ArtikelOpini

Relasi Growth Mindset dengan Ajaran Islam

Oleh Muallifah

Tidak ada yang bisa melepaskan seseorang dari masa lalu. Setiap orang hidup dengan masalalu masing-masing. Ada sebagian orang yang hidup di masa depan, dikarenakan pernah menjalani kehidupan yang lampau. Sementara kita selalu sibuk megurusi kehidupan orang lain tanpa memberi kesempatan orang lain untuk memperbaiki semuanya, termasuk kesalahan di masa lalu seseorang.

Jika saat ini kita masih memikirkan tentang kesalahan, sibuk dengan hubungan yang terdapat salah. Hingga lupa bahwa manusia bukanlah malaikat. Kesalahan yang dibuat justru menunjukkan bahwa dia hanya sebagai manusia, bukan sebagai pencipta. Fatalnya, kita mengutuk kesalahan yang dilakukan seseorang. Seseorang yang fokus terhadap kesalahan, akan menemukan circle yang sama. Hidup dalam lingkaran yang fokus terhadap peliharaan kesalahan tanpa memberikan kesempatan orang lain untuk berbenah.

Cara hidup dengan growth midset harus kita tanamkan untuk melihat segala bentuk kejadian sebagai anugerah terindah dari Tuhan. Dalam dunia bisnis, growth mindset kita pelajari pada the walt disney company bukan tanpa perjuangan yang besar, pasang surut perkembangan perusahaan tersebut tidak lepas dari perang sang pemilik perusahaan untuk terus memajukan perusahaannya.

Dalam kehidupan pribadi, mindset seperti ini akan menjadi jembatan bagi kita untuk selalu berfikir positif terhadap segala apa yang terjadi. Hari ini banyak sekali yang tidak kita sadari perihal kecil cenderung diabaikan. Kita belum selesai dengan persoalan diri sendiri sudah berani mengurus urusan orang lain, mencapuri orang lain. Padahal melatih diri sendiri untuk bersikap merdeka dengan menerima pendapat orang lain saja belum bisa.

Salah satu contoh yang bisa kita pelajari yaitu satu teman kita yang dari dulu bersama, pada masa SMP dikenal dengan anak yang bodoh, tertinggal dengan anak yang lain. Tiba-tiba setelah bertahun-tahun, ia menjelma sebagai orang yang berkembang, 180 derajat berbeda dibandingkan beberapa tahun silam. Lalu dengan santai kita melihat teman kita di masa lalu, mencaci makinya sebab kehidupan masa lalu. Bukankah dia sudah menjelma menjadi sosok yang luar biasa? Kenapa kita masih sibuk dan tidak memaafkan kesalahannya.

Apa yang terjadi pada teman kita? Hal ini diungkapkan oleh Angela Duckworth dalam buku yang berjudul “GRIT”. Menariknya, dalam buku ini anak cerdas dan memiliki kepribadian yang progresif bukan karena memiliki IQ tinggi, akan tetapi ia yang berusaha keras. Mengutip bahasa yang dikemukakan Thomas Edison “ Jenius adalah 1 % inspirasi, 99 % pekerja keras”

Lalu apa hubungannya dengan growth mindset. Susunan kata ini bisa kita maknai sebagai pola pikir yang berkembang atau ketabahan. Dalam proses perjalanan mencari ilmu, atau belajar. Seseorang yang sedang menuntut ilmu akan dihadapkan dengan lelah, bosan baca buku, malas untuk belajar, akan tetapi ketika sudah memiliki growth mindset, tidak akan mudah mengeluh dalam belajar serta percaya bahwa semakin berat tantangan yang dilakukan, hal itu merupakan salah satu syarat menuju kesuksesan. Dalam kitab Ta’limul Muta’allim karangan Syekh Az-Zarnuji disebutkan bahwa syarat untuk memperoleh ilmu ada 6, diantaranya: cerdas, semangat, sabar, bekal, petunjuk guru dan waktu yang panjang.

Dalam kehidupan pribadi, growth mindset akan menjadikan seseorang untuk tidak mudah berfikir negatif terhadap sesuatu. Sebab sudut pandang yang digunakan sudah berbeda. ketika kita dihadapkan oleh sebuah masalah, orang yang memiliki growth mindset justru menganggap sebuah masalah merupakan anugerah. Barangkali ini menjadi perantara agar kita selalu dekat dengan Allah. Sebaliknya, disisi lain ada orang yang memiliki fixed mindset menganggap segala sesuatu secara tertutup, tidak pernah membuka sudut pandang yang baru, menganggap bahwa bakat dan minat merupakan anugerah Allah yang tidak bisa dirubah. Pola pikir seperti ini memberikan dampak negatif terhadap diri sendiri beserta orang sekitar.

Hari ini banyak kejadian yang diluar dugaan kita, masalah kecil di besar-besarkan, menganggap diri paling benar disebabkan mindset yang dibangun berhenti pada titik semu. Menyalahkan hal yang berbeda dengan diri kita tanpa membuka pikiran bahwa setiap orang memiliki pendapat yang berbeda. Sebenarnya permasalahan yang kompleks pada hari ini bisa dilatih untuk diri kita sendiri agar bisa growth mindset .

-Penulis mahasiswi IAIN Madura, penulis buku “ Mahasiswa, Baper No! Produktif yes!

Tinggalkan Balasan