Oleh : Gunoto Saparie
“Apa kambingnya sudah pasti dua?” tanya Ratmi sambil mengipasi bayinya yang tertidur gelisah.
Aku berhenti mengikat plastik berisi bumbu. “Kamu sudah tanya itu tiga kali sejak subuh.”
Ratmi tidak tersenyum. Matanya menatap langit-langit dapur, seolah di sana ada jawaban yang belum turun juga. “Aku hanya ingin semuanya benar. Ini anak pertama kita.”
- Iklan -
“Dan laki-laki,” tambahku, setengah bergurau, setengah ingin menenangkan. “Sunahnya dua ekor. Aku tahu.”
Ratmi menghela napas panjang. “Bukan soal sunahnya saja.”
Aku tahu kalimat itu akan datang. Sejak tujuh hari lalu, sejak bayi itu menangis pertama kali di ruang bersalin puskesmas, Ratmi tak lagi hanya berbicara dengan kata-kata. Ada lapisan lain di balik suaranya: cemas, takut, dan sesuatu yang belum mau ia sebut.
Di luar, suara motor berhenti mendadak. Pagar digedor.
“Mas Arif!” suara ibu terdengar nyaring. “Ini Pak Sastro sudah datang. Katanya mau lihat kambing.”
Ratmi menutup mata. Tangannya otomatis meraba kepala bayi. “Sudah datang.”
Aku melangkah ke luar. Pagi belum sepenuhnya terang, tetapi halaman rumah sudah ramai. Dua ekor kambing diikat di bawah pohon mangga. Satu putih bersih, satu lagi cokelat keabu-abuan dengan bercak hitam di lehernya.
Pak Sastro berdiri di sampingnya, memegang rokok yang belum dinyalakan. “Ini yang paling bagus, Mas. Umurnya cukup. Giginya sudah tanggal dua.”
Aku jongkok, pura-pura memeriksa kaki dan mata kambing. Yang putih terlihat tenang. Yang cokelat gelisah, menghentak-hentakkan kaki.
“Kok yang satu kelihatannya beda?” tanyaku.
Pak Sastro terkekeh. “Namanya juga makhluk hidup. Tidak semuanya pendiam.”
Aku mengangguk, tetapi dadaku terasa tidak enak. Aku berdiri dan memanggil Ratmi. “Mi, lihat dulu.”
Ratmi keluar dengan bayi di gendongan. Wajahnya pucat. Matanya langsung tertuju pada kambing cokelat itu.
“Mas…” katanya lirih.
“Ada apa?”
“Itu… telinganya.”
Aku mendekat. Ujung telinga kambing cokelat itu memang tampak seperti pernah robek, meski sudah mengering.
Pak Sastro cepat-cepat menyela. “Ah, itu cuma lecet kecil. Tidak cacat, Bu. Sama sekali tidak.”
Ratmi tidak menjawab. Ia memeluk bayinya lebih erat. Bayi itu tiba-tiba menangis, nyaring, menusuk.
Tangisan itu membuat suasana halaman berubah. Ibu keluar dari rumah, diikuti Bapak dan beberapa tetangga yang sudah berdatangan membawa panci dan nampan.
“Kenapa bayinya?” tanya Ibu.
“Tidak apa-apa,” jawab Ratmi cepat. “Mungkin lapar.”
Aku tahu itu bohong. Bayi itu baru saja menyusu.
Pak Sastro berdehem. “Jadi bagaimana, Mas? Mau saya siapkan sekarang? Nanti keburu siang.”
Aku menatap Ratmi. Ia menggeleng pelan, hampir tak terlihat.
“Pak,” kataku akhirnya, “yang satu saja dulu. Yang putih.”
Suasana mendadak sunyi.
“Lho,” suara Ibu meninggi, “bukannya akikah untuk anak laki-laki dua?”
Ratmi menunduk.
Pak Sastro mengernyit. “Mas Arif yakin? Ini sudah saya carikan dua yang sepadan.”
Aku menarik napas. “Yang satu saja, Pak. Untuk sekarang.”
Ibu mendekat. “Arif, ini bukan soal uang saja. Ini soal niat.”
Ratmi mengangkat kepala. “Bu,” katanya, suaranya bergetar tapi tegas, “kami tidak melanggar apa pun. Sunah, bukan wajib.”
“Sunah muakkad,” sahut Ibu cepat.
Ratmi menelan ludah. “Dan kami akan melakukannya semampu kami.”
Aku tahu ini bukan semata soal mampu. Ini soal sesuatu yang Ratmi simpan sejak lama.
Pak Sastro akhirnya mengangguk, meski wajahnya menyimpan kecewa. “Baiklah. Saya siapkan yang putih.”
Ketika ia menuntun kambing itu ke belakang rumah, Ratmi masuk kembali ke kamar tanpa sepatah kata. Aku menyusul.
Di dalam, ia duduk di tepi ranjang. Bayi itu sudah tenang, tertidur kembali.
“Kamu mau bilang apa sebenarnya?” tanyaku pelan.
Ratmi menatap lantai. Lama. Seperti menghitung ubin satu per satu.
“Mas ingat kakakku?” akhirnya ia bertanya.
“Kak Rini?”
Ia mengangguk. “Anaknya meninggal tujuh hari setelah lahir.”
Aku terdiam. Aku ingat cerita itu. Bayi laki-laki. Akikahnya hanya satu kambing, karena alasan ekonomi, kata orang-orang.
“Kamu percaya itu karena akikah?” tanyaku hati-hati.
Ratmi menggeleng, cepat. “Tidak. Tapi orang-orang percaya. Ibu percaya. Dan aku…” Ia menggigit bibirnya. “Aku tidak kuat mendengar bisik-bisik itu lagi.”
Aku duduk di sampingnya. “Mi, kita tidak melakukan apa pun yang salah.”
“Tapi kalau terjadi apa-apa?” Matanya berkaca-kaca. “Kalau anak kita sakit? Kalau—”
Aku memegang tangannya. “Jangan teruskan.”
Ia menarik tangannya, berdiri. “Mas tidak tahu rasanya jadi perempuan di keluarga ini. Semua kesalahan selalu kembali ke ibu.”
Di luar, suara kambing mengembik panjang. Pisau diasah.
Ratmi memejamkan mata. “Mas,” katanya tiba-tiba, “bagaimana kalau kita tunda saja?”
“Sudah hari ketujuh.”
“Kita bisa hari keempat belas.”
Aku menggeleng. “Orang-orang sudah datang.”
Ratmi tertawa kecil, pahit. “Iya. Orang-orang.”
Penyembelihan berlangsung cepat. Darah mengalir ke tanah. Beberapa ibu membaca salawat lirih. Seorang bapak memimpin doa.
Ratmi tidak keluar kamar.
Ketika daging mulai dimasak, ketika aroma santan dan bumbu memenuhi udara, ketegangan belum juga surut. Ibu mondar-mandir, sesekali melirik kamar kami.
Menjelang zuhur, seorang perempuan tua datang. Jalannya tertatih, membawa tas kain lusuh.
“Ini Mbah Surti,” bisik tetangga. “Dukun bayi dulu.”
Ibu menyambutnya hangat. “Mbah, mangga.”
Ratmi keluar kamar begitu melihatnya. Wajahnya menegang.
“Mbah tidak diundang,” katanya pelan padaku.
Aku bingung. “Ibu yang mengundang.”
Mbah Surti mendekat, matanya tajam namun lembut. “Bayinya mana?”
Ratmi refleks mundur selangkah. “Untuk apa?”
Mbah tersenyum tipis. “Hanya mau lihat. Tujuh hari itu rawan.”
Aku melihat tangan Ratmi gemetar.
“Tidak usah,” katanya tegas. “Kami sudah cukup berdoa.”
Suasana kembali sunyi. Ibu menatap Ratmi dengan campuran marah dan heran.
Mbah Surti mengangguk pelan. “Baik. Tapi satu hal.” Ia menoleh ke arah dapur. “Kambingnya satu?”
Ibu menjawab cepat, “Iya, Mbah.”
Mbah Surti menghela napas panjang. “Dulu juga begitu.”
Ratmi menutup telinga bayinya. “Cukup, Mbah.”
Perempuan tua itu menatap Ratmi lama. Lalu berkata pelan, hampir berbisik, “Bukan jumlahnya yang menentukan, Nduk. Tapi damai di hati ibunya.”
Kalimat itu jatuh seperti batu ke air tenang.
Mbah Surti pergi tak lama kemudian. Orang-orang kembali bercakap, tetpi suasana berubah. Ibu duduk diam, tidak lagi mengatur.
Sore menjelang. Hujan turun tiba-tiba, deras.
Ratmi berdiri di dekat jendela, memandang halaman yang basah. “Mas,” katanya lirih, “maaf.”
Aku mendekat. “Untuk apa?”
“Aku membuat semuanya sulit.”
Aku menggeleng. “Kamu jujur.”
Ia menatap bayinya. “Aku takut, Mas. Tapi mungkin aku lebih takut pada omongan orang daripada pada Tuhan.”
Aku tidak menjawab. Tidak ada jawaban yang pantas.
Malam itu, setelah semua tamu pulang, setelah panci kosong dan halaman bersih, Ratmi mengeluarkan sesuatu dari lemari. Sebuah amplop cokelat.
“Apa itu?” tanyaku.
Ia menyerahkannya. “Uang simpananku. Cukup untuk satu kambing lagi.”
Aku menatapnya.
“Kita bisa lakukan nanti,” katanya. “Bukan karena takut, tapi karena ingin.”
Aku tersenyum kecil. “Kita bicarakan besok.”
Ia mengangguk. Bayi itu bergerak kecil dalam gendongan.
Di luar, hujan berhenti. Malam terasa lebih ringan.
Tujuh hari telah lewat. Dan kami masih belajar: tentang iman, tentang tradisi, dan tentang keberanian menanggung pilihan sendiri.
Taman Karonsih, Semarang, Awal 2026.




