manusia dari komo abang yaitu dari ibu. Berikutnya tersedia pula jenang putih mempunyai makna untuk mematuhi komo putih dari sang ayah. Jenang abang-putih mempunyai makna bahwa terjadinya anak karena bersatunya darah dari ayah dan darah ibu. Ada juga jenang katul yang diberi gula kelapa dan kelapa. Tak ketinggalan nasi golong yang dibuat bulat dengan lauk pauknya mempunyai makna supaya orang yang punya tekad yang bulat, maka segala apa yang dicita-citakan dapat terlaksana dengan baik.
Semua makanan yang tersedia dalam sesaji yang dikendurikan dibagi-bagikan kepada peserta kenduri. Ritual kumpul-kumpul ini penting bagi masyarakat Jawa demi menjaga persatuan dan persaudaraan di kalangan umat Islam. Inilah manifestasi dari keselarasan atau harmoni antar sesama umat manusia.
Dengan demikian, Rebo Wekasan tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga memegang peranan penting dalam memperkuat ikatan sosial dan melestarikan identitas budaya lokal. Terutama mewujudkan kosmologi Jawa yang memandang kehidupan di dunia ini sebagai satu kesatuan eksistensi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top