Oleh: Fajar Pujanto
Literasi selalu menjadi pondasi penting dalam pembangunan peradaban. Tidak ada bangsa yang maju tanpa ditopang oleh budaya membaca yang kuat, sebut saja Finlandia yang indeks literasinya berada di urutan teratas. Dalam konteks keindonesiaan, literasi di akar rumput sebagian ditopang oleh perpustakaan maupun taman bacaan masyarakat (TBM). Perpustakaan sebagian besar dikelola oleh instansi yang menjadikannya mempunyai jam layanan dan tidak saban hari membuka pelayanann tersebut. Namun, berbeda degan TBM yang banyak dikelola oleh individu. Ada juga yang dikelola oleh komunitas, organisasi, maupun TPQ, seperti TBM Cahaya Semangat yang berada di Ajibarang, Banyumas yang memanfaatkan sela-sela ruang di TPQ.
Dalam hal ini, TBM hadir sebagai ruang sederhana, murah, dan ramah untuk mendekatkan buku kepada masyarakat. Satu hal yang menarik sekaligus menjadi tantangan, yaitu banyak TBM yang dikelola oleh individu-individu dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), tetapi hingga hari ini belum ada forum khusus yang menaungi mereka. NU adalah organisasi terbesar dan luas, juga memiliki modal sosial berupa pesantren, madrasah, majelis taklim, dan jaringan kader yang tersebar di pelosok desa. Sayangnya, potensi besar itu belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk menggerakkan literasi secara terorganisir.
Permasalahan utama terletak pada tidak adanya wadah koordinasi. TBM yang lahir dari kalangan NU berjalan dengan model yang sangat beragam. Ada yang bertahan karena militansi pengelolanya, ada yang stagnan karena minim dukungan, ada pula yang mati suri karena tidak sanggup merawat koleksi dan kegiatan. Pola semacam ini wajar, sebab tanpa adanya forum, para pengeola TBM tidak bisa saling belajar dan bertukar pengalaman.
- Iklan -
Permasalahan lain adalah soal pembinaan dan berkelanjutan program. Banyak TBM yang lahir dari semangat individu, tetapi tidak punya konsep berkelanjutan. Padahal pengelola TBM tidak cukup hanya menyediakan buku. Ada kebutuhan lain, seperti strategi menghidupkan kegiatan, membangun jejaring dengan sekolah atau pesatren dan TPQ, hingga harus tetap ada finansial, supaya pengeola TBM tidak kalang kabut. Tanpa itu semua, TBM mudah sekali kehabisan tenaga.
Selain itu, NU sendri selama ini lebih dikenal kuat di bidang dakwah, pendidikan agama, dan sosial kemasyarakatan, tetapi dalam geliat literasi di TBM masih kurang dan masih berkutat di literasi menulis. Bukan berarti NU abai terhadap literasi, hanya gerakan ini lebih sering berjalan dalam jalur personal, bukan kelembagaan. Alhasil, TBM yang lahir dari kalangan NU tidak terlihat sebagai satu kekuatan kolektif, melainkan sebatas inisiatif personal.
NU mempunyai ribuan kader muda, guru madrasah, santri, kiai, dan aktivis sosial yang sebenarnya peduli literasi. Jika ada forum yang mempertemukan mereka, tentu akan muncul kekuatan kolektif yang luar biasa. Bayangkan, jika para pengelola TBM yang berwarga NU bisa duduk bersama dalam suatu wadah, tentu mereka bisa saling menguatkan, berbagi strategi, dan menyusun agenda besar. Forum TBM NU atau sebutan lainnya bisa menjadi ruang konsolidasi dan bertukar pikiran, tentang bagaimana mengelola TBM secara profesional, menghidupkan kegiatan literasi yang menarik, hingga cara mengakses sumber daya dari pemerintah maupun swasta.
Lebih dari itu, Forum TBM NU atau sebutan lainnya bisa menjadi wujud jihad literasi. Kita tahu, wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah Iqra’ atau bacalah. Pesan ini tidak bisa dianggap remeh. Iqra’ menegaskan bahwa membaca adalah pintu peradaban. Maka, jika warga NU menjadikan literasi sebagai gerakan bersama, maka ini bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari pengamalan ajaran agama.
Sebagai ilustrasi, mari kita lihat data di Kabupaten Banyumas. Pada tahun 2023, ketika saya menjabat sebagai ketua Forum TBM Banyumas, terdapat 111 TBM terdata, dengan jumlah yang benar-benar aktif sekitar 40-an. Jika kita mengambil estimasi sederhana bahwa seperempat pengelola TBM berasal dari kalangan NU, maka setidaknya ada 10 TBM yang jelas-jelas dikelola oleh warga NU. Lantas, bagaimana jika setiap organisasi NU di tingkat kecamatan membuat satu TBM saja? Banyumas memiliki 27 kecamatan. Artinya, akan ada tambahan 27 TBM dan jika ditotal, akan ada 37 TBM NU di Banyumas. Maka kebermanfaatannya akan sangat berdampak bagi masyarakat teruama untuk anak-anak.
TBM yang dikelola warga NU sudah ada, maka tinggal membuat forumnya yang khusus untuk TBM dari kalangan NU. Forum ini bisa dimulai dari skala lokal, misalnya kabupaten atau provinsi, lalu berkembang ke tingkat nasional. Langkah awalnya adalah melakukan pendataa TBM yang dikelola oleh kader atau warga NU. Dari sana, bisa melakukan pertemuan rutin, baik luring maupun daring, untuk menyatukan visi dan strategi. Forum TBM NU atau sebutan lainnya tidak harus berwujud struktur birokrasi yang kaku, tapu harus luwes, berbasis gotong royong, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan. Dengan demikian, dampak positifnya pun akan sangat luas.
Pertama, indeks membaca di kalangan warga NU akan meningkat. Sebab, jika TBM itu aktif dan terkordinasi, masyarakat akan lebih mudah mengakses bahan bacaan, baik cetak maupun digital. Kedua, forum TBM NU atau sebutan lainnya akan memerkuat posisi NU sebagai organisasi yang bukan hanya menjaga tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi pionir dalam pengembangan peradaban berbasis literasi. Ketiga, forum TBM NU atau sebutan lainnya bisa menjadi jembatan regenerasi pegiat literasi dari kalangan NU. Santri-santri muda, mahasiswa, dan aktivis NU bisa dilibatkan dalam kegiatan TBM, sehingga mereka terbiasa mengelola dan menghidupkan literasi. Keempat, bisa menjadi ladang amal jariyah. Setiap buku yang dibaca maupun anak-anak yang tercerahkan, dengan lebih dekatnya buku-buku bisa menjadi pahala yang terus mengalir bagi penggeraknya.
Literasi di kalangan NU harus tetap tercerahkan, sebab bukan sekadar urusan duniawi, melainkan hadir sebagai bagian dari ibadah jihad dalam peradaban. NU dengan basis masa yang besar punya peluang emas untuk menjadikan literasi sebagai gerakan kolektif, maka sepantasnya forum itu dibentuk agar tidak tercerai-berai. Dengan begitu, kita tidak hanya menjaga warisan tradisi, tapi juga menanamkan akar peradaban melalui gerakan literasi membaca.
Biodata Penulis:
Fajar Pujianto, mantan operator di MI Ma’arif NU 2 Langgongsari, mantan ketua Forum TBM Banyumas, dan saat ini menjadi staf di UPT Perpustakaan UNU Purwokerto.



