Cerpen

Pulang

Bagikan:

Pulang

Cerpen Risen Dhawuh Abdullah

Di dalam kamarnya yang sederhana, Sularsih tersenyum begitu percakapannya di telepon berakhir. Perempuan lima puluh delapan tahun itu lantas meletakkan hpnya di meja kamar. Kenes—anak semata wayangnya—mengabari, bahwa ia akan pulang. Kenes pulang menggunakan bus, dan jika tidak ada hambatan, ia akan sampai di Jogja besok sekitar jam enam pagi.

Sudah dua tahun Kenes menikmati hari-harinya di ibukota. Di sana ia bekerja di sebuah perusahaan sebagai akuntan. Setiap tiga bulan sekali, ia pulang menjenguk Sularsih. Pada awal saat Kenes mendapat tawaran bekerja di ibukota, sejujurnya Sularsih sangat keberatan bila melepasnya.

Sularsih tidak pernah menyangka jika ia diberi anugerah oleh Tuhan yang begitu besar; diberikan seorang anak yang cerdas, sehingga Kenes bisa merasakan pendidikan di Perguruan Tinggi tanpa mengeluarkan jutaan rupiah yang membuat sesak di dada bila yang memandang orang semacam Sularsih. Sesungguhnya Sularsih hanya seorang petani yang menggarap sawah milik orang. Sedangkan suaminya yang sudah wafat tiga tahun lalu pernah bekerja sebagai perajin batu-bata di tempat seorang juragan terkaya di desanya.

Dulu, sebelum Kenes lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas, sudah terlukis di pikirannya sebuah rencana. Setelah penyerahan siswa-siswi kepada orang tua, ia akan menghadap pada Bu Mantri, memohon padanya agar Kenes diperbolehkan menjualkan baju-baju batik miliknya. Ya, Bu Mantri adalah seorang pemilik usaha batik yang juga tinggal di desanya. Hubungan Bu Mantri dengan Sularsih sangat baik. Bu Mantri sendiri juga tampak suka dengan pribadi Kenes.

Tetapi semua berubah ketika pengumuman seleksi Perguruan Tinggi jalur beasiswa—pengumuman itu beberapa hari sebelum penyerahan kembali siswa-siswi kepada orang tua. Pipi Kenes basah oleh air mata. Begitu juga dengan Sularsih. Keduanya saling peluk. Padahal beberapa saat yang lalu, Bu Mantri ke rumah Sularsih, memberikan respon tentang permohonan Sularsih; Kenes diperbolehkan menjual baju-baju batik miliknya.

“Tetapi bagaimana dengan Bu Mantri, ya?” tiba-tiba kebahagiaan yang terpancar dari wajah Sularsih sedikit ternodai. “Bu Mantri sudah memperbolehkan. Kalau membatalkan ibu tidak enak. Kamu tahu sendiri kan, Bu Mantri itu sudah cukup banyak membantu kita.”

“Lha, ibu itu bagaimana? Ibu sudah menghadap Bu Mantri? Katanya setelah penyerahan siswa kepada orang tua? Pie to ibu ini? Nek ngeneki pie jal?”

“Ya, ibu pikir nasibmu tidak akan seperti ini. Beasiswa itu berat, saingannya banyak. Ibu punya pikiran, tidak yakin kalau kamu keterima. Yowes, nanti kita coba sowan kepada Bu Mantri. Ibu akan menjelaskan semua ini. Ya, semoga saja ia tidak kecewa,” kata Sularsih.

Bu Mantri bisa mengerti. Ia malah turut bahagia dan bangga atas prestasi yang diraih Kenes. Ia menyerahkan semuanya pada Sularsih dan Kenes.

“Kalau begitu, bagaimana kalau Kenes tetap menjualkan baju-baju batik, namun waktunya tidak setiap saat. Artinya hanya sebagai sampingan, Bu. Saya ini soalnya jadi tidak enak dengan kebaikan Bu Mantri.”

“Ya, saya boleh-boleh saja. Tetapi bagaimana dengan Kenes?” ucap Bu Mantri, tatapannya beralih ke Kenes yang duduk di samping Sularsih. “Saya tidak mau kalau ada unsur terpaksa. Harus plong, pokoknya.”

“Kenes mau kok, Bu. Kenes juga tidak enak jika membatalkan tidak jadi membantu Bu Mantri.”

Bu Mantri tersenyum. Tiba-tiba saja Bu Mantri merasa ada benda keras menghantam dadanya. Bu Mantri tidak habis pikir, Kenes selalu dapat membuatnya teringat dengan anak pertamanya yang diculik saat ia berumur tiga tahun dan ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa seminggu setelah ia diculik. Anak pertamanya seorang perempuan dan jika masih hidup ia seusia dengan Kenes.

Anak nomor dua Bu Mantri, menjadi anak satu-satunya yang dimilikinya sejak anak pertamanya ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa, berusia dua tahun lebih muda dari Kenes. Sebab pribadi Kenes yang menyenangkan, saat ia seorang diri di rumah, ia kerap berandai-andai bilamana Kenes menjadi istri anaknya. Namun ia sudah berjanji, tidak akan mengatur anaknya masalah jodoh di kelak kemudian hari. Biarkan ia menentukan sendiri, toh ia yang akan menjalani, kata Bu Mantri dalam hati.

Jam dinding di kamar Sularsih, jarum pendeknya menusuk angka delapan dan jarum panjang tertancap pada angka dua belas. Sularsih mungkin tidak akan bisa tidur malam ini. Sularsih keluar dari kamarnya, menuju kamar anaknya yang nyaris tidak pernah dipakai untuk istirahat semenjak Kenes bekerja di ibukota—saat pulang untuk menjenguk ibunya, Kenes lebih memilih untuk tidur di kamar ibunya.


Setelah mandi dan salat subuh, Sularsih tampak mondar-mandir mencari sesuatu. Kamar tidur-ruang tamu-dapur. Dompetnya ketlingsut. Wajahnya tampak begitu gelisah. Suara kokok ayam semakin menambah kekisruhannya. Ia mencoba mengingat di mana terakhir kali ia meletakkan benda yang teramat penting itu. Tetapi karena pikiran sudah kisruh, ia tidak bisa ingat. Pencarian itu baru berhenti begitu separuh tubuh matahari muncul. Ternyata dompetnya ada di ventilasi kamar mandi. Jika tidak ada acara dompet ketlingsut, ia sudah sampai di pasar.

Di pasar, Sularsih membeli bahan-bahan untuk membuat masakan kesukaan Kenes. Karena sebelum pembicaraan diakhiri semalam, Kenes sempat berkata, ia rindu masakannya dan memintanya untuk membuat makanan kesukaannya. Maka Sularsih begitu semangat.

Tetapi ketika kakinya menginjak ruang tamu hendak mengeluarkan sepeda motor bututnya, terdengar suara benda keras berbenturan. Suara itu mirip piring yang jatuh dari meja, atau gelas yang terkena ayunan kaki. Suara itu berasal dari dapur. Sularsih segera ke sana. Dan benar, di lantai dapur ada pecahan gelas. Sudah pasti, itu ulah tikus. Sularsih tidak pernah tega memberantas tikus dengan racun. Bagaimanapun buruknya seekor tikus, ia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang berhak hidup. Tikus-tikus yang berseliweran di dapur, tidak pernah mencuri makanan atau bumbu-bumbu yang ada di dapur, sebab Sularsih menyimpannya dengan rapat di tempat yang aman.

“Kenes!” Tiba-tiba saja bibirnya mengucapkan nama anaknya. Ia baru sadar akan sesuatu. Kenes belum juga menghubunginya. Tanpa memberesi pecahan gelas, Sularsih menuju tempat di mana jam dinding berada. Pukul tujuh.

Sularsih menghubungi Kenes. Telepon tidak juga diangkat. Jantung Sularsih berdegup kencang. Tiba-tiba ia begitu mengkhawatirkan Kenes. Jangan-jangan telah terjadi apa-apa, pikirnya. Yang dimaksud terjadi apa-apa adalah kecelakaan. Telepon tidak kunjung diangkat.

“Kenes? Kok tidak diangkat-angkat?” degup jantung Sularsih semakin menjadi-jadi. Ia terus berusaha menghubungi Kenes. Namun tidak ada tanggapan selain, nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi. Panik, cemas, gelisah, menjadi satu. Sularsih masih terus mencoba menghubungi.

Sularsih mencoba berpikir positif, barangkali daya baterainya habis. Namun pikiran itu tetap saja tidak dapat membuatnya tenang.

Rencana pergi ke pasar benar-benar buyar. Perasaannya benar-benar tidak karuan. Hingga pukul sembilan, tidak ada kabar dari Kenes. Teleponnya tidak diangkat. Sularsih berkaca-kaca, kemudian menangis.

Pukul sepuluh. Belum juga ada kabar. Teleponnya masih tanpa respon. Bayangan kecelakaan mengisi tempurung kepalanya. Ia membayangkan, seandainya itu benar, dan Kenes telah menghadap Yang Maha Kuasa. Sularsih sampai membayangkan sebuah ambulan memasuki halaman rumahnya. Ambulan itu ternyata membawa jasad anaknya.

“Assalamu’alaikum,” terdengar salam. Karena kecemasannya, Sularsih tidak sadar mengenai milik siapa suara itu. Ia melangkah menuju pintu depan. Gambaran kematian semakin jelas di benaknya.

“Wa’alaikumsalam,” Sularsih membuka pintu. Sularsih langsung dipeluk begitu pintu terbuka. Untuk beberapa detik mereka menikmati pelukan itu. Tangis kebahagiaan pecah.

“Kenes?”

“Ibu?”

“Kenapa telepon ibu tidak diangkat? Kenapa tidak mengabari ibu kalau sampai rumah tidak tepat waktu? Ibu khawatir sekali, dan sampai berpikiran yang tidak-tidak.”

Kenes malah tersenyum. Ia tidak merespon kata-kata ibunya. Ia tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada saat perjalanan pulang. Hpnya kehabisan baterai. Tetapi ada yang lebih pelik dari itu. Hpnya kini telah berada di genggaman orang lain. Hpnya telah dicopet pada saat ia berada di dalam bus.

Jejak Imaji, 2018-2020


Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan