Oleh: Vito Prasetyo
Dalam dunia pendidikan, seyogianya instrumen pendidikan (guru, murid dan ruang belajar) adalah subjek dan objek yang terkait satu sama lainnya. Hubungan ini adalah cermin dari rasa kepedulian dan harmonisasi dalam interaksi masyarakat sosial. Bagaimana menginterpretasikan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak hanya semata sebuah proses kelangsungan hidup.
Konsep pembelajaran mendalam (deep learning) tidak semata mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Tetapi bagaimana dunia pendidikan mampu mencetak produk unggul yang tidak pragmatis dalam menghadapi perubahan sosial, termasuk revolusi ilmu pengetahuan.
Sangat menarik dan mendalam — menyentuh hubungan antara pendidikan berbasis nilai (khususnya cinta) dan pembelajaran mendalam (deep learning) dalam pembentukan karakter peserta didik.
- Iklan -
Narasi ini mencoba mengulas dengan kondisi yang relevan. Memaknai kurikulum yang berbasis cinta harus didasari oleh observasi yang utuh dan matang. Jika ada persepsi tentang istilah kematian kurikulum berbasis cinta dapat dimaknai sebagai hilangnya nilai-nilai kasih sayang, empati, dan kemanusiaan dalam proses pendidikan. Yang perlu diperhatikan, bahwa peserta didik tidak boleh dijadikan “kelinci percobaan” dalam rumusan kurikulum yang acapkali mengalami perubahan.
Setidaknya mulai tahun 2012 hingga saat ini, rumusan kurikulum telah mengalami perubahan paling tidak 3 fase yang masih ditambah dengan adaptasi kondisi-kondisi darurat, seperti pada masa pandemi. Pendidikan formal yang bagus, paling tidak 10 tahun untuk melihat kualitas kurikulum, jika ini dihitung dengan transisi perubahan era zaman yang rata-rata terjadi dalam kurun waktu satu dekade.
Ketika kurikulum terlalu menekankan aspek kognitif, target akademik, atau capaian numerik — tetapi mengabaikan dimensi afektif dan moral — maka pendidikan kehilangan “jiwanya”. Ini memang sangat anomali, ketika pendidikan kehilangan parameter atau indikator terhadap kualitas pendidikan. Seharusnya, penerapan kurikulum berbanding lurus dengan hasil pendidikan (termasuk di dalamnya ada evaluasi keseluruhan).
Kurikulum sejatinya bukan sekadar rangkaian materi, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kemanusiaan. Ketika cinta dikeluarkan dari ruang belajar, pembelajaran menjadi mekanis dan dangkal. Lantas, bagaimana dampak yang dirasakan? Ada yang tidak disadari, bahwa pendidikan kita telah gagal membaca kebutuhan peserta didik. Pendidikan formal sering meniscayakan, kebebasan anak berpikir dengan cara mereka. Seolah-olah apa yang dipikirkan anak didik selalu salah.
Dampak terhadap pembelajaran mendalam (deep learning) menuntut lebih dari sekadar menghafal fakta; ia menekankan pemahaman, refleksi, dan keterhubungan makna. Namun, tanpa cinta — yang melahirkan rasa ingin tahu, penghargaan terhadap proses, dan kepedulian terhadap sesama — pembelajaran mendalam sulit tumbuh.
Anak didik, belajar bukan karena takut salah, tetapi karena ingin tahu. Mereka memahami bukan karena dipaksa, tetapi karena merasa dihargai dan dicintai. Pada titik ini, kegagalan terselubung muncul yang sama sekali tidak disadari dunia pendidikan.
Jika unsur cinta dihapus, maka pembelajaran mendalam berubah menjadi pembelajaran secara mekanik — hanya mengejar nilai, bukan makna. Keterlibatan pelbagai pihak, mulai pakar pendidikan; psikolog; sosiolog; akademisi; bahkan pegiat pendidikan, dan elemen lainnya, perlu diperhatikan dalam penyusunan kurikulum. Karena sistem pendidikan itu harus memiliki indikator jelas, termasuk berjalannya check and balance (sistem pengawasan).
Apakah ada pengaruh terhadap karakteristik anak didik? Setiap proses pasti ada perubahan yang terjadi. Hilangnya cinta dalam kurikulum dapat menimbulkan perubahan karakteristik peserta didik, antara lain:
- Menurunnya empati dan solidaritas sosial — anak lebih individualistis dan berorientasi hasil.
- Kecerdasan emosional yang lemah — sulit memahami perasaan sendiri maupun orang lain.
- Motivasi belajar ekstrinsik — belajar hanya karena nilai, bukan karena keinginan untuk tumbuh.
- Kerapuhan moral dan spiritual — kehilangan arah dan makna dalam belajar.
Sebaliknya, kurikulum yang dilandasi cinta menumbuhkan: rasa tanggung jawab, kepedulian, daya tahan terhadap kesulitan, dan kemampuan reflektif yang tinggi. Dalam korelasinya, bayangkan jika sebuah kelas di mana guru memandang murid bukan sebagai “penerima materi”, melainkan manusia yang sedang tumbuh.
Ia tidak hanya mengajar matematika atau bahasa, tetapi juga mengajarkan keberanian untuk mencoba, kejujuran dalam berproses, dan rasa kasih (empati) dalam berinteraksi. Di kelas semacam ini, pembelajaran menjadi pengalaman hidup — bukan sekadar rutinitas akademik.
Namun, ketika cinta digantikan oleh tekanan ujian, angka, dan perbandingan, anak-anak belajar untuk takut gagal, bukan untuk mencintai pengetahuan. “Kematian kurikulum berbasis cinta” berarti hilangnya ruh kemanusiaan dalam pendidikan. Tanpa cinta, pembelajaran mendalam kehilangan akar emosional dan moralnya, Sehingga karakter peserta didik bisa berubah — dari manusia pembelajar yang penuh makna menjadi sekadar pelaku rutinitas akademik.
Sisi lain, kematian kurikulum berbasis cinta dan dampaknya terhadap pembelajaran mendalam, siswa akan kehilangan apa yang dianalogikan sebagai kehilangan bahasa kemanusiaan dan kehilangan bahasa cinta. Siswa akan tumbuh dengan karakteristik egoisme.
Pendidikan sejatinya merupakan proses memanusiakan manusia. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan empati yang menjadi dasar tumbuhnya karakter peserta didik. Namun, dalam arus modernisasi pendidikan yang kian kompetitif, muncul gejala yang dapat disebut sebagai kematian kurikulum berbasis cinta — yakni hilangnya dimensi kasih dan kepedulian dalam proses pembelajaran. Fenomena ini patut dikritisi karena dapat memengaruhi arah dan kualitas pembelajaran mendalam (deep learning) serta karakter anak didik.
Kurikulum berbasis cinta bukan berarti pendidikan yang sentimental, melainkan kurikulum yang menempatkan hubungan manusiawi — antara guru, siswa, dan lingkungan belajar — sebagai inti proses pendidikan. Cinta dalam konteks ini berarti sikap menghargai potensi peserta didik, menumbuhkan rasa aman, dan menciptakan ruang dialog yang bermakna.
Namun, dalam praktiknya, banyak sistem pendidikan kini lebih menitikberatkan pada capaian akademik, ujian, dan standar hasil. Guru didorong untuk mengejar target kurikulum, bukan menumbuhkan hubungan emosional dan nilai-nilai kemanusiaan. Akibatnya, proses belajar menjadi mekanistik, dangkal, dan kehilangan makna spiritual maupun sosial.
Ada beberapa dampak terhadap pembelajaran mendalam, dalam rangka proses pendidikan. Pembelajaran mendalam (deep learning) menuntut peserta didik untuk memahami, merefleksikan, dan mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan nyata. Proses ini tidak mungkin terwujud tanpa landasan emosional yang sehat dan iklim kelas yang penuh kasih.
Cinta menjadi energi yang menumbuhkan rasa ingin tahu, keberanian untuk gagal, serta keinginan untuk terus belajar. Sebaliknya, ketika pendidikan kehilangan cinta, peserta didik belajar dengan rasa takut, tekanan, dan keterpaksaan. Mereka memahami konsep secara permukaan, bukan karena makna, melainkan karena tuntutan nilai dan peringkat.
Bagaimana kita melihat perubahan karakteristik anak didik, akibat hilangnya kurikulum berbasis cinta membawa konsekuensi terhadap karakter peserta didik. Anak menjadi lebih individualistis, berorientasi pada hasil, dan kehilangan empati terhadap sesama. Kecerdasan emosional melemah, motivasi belajar menjadi ekstrinsik, dan nilai moral tidak lagi menjadi pedoman utama dalam berperilaku.
Sebaliknya, jika pendidikan berakar pada cinta, anak-anak belajar untuk menghargai proses, menumbuhkan tanggung jawab, serta memiliki ketangguhan moral dalam menghadapi kesulitan. Cinta membuat pembelajaran menjadi pengalaman hidup yang bermakna, bukan sekadar aktivitas akademik.
Sebagai refleksi pendidikan, tidak ada salahnya kita menengok kepada negara lain yang sistem pendidikannya maju. Seperti Finlandia, Swedia, Jepang, dan lainnya. Kultur barat mungkin terasa janggal jika diterapkan dalam pendidikan Indonesia. Tetapi bagaimana nilai pendidikan itu menjadi nilai yang utuh bagi pembangunan kerangka bangsa.
Pendidikan tanpa cinta ibarat tubuh tanpa ruh — bergerak, tetapi tanpa kehidupan. Kematian kurikulum berbasis cinta adalah peringatan bagi dunia pendidikan bahwa terlalu menekankan hasil dapat mengorbankan kemanusiaan. Guru bukan hanya pengajar ilmu, melainkan penumbuh nilai.
Oleh karena itu, membangkitkan kembali kurikulum berbasis cinta berarti menghidupkan kembali dimensi kemanusiaan dalam pendidikan. Dengan cinta, pembelajaran mendalam tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan hati dan membentuk karakter manusia seutuhnya.
Meminjam narasi bijak dari seorang filsuf Yunani: “Pendidikan adalah penyulut api, bukan pengisian bejana” – Plato. Ini mengingatkan kita, bahwa nilai-nilai cinta dalam pendidikan itu sudah ada sejak zaman dahulu.
*) Penulis adalah Sastrawan dan Peminat Pendidikan



