PADANG WULAN
Ma, kita buka buku rindu ini dengan basmalah
Ambil kuasmu, lukis langit beserta rasi bintangnya
Dengarkan pesan apa yang ingin disampaikan
- Iklan -
Pada semesta yang sibuk bernyanyi lagu pujian
Bait-bait kerinduan menjelma selisik angin yang lirih
Namun dinginnya membuat hati kita gigil
Aku menaburkan doa-doa cinta padaMu
Di antara kedua salam yang sama
Raga menjelma samudera
Rindu menjadi air bah
Menenggelamkan bahtera Nuh
Menghapus bersih setiap noda-noda dosa
Kini laut kita jernih sebening kaca
Dewi malam merias wajahnya penuh suka cita
Mataku tak mau dibujuk kantuk
Dalam sujud paling hikmat kutemui sebuah alamat
Jalur jalan bercahaya menuju rumah yang ramah
Percayalah, Bu
Bayang senyummu tergambar di padang rembulan
Merupa sinar menemani kesunyian
Lagu-lagu dolanan ditembangkan
Pecah sepi dalam ingatan
Windunegara, 9 Februari 2026
AWAL YANG TAK PERNAH KAU BACA HINGGA AKHIR
Parau suara tersamar di antara kidung sang dewi malam. Tuhan mewujud rintik yang menutup tirai rapat-rapat rumah dosa basah dalam dingin. Kau asik mencicipi nikmat, masuk jerat perangkap. Diksi habis kau cumbui, rangkaian kata kawin sampai lahir puisi liris.
Panas napas pengap memilukan. Menyisakan wajah pucat meminta petik nanas cepat-cepat, supaya selamat. Ruang penuh kekosongan, dinding gosong. Abu penyesalan berterbangan bak debu jalang runtuh dari sekujur tubuhmu. Darah adalah amarah tak terhapus merahnya di antara kesucian selaput jerih putih. Mengalir oksigen setiap hirup, kenangan hidup jadi hantu tenang batinmu: hirap.
Ia akhiri penantian kesucian ranjang pada awal yang tak pernah kau baca hingga akhir. Kita kumpulan waktu terbentuk penuh sabar dalam rahim perempuan. Tiada lagi mata dibodohi tangis yang mengering, pecah cerita tanpa dusta dan takut sebuah derita.
Dalam carut marut perang bisu. Ibu tak pernah salah mengartikan laku benih cinta: buah hatinya. Dari tulang sulbi yang menciptakan kau aku hingga sempurna. Curug-curug memancur, aliri kedua bukit yang kau peluk penuh tanya. Mengalirkan mata air susu pengikat rasa yang keramat.
Jika akhir membawa awal. Kemudian awal lahir setelah berakhir.
Ia adalah awal dan akhir sebuah roda kehidupan kemana kau membawa, sampai pada hilir mimpi penyatuan kedua semesta doa. Malaikat enggan mencatat setiap rindu yang ternafikan lelap. Pada keteguhan kau percaya janji Tuhan pasti memberikan ampunan bagi yang kembali.
Windunegara, 12 Januari 2026
RINJING SENIK
Pohon bambu kakek habis ditebas
Sisa sebatang kubuatkan gerabah ibu
Badan kaku yang semula tubuhmu
Kuraut dan sisir hingga lentur
Empat kaki ditambahkan setiap sudut
Seperti tiang kerangka rumah
Helai demi helai
Sabar kuanyam rapi
Mengisi kekosongan rapat-rapat
Rinjing adalah keluarga
Kesatuan fungsional tangguh
Dari isian saling menutup kekurangan
Seberapa banyak dagangan digendong
Rinjing terasa: ringan dijinjing
Ia tukar dengan beras empat gelas
Delapan potong tahu, dan selontrong tempe
Sisa beberapa lembar ribuan bekal anak ke sekolah
Rinjing saksi dini hari seorang perempuan
Menakar-nakar kalut,
biasa mentanak dengan air mata
Bersama beras melebur menjadi bubur
Embun takut pada nyala pawonmu
Suluh telah lusuh
Bersama pembakaran kepalsuan senyum sepetang
Hingga langes ngenes menempel di sudut mata
Merias bukti pengorbanan
Rinjing ibu kembali penuh
Sepanci sumsum akan mengubur segala cemas
Menjadi senyum manis gendis jawa yang merona
Windunegara, Januari 2026
SELENDANG BATIK KAWUNG
“Wis cep menenga anakku, cah ayu
Tak emban slendang batik kawung
Yen nangis mundhak ibu bingung”
Kain membalut tubuh kecilmu hangat-hangat
Seperti peluk ari-ari dalam ruang rahim ibu
Kau temukan tenang nyaman: tentram
Hawa dingin tak mampu mengusik mimpimu
Selendangkan di pundakku
“Bopong, enggong-enggong, gendong, Mbok”
Katamu merengek nangis dahulu
Semalaman kau tidur dalam dekap nyanyianku
Nyala mata aku jaga hingga senja usia
Memastikanmu bahagia
Kini seperti kawung yang memudar dimakan waktu
Tuhan mengistirahatkan raga menua
Bersama jarik lusuh itu
Kenangan pekat bersamamu
Duniawi kian menjauh
Inikah akhir perjalananku
Di atas ranjang biru
Ia hentikan hembusan napas
Rasanya tubuh kaku, kini ringan melayang
Inikah terbang ke atas awang-awang
Aku hanyalah titik di antara ribuan motif batik
Tertutup malam yang menyembunyikan putih mori
Tolong selimuti tubuh dingin rapat-rapat
Sudah waktunya aku bersiap
Sebentar lagi keretaku berangkat
Antarkan aku dengan doa-doa selamat
Simpan kembali jarik sebagai azimat
Warisan leluhur keramat
Windunegara, Januari 2026
SEROJA TAMAN SARI
Biji terkubur lumpur pengap
Menunggu dormasi melahirkan kembali
Langit enggan berhenti menangis
Begitu pula hujan deras di pipiku
Menabur air mata di atas kabar layar kaca
Tanah lelah, napasnya sesak
Udara kian mencekik, basah yang pasrah
Kutahan trauma yang bersemayam
Meski kulihat sebuah kuncup harapan
Kau sudah tenang tanpa tanggungan
Hiduplah seribu masa lagi
Temuilah aku di setiap lantunan mantra pagi
Bersama sujud embun memecah sunyi
Menumbuhkan dan menghidupi
Mimpimu kusambung penuh ambisi
Kita datang tak menghampiri
Bersama peluk yang tak hangat lagi
Bentangkan sayap doa selapang dada malaikat
Hingga ikhlas tersemai subur di atas kuburmu
Tak lagi kukutuki takdir curang membawamu hilang
Seroja di tangan Tuhan, memetik keindahan
Penuh lembut cinta kasih dan pelukan
Kabar dingin berita kepulangan
Siapkan sambutan lagu kemenangan
Untukku yang menunda kepergian
Windunegara, 11 Januari 2026
Intan Hafidah Nur Hansah, lahir 13 Maret 1999, di Banyumas. Mahasiswi Universitas Terbuka Purwokerto, Prodi S1 Agribisnis bidang: Komunikasi dan Penyuluhan Perikanan dan Alumnus D3 Budidaya Ikan, Universitas Jenderal Soedirman UNSOED, Purwokerto (2020). Puisinya dimuat di sejumlah media massa dan antologi. Buku puisi pertamanya berjudul Jejak Jarak (2018). Pernah berkegiatan di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) dan Kelas Puisi Bekasi (KPB). Kini aktif berkegiatan dalam komunitas COMPETER Indonesia serta mengasuh komunitas online bernama Kosana dan Penerbitan Kosana Publisher. Majalah puisi berbasis Instagram yang ia kelola @harianvisualisasipuisi, Berkenalan lebih lanjut? Hubungi Instagram: intanhafidahnh atau gmail; tintabiru1111@gmail.com.




