Oleh: Aisyah Anggraeni, S.Pd., M.Pd.
Coba jujur pada diri sendiri. Berapa kali selama Ramadan ini kita membuka media sosial? Pagi hari sebelum kerja, siang saat istirahat, sore menjelang berbuka, malam selepas tarawih, bahkan dini hari setelah sahur. Ponsel nyaris tak pernah jauh dari tangan. Dan di layar itu, kita disambut berbagai ajakan kebaikan: ‘tahajud yuk’, ‘hari ini jangan lupa satu juz’, ‘tarawih full, alhamdulillah’.
Sekilas, semua tampak indah. Ramadan terasa hidup. Agamis. Penuh semangat. Namun di balik itu, ada pertanyaan kecil yang sering luput kita ajukan: apakah semua ini benar-benar mendekatkan kita kepada Tuhan, atau justru perlahan menjauhkan niat kita dari keikhlasan?
Ramadan hari ini memang berbeda. Data terbaru menunjukkan, jumlah pengguna internet di Indonesia sudah menembus sekitar 229 juta orang, lebih dari 80 persen populasi. Dari jumlah itu, sekitar 180 juta aktif di media sosial. Rata-rata orang Indonesia menghabiskan hampir tiga jam sehari berselancar di platform digital. Artinya, sebagian besar hidup kita, termasuk kehidupan beragama, berlangsung di ruang digital.
- Iklan -
Tak heran jika ibadah pun ikut pindah ke linimasa. Tarawih difoto, sahur direkam, tadarus dibagikan, tahajud dijadikan story. Media sosial menjadi ruang ekspresi spiritual baru. Dan harus diakui, ada sisi positifnya. Banyak orang merasa termotivasi. Banyak yang tadinya jauh dari agama, kini lebih dekat karena sering melihat pengingat kebaikan. Konten religius di platform seperti Instagram dan TikTok bahkan termasuk yang paling tinggi interaksinya.
Masalahnya bukan pada medianya. Masalahnya ada pada niat, sesuatu yang tak pernah bisa diukur oleh algoritma.
Dalam ajaran Islam, niat adalah segalanya. Amal yang tampak besar bisa tak bernilai jika niatnya bergeser. Di sinilah dua istilah lama kembali relevan di zaman yang sangat modern ini: ujub dan riya’. Ujub adalah rasa bangga pada diri sendiri atas ibadah yang dilakukan. Riya’ adalah beribadah agar dilihat dan dipuji orang lain. Dua-duanya tidak selalu muncul dengan wajah kasar. Justru sering datang dengan wajah yang sangat halus.
Mari kita ambil contoh sederhana. Seseorang mengunggah story bertuliskan, ‘tahajud yuk’. Awalnya mungkin murni ingin mengajak. Tapi lalu muncul notifikasi: puluhan yang melihat, belasan yang membalas, beberapa memuji. Ada rasa hangat di dada. Merasa diapresiasi. Keesokan harinya, dorongan untuk mengunggah lagi muncul. Lalu muncul kebiasaan. Lalu muncul kebanggaan. Di titik inilah ujub dan riya’ sering masuk tanpa permisi.
Kita hidup di dunia yang serba diukur. Like, komentar, view, share. Media sosial mengajarkan satu hal: yang terlihat dianggap bernilai. Logika ini pelan-pelan merembes ke wilayah ibadah. Tahajud terasa ‘kurang lengkap’ jika tidak dibagikan. Tadarus terasa ‘kurang bermakna’ jika tidak diketahui orang lain. Tanpa sadar, ibadah berubah dari dialog sunyi dengan Tuhan menjadi pesan publik.
Padahal, ibadah yang paling jujur sering kali justru yang paling sepi. Yang tidak difoto. Yang tidak diunggah. Yang tidak diketahui siapa pun selain diri kita dan Allah.
Ramadan seharusnya menjadi latihan pengendalian diri. Kita menahan lapar dan dahaga, bukan karena tidak ada makanan, tapi karena ada perintah. Esensinya adalah melatih ego. Dalam konteks hari ini, mungkin ego yang paling sulit dikendalikan bukan soal perut, melainkan soal keinginan untuk diakui.
Data penggunaan media sosial menunjukkan bahwa generasi muda adalah pengguna paling aktif. Mereka hidup dalam kultur visual, cepat, dan kompetitif. Identitas dibangun dari apa yang ditampilkan. Tak heran jika kesalehan pun ikut menjadi identitas. Bukan lagi sekadar urusan batin, tapi juga citra. Di sinilah ibadah rawan tergelincir menjadi performa.
Sekali lagi, ini bukan tuduhan. Tidak semua unggahan ibadah adalah riya’. Banyak yang tulus. Banyak yang benar-benar ingin menginspirasi. Namun kita perlu jujur: apakah kita tetap beribadah dengan semangat yang sama jika tidak ada yang melihat? Pertanyaan ini sederhana, tapi jawabannya sering kali membuat kita terdiam.
Ironisnya, media sosial tidak peduli pada niat. Ia hanya membaca angka. Semakin tinggi interaksi, semakin dianggap berhasil. Algoritma tidak mengenal ikhlas. Ia hanya mengenal engagement. Di sinilah terjadi benturan serius antara logika spiritual dan logika digital. Yang satu menilai hati, yang lain menilai perhatian.
Ramadan mengajak kita kembali ke dalam. Ke ruang sunyi. Ke hubungan personal dengan Tuhan. Tapi linimasa terus mengajak kita keluar—untuk tampil, untuk berbagi, untuk menunjukkan. Jika tidak hati-hati, Ramadan bisa berubah menjadi ajang lomba simbolik: siapa paling rajin, siapa paling konsisten, siapa paling terlihat saleh.
Mungkin kita perlu berhenti sejenak. Menarik napas. Bertanya pada diri sendiri sebelum menekan tombol ‘unggah’: apakah ini untuk kebaikan orang lain, atau untuk menenangkan ego saya? Apakah saya akan tetap melakukan ibadah ini jika tidak ada satu pun yang memberi respons?
Dengan 180 juta pengguna media sosial di Indonesia, tentu mustahil menjauh sepenuhnya dari dunia digital. Yang dibutuhkan bukan menjauh, tapi mendewasa. Menempatkan media sosial sebagai alat, bukan tujuan. Sebagai sarana, bukan panggung.
Tidak semua kebaikan harus diumumkan. Tidak semua ibadah perlu disiarkan. Menyisakan sebagian amal hanya untuk Allah justru bisa menjadi cara paling aman menjaga keikhlasan. Di tengah dunia yang serba terlihat, berani beramal tanpa terlihat adalah bentuk keteguhan yang tidak mudah.
Pada akhirnya, Ramadan bukan soal seberapa ramai linimasa kita dengan konten religius. Ramadan adalah soal seberapa jujur hati kita di hadapan Tuhan. Tahajud yang tidak masuk story, tapi dilakukan dengan tulus, jauh lebih bernilai daripada unggahan yang dipenuhi pujian.
Di tengah hiruk-pikuk media sosial, mungkin pelajaran paling penting dari Ramadan adalah ini: tidak semua yang baik harus terlihat, dan tidak semua yang terlihat benar-benar baik. Yang terpenting bukan siapa yang melihat kita beribadah, tapi apakah Allah menerima ibadah kita. Dan itu, tidak pernah bisa diukur dengan angka.
* Aisyah Anggraeni, S.Pd., M.Pd. adalah mahasiswa Prodi S3/Doktor Pendidikan Dasar FIP Universitas Negeri Padang (UNP); pembina Griya Riset Plikon (GRiP) Magelang.



