Oleh: Nur Muhamad A.M, M.Pd
Kepala MI Walisongo Sumberarum Tempuran Magelang
Padusan merupakan suatu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat khususnya Jawa menjelang datangnya bulan Ramadan. Kata “padusan” berasal dari bahasa Jawa, yaitu “adus,” yang artinya mandi. Tradisi ini merupakan kegiatan mandi atau berendam di sumber mata air, sungai, atau tempat-tempat khusus lainnya dengan tujuan membersihkan diri, baik secara fisik maupun spiritual, sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
Tradisi padusan memiliki akar yang kuat dalam budaya dan kepercayaan masyarakat Jawa. Konsep membersihkan diri sebelum menjalankan ibadah puasa sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya kebersihan lahir dan batin. Selain itu, padusan juga dianggap sebagai bentuk penyucian diri dari dosa-dosa sebelum memasuki bulan Ramadan yang penuh berkah.
- Iklan -
Menurut sejarah, tradisi padusan sudah ada sebelum agama islam masuk ke Jawa, tepatnya sejak zaman Kerajaan Majapahit dan diperkuat oleh Walisongo yang mengenalkannya melalui pendekatan budaya. Walisongo mengadopsi dan mengadaptasi kebiasaan mandi dalam tradisi Hindu-Budha ke dalam nilai-nilai Islam, sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat Jawa.
Walisongo yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di Jawa, memperathankan dan melestarikan serta mengenalkan padusan sebagai waktu yang tepat untuk berintrospeksi diri, merenungkan makna kehidupan, dan menenangkan jiwa
Padusan biasanya dilakukan di tempat-tempat tertentu seperti sumber mata air alami, sungai dan danau, dan pemandian umum.
Dalam pelaksanaannya, sebagian masyarakat melaksanakan padusan dengan berendam secara sederhana, sementara yang lain menjalankan ritual dengan doa-doa khusus atau membaca ayat suci Al-Qur’an. Beberapa daerah juga mengadakan acara padusan secara massal, yang menjadi daya tarik wisata religi.
Padusan di Era Modern
Seiring perkembangan zaman, tradisi padusan mengalami perubahan. Di beberapa daerah, acara ini berkembang menjadi ajang wisata budaya yang menarik minat pengunjung atau wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Namun, esensi dari padusan tetap dipertahankan, yaitu sebagai bentuk persiapan diri sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Misalnya padusan di Kali Asin (Ngasinan) Sumberarum Tempuran Magelang yang selalu ramai dipadati pengunjung dari berbagai daerah bahkan pada saat Pemerintah melalui Menteri Agama RI menetapkan 1 Ramadan jatuh pada hari Sabtu 1 Maret 2025 para pengunjung semakin banyak yang berdatangan hingga Sabtu dinihari.
Di tempat ini terdapat tuk atau sumber mata air panas alami peninggalan kolonial Belanda yang masih berfungsi dan bisa digunakan padusan juga untuk mengobati gatal-gatal. Di samping itu terdapat 7 pemandian umum atau kolam air hangat untuk kungkum dan terapi yang jaraknya berdekatan antara satu dengan lainnya. Para pengunjung bebas memilih pemandian air hangat sesuai keinginan masing-masing dengan biaya masuk terjangkau mulai anak-anak hingga lansia.
Meski tidak wajib, padusan tetap menjadi salah satu bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai tradisi dan agama. Bagi masyarakat Jawa, tradisi ini bukan sekadar mandi, tetapi juga simbol kesiapan lahir dan batin dalam menyambut bulan suci Ramadan yang penuh berkah dengan hati yang bersih dan niat yang tulus.
Padusan merupakan tradisi yang kaya akan makna spiritual dan budaya, mengajarkan pentingnya kebersihan serta kesiapan menyambut bulan suci Ramadan. Dengan tetap melestarikan tradisi ini, masyarakat tidak hanya menjaga warisan leluhur tetapi juga memperkuat nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
Pada Ramadan ini, MI Walisongo Sumberarum melakukan kunjungan ke salah satu pemandian air hangat dengan fasilitas wahana terbesar di Ngasinan Sumberarum Tempuran Magelang yang berjarak 1 Km dari madrasah. Hal ini menjadi bagian penting untuk menjaga tradisi.