Membaca Ulang Keberanian Para Ulama

Oleh: Aisyah Anggraeni, S.Pd., M.Pd.

Mahasiswa S3/Doktor Pendas FIP Universitas Negeri Padang (UNP) Sumbar;

Pembina Griya Riset Plikon (GRiP) Magelang



Ada ironi yang selalu datang tepat waktu setiap bulan Agustus dan Oktober. Bendera berkibar lebih merah, pidato terdengar lebih lantang, foto para ulama dan pahlawan kembali memenuhi layar gawai. Semua tampak khusyuk mengenang perjuangan.

Sejarah dipoles, doa dipanjatkan, slogan dikumandangkan. Lalu, sehari setelah seremoni usai, republik kembali sibuk dengan antrean kepentingannya sendiri. Resolusi Jihad pun kembali diparkir rapi di ruang nostalgia, seperti kitab yang dibaca sampulnya, tetapi enggan dibuka isinya.

Barangkali sejarah memang paling nyaman diperlakukan sebagai pajangan. Ia tidak pernah protes ketika hanya dijadikan latar belakang pidato. Ia tidak bisa marah ketika namanya dipinjam untuk membungkus ambisi yang sama sekali tidak berbau pengabdian.

Padahal, ketika KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad pada Oktober 1945, yang dipertaruhkan bukan pencitraan, melainkan nyawa. Tidak ada panggung megah, tidak ada kamera, apalagi siaran langsung. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa mempertahankan tanah air adalah bagian dari menjaga amanah Allah.

Hari ini musuhnya memang sudah berganti. Tidak ada lagi kapal perang yang berlabuh membawa serdadu kolonial. Musuh kini jauh lebih sopan. Ia mengenakan jas, memegang mikrofon, menguasai algoritma, kadang juga fasih mengutip ayat.

Ia tidak merampas kemerdekaan dengan meriam, tetapi dengan pelan-pelan menumpulkan akal sehat, mengikis rasa malu, dan membiasakan masyarakat hidup berdamai dengan ketidakjujuran.

Penjajahan rupanya telah menemukan cara baru: membuat orang merasa tetap merdeka ketika sesungguhnya sedang diperbudak oleh nafsu, popularitas, dan kepentingan. Humor paling gelap bangsa ini mungkin terletak di sana.

Kita memperingati perjuangan melawan penjajah, tetapi sering kalah melawan diri sendiri. Kita bangga mewarisi kemerdekaan, tetapi kadang begitu ringan menjual amanah. Kita rajin berbicara tentang pengorbanan para ulama, namun sering keberatan mengorbankan sedikit kenyamanan demi kepentingan bersama.

Seolah-olah jihad cukup diwujudkan dalam slogan, sementara kejujuran dapat ditunda sampai musim peringatan berikutnya. Islam sesungguhnya tidak pernah memahami jihad sesempit romantisme peperangan.

Jihad adalah kesungguhan mengerahkan seluruh kemampuan untuk menegakkan kebaikan dan mencegah kerusakan. Karena itu, peperangan paling panjang sering kali bukan melawan orang lain, melainkan melawan hawa nafsu sendiri. Anehnya, peperangan terakhir inilah yang paling sering kita hindari. Mungkin karena musuh di dalam diri tidak bisa disalahkan kepada siapa pun.

Syed Muhammad Naquib al-Attas (1993) telah lama mengingatkan bahwa krisis terbesar umat adalah loss of adab: hilangnya adab dalam kehidupan berilmu. Ketika adab memudar, ilmu kehilangan arah. Gelar bertambah, tetapi kebijaksanaan menyusut.

Orang menjadi semakin pintar menjelaskan moral, namun semakin kreatif mencari alasan untuk melanggarnya. Kita akhirnya melahirkan generasi yang mampu berbicara tentang integritas selama satu jam penuh, lalu melupakannya sebelum rapat selesai.

Di sinilah pesantren sebenarnya menawarkan pelajaran yang sering dianggap kuno, padahal justru paling modern. Berdasarkan data Kementerian Agama yang masih menjadi acuan nasional pada 2026, Indonesia memiliki lebih dari 42 ribu pesantren dengan sekitar 6,2 juta santri.

Angka sebesar itu bukan sekadar statistik pendidikan, melainkan cadangan moral bangsa. Sayangnya, bangsa ini kadang lebih sibuk menghitung jumlah lembaganya daripada memastikan nilai-nilainya benar-benar meresap ke ruang publik.

Jiwa santri tidak pernah diukur dari panjangnya sorban atau banyaknya unggahan bertema religius. Ia diukur dari kesanggupan menjaga amanah ketika tidak ada yang melihat. Di zaman ketika kamera ada di mana-mana, justru hati menjadi ruang yang paling jarang diawasi.

Kita pandai membangun citra, tetapi sering lupa membangun karakter. Mungkin karena karakter tidak bisa diedit dengan filter. Abdurrahman Wahid (2001) pernah mengingatkan bahwa kekuatan pesantren bukan hanya menjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga melahirkan manusia yang menghormati kemanusiaan.

Pesan itu terasa seperti kritik yang semakin relevan. Kita hidup di era ketika orang lebih cepat membagikan kemarahan daripada kasih sayang. Perbedaan pendapat lebih mudah berubah menjadi permusuhan, sementara ruang digital lebih sering dipenuhi perlombaan saling menghakimi daripada saling memahami.

Padahal Islam datang untuk menyempurnakan akhlak, bukan memperbanyak keributan. Lalu datanglah kecerdasan buatan yang menjanjikan efisiensi tanpa batas. Semua terasa lebih mudah. Menulis lebih cepat. Mencari jawaban lebih singkat. Membuat pidato lebih praktis.

Bahkan kata-kata bijak pun dapat diproduksi dalam hitungan detik. Yang tidak ikut berkembang justru kemampuan manusia untuk merenung. Kita memiliki teknologi yang semakin cerdas, tetapi belum tentu masyarakat yang semakin arif. Mesin berkembang pesat, sementara hati sering tertinggal di belakang.

Laporan UNESCO Global Education Monitoring Report (2025) mengingatkan bahwa masa depan pendidikan bergantung pada perpaduan antara kompetensi digital, etika, empati, dan kemampuan berpikir kritis.

Pesannya sederhana, tetapi terasa seperti sindiran: teknologi hanya mempercepat langkah manusia; ia tidak menentukan ke mana manusia berjalan. Jika arah moral hilang, kecepatan hanya membuat kita lebih cepat tersesat.

Maka, meneladani Resolusi Jihad hari ini bukan berarti sibuk mengulang kisah heroik tanpa menghadirkan semangatnya. Jihad masa kini adalah keberanian menjaga kejujuran ketika kebohongan tampak menguntungkan. Jihad adalah menolak korupsi ketika kesempatan terbuka.

Jihad adalah bekerja dengan sungguh-sungguh meski tidak sedang direkam kamera. Jihad adalah menggunakan ilmu untuk melayani, bukan untuk meninggikan diri. Dan bagi seorang santri, jihad adalah memastikan bahwa adab selalu berjalan lebih dahulu daripada ambisi.

Humor gelap republik ini adalah kenyataan bahwa kita sering merasa paling merdeka justru ketika paling diperbudak oleh kepentingan. Kita mengira kebebasan berarti boleh mengatakan apa saja, padahal yang lebih sulit adalah mampu menahan diri untuk tidak menyakiti sesama. Kita menganggap kemenangan adalah ketika berhasil mengalahkan lawan, padahal Islam mengajarkan kemenangan terbesar adalah ketika berhasil mengalahkan hawa nafsu.

Itulah sebabnya Resolusi Jihad tidak pernah benar-benar menjadi dokumen masa lalu. Ia terus hidup sebagai pertanyaan yang diam-diam mengetuk nurani. Jika dahulu para ulama rela mempertaruhkan nyawa agar republik tetap berdiri, mengapa hari ini kita begitu mudah mempertaruhkan integritas hanya demi kenyamanan sesaat?

Mungkin republik ini tidak sedang kekurangan orang pintar. Yang mulai langka justru orang yang bersedia memikul amanah tanpa menghitung untung-rugi. Dan ketika kelangkaan itu menjadi sesuatu yang dianggap biasa, saat itulah kita patut tertawa, bukan karena bahagia, melainkan karena ironi sudah terlalu sulit dibedakan dari kenyataan.

* Aisyah Anggraeni, S.Pd., M.Pd. adalah mahasiswa Prodi S3/Doktor Pendidikan Dasar FIP Universitas Negeri Padang (UNP); pembina Griya Riset Plikon (GRiP) Magelang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top