Oleh Bambang Suharto, S.H.
Bulan Ramadhan 1446 tahun lalu masih teringat kuat kenangan itu. Siang hari pukul 12:00 WIB yang begitu panas menyengat kulit, Aku pamit Ibuku untuk pergi ke Kota Ponorogo. Aku hanya berbekal uang sekitar 300 ribu untuk perjalanan ke Ponorogo. Aku putuskan naik Bus Patas daripada naik Bus Ekonomi AC tarif biasa karena efisien waktu agar cepat sampai di Terminal Seloaji Ponorogo. Saat masuk bus suasana nya penuh sesak dan tanpa sengaja bersenggolan bapak penjual koran yang menawarkan ke penumpang bus. Bapak tersebut kulihat mukanya sangat marah dan menatap tajam kearah wajahku tapi aku palingkan muka karena tak ingin ribut bertengkar di dalam bus.
Ketika Aku duduk di bangku bus paling belakang baru tersadar bahwa aku lupa bawa ponselku, jadi tidak bisa membagikan momen kenangan untuk disimpan dan dikenang. Akhirnya Bus Patas berangkat meninggalkan Terminal Purabaya Surabaya. Kondektur Bus Patas datang menghampiriku dengan menanyakan tujuanku mau turun kemana dan memberikan Karcis Bus perjalanan. Harga Karcis Bus Patas Surabaya Ponorogo tarifnya Rp. 90.000, harga cukup mahal dengan rute perjalanan pendek begitu ujar dalam hatiku. Bus Patas ini Full Jalan Tol berbeda dengan Bus Ekonomi rutenya lewat jalur bawah tidak masuk Jalan Tol. Di dalam perjalanan kulihat pemandangan lewat kaca samping Bus Patas yang penuh dengan hamparan sawah dan rumah warga desa yang terlihat begitu bersahaja.
Tak terasa Bus Patas pun sudah keluar Exit Tol Madiun dan sampailah ke kota Ponorogo. Jarak tempuhnya sekitar 3 jam perjalanan. Setelah turun dari Bus Patas Aku duduk di ruang tunggu Terminal Seloaji Ponorogo. Karena Aku lupa bawa ponsel yang tertinggal di rumah jadi tidak bisa memesan jasa Ojek Online untuk melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung Ponorogo. Aku menanyakan pemilik kios yang berjualan di Terminal Seloaji Ponorogo sambil membeli Air Mineral Kemasan 600 ml seraya bertanya tentang jam keberangkatan Angkutan Desa untuk ke Masjid Agung Ponorogo masih adakah armadanya. Pemilik kios pun menjawab kalau sudah jam 3 sore Angkutan Desa di sini sudah tidak ada lagi yang beroperasi sepi penumpang katanya.
- Iklan -
Oleh pemilik kios Aku dikenalkan tetangganya yang menjadi supir Angkutan Desa yang bekerja di Terminal Seloaji kebetulan orang ini mau pulang kerumah. Akhirnya aku duduk di depan bersama Pak sopir Angkutan Desa dan langsung diturunkan di depan Masjid Agung Ponorogo. Aku hanya disuruh bayar Rp.15.000 dan Aku sangat berterima kasih karena kalau naik ojek tarifnya Rp. 30.000, jauh lebih mahal. Setelah itu Aku langsung masuk ke Masjid Agung Ponorogo untuk menunaikan Sholat Ashar. Sambil menunggu Adzan Maghrib dan berbuka Aku berjalan keluar Masjid duduk di Kanstin Alun Alun Ponorogo. Saat bulan Ramadhan Alun Alun Ponorogo diisi kegiatan acara Bazaar Ramadhan. Datanglah seorang ibu dan teman cewek pengajian dalam mobil berhenti tepat didepanku dan membagikan tas berisi Takjil dari jendela kaca mobil seketika itu pula orang orang di sekitar Alun Alun Ponorogo berlari dan berebut Takjil. Aku hanya menonton dari dekat dan tidak ikut meminta Takjil. Setelah Takjil habis dibagikan Ibu itu pun pulang meninggalkan Alun Alun Ponorogo.
Waktu menunjukkan pukul 18:00 petang, matahari pun tergelincir suara Adzan Maghrib pun berkumandang. Aku bergegas menuju Masjid Agung Ponorogo untuk buka bersama mendapatkan Takjil. Padahal suasana Jamaahnya normal tidak terlalu ramai tapi tanpa diduga duga Takjil yang disediakan panitia Masjid Agung Ponorogo telah habis, alhasil aku hanya melongo dan sedih melihat jamaah semua berbuka.
Akhirnya keajaiban pun datang menghampiriku datanglah seorang Bapak Setengah Baya dari pengurus Masjid Agung Ponorogo membawa satu bungkus stereofom berisi nasi ayam bakar yang diambilkan dari rumahnya dan diberikan kepadaku. Alhamdulilah seketika itu Aku langsung menangis haru dan berterimakasih kepada Allah SWT yang masih menyayangiku karena aku masih diberikan nikmat rizki berbuka puasa.
Hikmah yang bisa diambil dari dari Safari Takjil di Masjid Agung Ponorogo bahwa dunia dan isinya semua dalam kekuasaan Allah SWT. Rejeki yang tak disangka sangka secara adil telah dibagikan untuk ciptaaNYA dibelahan manapun ia tinggal. Tugas manusia yang utama Habluminallah dan Habluminannas adalah keseimbangan taat beribadah kepada ALLAH SWT menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan nya serta menjalin hubungan baik dengan sesama manusia.
-Penulis adalah alumni Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo bergelar Sarjana Hukum (S.H.), Saya juga pernah berkarir sebagai Human Resourse Departemen (HRD) di perusahaan, sekarang berprofesi sebagai Wiraswasta pemilik Minimarket Sembako yang menjual aneka kebutuhan pokok keperluan rumah tangga. Selain itu juga hobi membaca media online dan media cetak serta menulis puisi, cerpen, essai dan juga aktif ikut seminar online maupun offline untuk menambah wawasan dan relasi.



