Oleh Fajrul Alam
Membaca merupakan kegiatan yang belum tentu orang kebanyakan bisa berlama-lama dan tenggelam dalam kenikmatan membaca. Dalam buku Bukan Buku Agama Bukan Resep Masakan karya Kang Maman, disebutkan bahwa “Indonesia adalah negara literatif kedua dari bawah, 60 dari 61, dan hanya setingkat di atas Botswana.” Hal ini menunjukkan bahwa bangsa kita belum memiliki nilai positif dalam kegiatan literasi yang secara sederhananya saja diartikan dengan baca-tulis. Jika masih ingin disederhanakan lagi, yaitu kegiatan membaca. Coba kita perhatikan saja di lingkungan sekitar kita. Di mana kita berada dan tinggal. Bisa diprediksi dengan presisi atau minimal hampir sesuai prediksi, bahwa lingkungan sekitar kita lebih banyak yang hanya tenggelam dalam sebilah gawai dengan bersosial media, bermain game online, berselancar riang di Instagram, dan joget-joget ala Tiktok ketimbang hanyut dalam samudra kata, kalimat, paragraf, dan bab yang terkandung dalam buku, majalah, e-book, artikel, koran, dan media-media membaca lainnya.
Meski demikian adanya, ada juga kok di luaran sana yang tetap berprinsip dan mengedepankan kerja literasi (baca-tulis). Sekalipun keadaan yang sedang mengungkungnya tidak sedemikian mudah sebagaimana keadaan-keadaan orang kebanyakan. Keadaan yang cukup terbilang terbatas, penuh dengan kesederhanaan atau bahkan kekurangan. Hal ini, saya dapati dengan tidak sengaja. Suatu kejadian yang saya tidak sangka-sangka. Sebuah fenomena yang tergolong tiba-tiba. Hanya beberapa menit, tak lebih dari lima sampai sepuluh menitan. Sesingkat mata menatap baliho atau plang di pinggir jalan. Akan tetapi peristiwa ini tak hanya saya rekam dengan kedua mata saya, melainkan dengan hening mata hati. Sehingga tragedi ini terkenang panjang dan perlu saya tuliskan agar menjadi abadi. Jauh di kemudian hari.
Sewaktu mengendarai sepeda motor saat perjalanan pulang dari Yogyakarta, saya mendapatkan sebuah tamparan keras dari suatu fenomena yang secara tidak sengaja terekam oleh kedua mata saya. Sebuah fenomena yang membuat saya terperanjat, tercengang, dan tersentak serta terhentak. Membuat saya menengok diri saya sendiri untuk instropeksi, refleksi, dan evaluasi. Sekalipun fenomena ini terkesan kecil dan mungkin biasa saja. Namun, suatu kejadian yang meski kecil dan sederhana akan tampak besar dan istimewa, ketika kita dapat menemukan bunga hikmah yang terkandung di dalamnya. Masing-masing manusia sekalipun melangsungkan perjalanan bersama-sama, sejatinya perjalanan itu berbeda dan tak mungkin sama antara manusia satu dengan yang lainnya. Mereka punya versinya sendiri-sendiri dalam memaknai perjalanan dan menuai hikmah yang seringnya tersaji secara implisit dan subtil.
- Iklan -
Pada pagi yang cerah. Di saat mengemudi sepeda motor, saya secara tiba-tiba melihat seseorang pemuda yang berbadan kurus, menggunakan jaket serupa tukang parkir. Kurang lebih berusia 30-40 tahunan dan sedang berdiri di bahu jalan, di atas trotoar. Dengan menggunakan pakaian yang kumal. Di tangannya digenggamnya selembar surat kabar. Fokus dan khusuk dalam membaca kata demi kata serta kalimat demi kalimat yang tersaji dalam koran tersebut. Ia seolah-olah mengabaikan segala yang ada di sekelilingnya dan memilih fokus dengan bacaannya.
Saya yang menatap sekilas dari atas motor, hanya bisa tertegun dan terkagum. Tersebab, melihat semangatnya dalam mencari informasi dan menambah wawasan sekaligus pengetahuan, yang dalam hal ini dengan cara membaca koran atau surat kabar. Terlebih dirinya hidup di tengah hiruk-pikuknya kota Yogyakarta yang penduduknya serba bergerak cepat dan tergesa-gesa dalam mencari kehidupan dunia, mengumpulkan pundi-pundi rupiah, dan saling berlomba-lomba meraup kekayaan dunia. Kota yang bising dan seakan-akan selalu menyajikan gemerlap dunia, dunia, dan dunia.
Meski saya merekam fenomena ini dengan sesingkat tatapan mata. Akan tetapi, potret kejadian ini masih tampak jelas dalam ingatan. Selepas persinggungan saya dengan pembaca koran di atas trotoar jalan, saya mencoba merefleksikan kejadian ini selama di atas kendaraan. Lebih tepatnya merenungi apa yang Tuhan hendak sampaikan dari suatu potret kehidupan, yang dalam hal ini seorang pria dengan koran di tangannya. Saya hanya bisa menerka-nerka maksud Tuhan dan mencoba memetik sekuntum hikmah di balik fenomena tersebut. Sebenarnya apa yang ingin Tuhan ajarkan kepada saya dengan kejadian demikian?
Akhirnya saya berpikiran untuk terus merenungi dan memaknai fenomena yang ditampilkan Tuhan kepada saya, seorang. Dari perenungan dan pemaknaan saya atas kejadian ini, saya menarik kesimpulan bahwa “Ada loh, sebagian dari kita. Di luar sana. Yang memiliki semangat membaca dan gairah untuk terus belajar. Sekalipun ada keterbatasan yang mengekangnya. Sementara kita, khususnya saya, yang akses dan fasilitas membaca sangat berserekan dan cukup memadai. Mengapa masih saja, bermalas-malasan dan fobia dengan ritual membaca. Atau dengan bahasa yang lebih halusnya, kurang bergairah dalam membaca serta melek berita.”
Bukannya kita berada di titik, di mana akses bacaan untuk pengetahuan dan fasilitas membaca sangatlah cukup berhamburan-berserakan? Tapi mengapa, kita kurang menyadari dan menyukuri hal ini. Adalah PR kita bersama, untuk terus menumbuh-kembangkan sekaligus melestarikan aktivitas membaca. Bahan bacaan sangatlah mewabah. Media membaca pun juga merebah. Akses dan fasilitas membaca juga melimpah ruah. Tinggal kita yang harus terus memotivasi diri sendiri untuk terus membaca, syukur-syukur berkarya. Memang membaca bukanlah tujuan akhir. Membaca barulah sebuah titik untuk bertolak ke arah yang lebih baik. Sebongkah batu loncatan yang diperlukan untuk melompat dari kegelapan menuju cahaya. Kegiatan membaca harus terus diupayakan dan dilanggengkan, karena hal ini yang membuat sesorang terus berpikir dan mengada. Ada sebuah ujar-ujar yang berbunyi, “Anda akan berhenti berpikir selama anda berhenti membaca.” Saudara jauh saya, Voltaire, mengungkapkan, “Makin aku banyak membaca, makin aku banyak berpikir; makin aku banyak belajar, makin aku sadar bahwa aku tak mengetahui apa pun.”
Lebih-lebih di era digital seperti ini. Bahan bacaan, seumpama buku-buku sudah banyak sekali buku cetak yang diadaptasi menjadi e-book. Di mana semua orang bisa mengaksesnya melalui telepon pintar. Aplikasi perpustakaan juga sudah banyak tersedia. Berita-berita yang disajikan dalam bentuk online pun juga sangat merebak. Mesin pencarian Google pun juga sangat mendukung dan memadai untuk menambah wawasan dan update informasi. Tinggal masing-masing dari kita mau atau tidak untuk memajukan sekaligus mengembangkan pengetahuan seraya wawasan yang kita miliki atau menambah informasi-informasi penting yang menunjang keberlangsungan kehidupan kita.
Pada intinya adalah belajar. Karena hakikat belajar adalah selama hayat masih dikandung badan. Sebagaimana sabda baginda Nabi Muhammad SAW yang terjemah bebasnya kurang lebih berbunyi, “Carilah ilmu mulai dari buaian hingga liang lahat.” Semoga senantiasa kita dapat menjaga semangat membaca dan belajar. Semua berawal dari diri kita sendiri. Dengan harapan, generasi-generasi selanjutnya, dalam hal ini anak-cucu juga bisa mencontoh para pendahulunya, yang gemar membaca dan meningkatkan literasinya. Suka ataupun tidak suka, sejatinya para penerus-penerus kita tak lain adalah mereka yang menirukan tingkah laku, kepribadian, karakter, dan kebiasaan kita saat ini. Maka jangan heran ketika nantinya anak-cucu kita tak jauh beda dengan kita sendiri. Bukannya kita acap kali mendengar, ada pepatah menyebutkan, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
– Fajrul Alam, lahir di Kebumen, Februari 2001. Kecanduan kopi dan gorengan. Saat ini seorang guru honorer dan berkegiatan di SKSP (Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban) Purwokerto. Karya-karyanya terbit di beraneka ragam koran, buku antologi puisi, majalah, dan media online. Sedang berusaha menerbitkan antologi puisi pribadinya.